-->

Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat


Oleh : Puji Untary

Amerika Serikat sebagai negara adidaya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai bidang. Sebagai negara penganut sistem kapitalisme, AS telah mencengkeram dunia sehingga negara-negara di dunia tunduk di bawah kendalinya. Ideologi kapitalisme terus menjajah umat Islam. Hal ini menjadikan umat semakin hari semakin lemah, menderita, dan jauh dari agamanya.

Kebijakan dan tindakan AS telah memicu terjadinya bencana ekologis terhadap dunia. AS adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar secara historis. Hal ini menimbulkan dampak global, yaitu perubahan iklim, cuaca ekstrem, mencairnya es kutub, serta naiknya permukaan laut yang merugikan negara-negara miskin dan kepulauan.

Perusahaan-perusahaan AS mengeksploitasi minyak dan gas di berbagai negara (Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika). Akibatnya terjadi pencemaran tanah dan air, kerusakan ekosistem, serta konflik lingkungan. AS juga melakukan uji coba nuklir (misalnya di Pasifik) dan penggunaan senjata pemusnah massal (Hiroshima–Nagasaki). Generasi terdampak hingga puluhan tahun akibat radiasi jangka panjang yang ditimbulkannya.

Perusahaan-perusahaan multinasional AS juga telah memindahkan industri kotor ke negara berkembang. Akhirnya terjadilah pencemaran sungai, tanah, dan udara di negara-negara yang ditargetkannya. AS bahkan mempromosikan pertanian berbasis korporasi, pestisida, dan benih GMO. Hal ini berdampak pada rusaknya kesuburan tanah, ketergantungan petani, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Ditambah lagi dampak dari perang dan intervensi militer terhadap negara-negara di dunia, termasuk Venezuela.

Ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam, baik dalam hal akidah, muamalah, akhlak, ekonomi, politik, sosial budaya, maupun pendidikan.

AS menggunakan berbagai cara, termasuk melakukan aneksasi ke negara lain demi menguasai sumber daya alam mereka tanpa memedulikan tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia.

AS sebagai pelopor kapitalisme global mendorong eksploitasi alam tanpa batas. Alam diperlakukan sebagai komoditas, bukan amanah. Kerusakan ekologis dunia bukan sekadar bencana alam, melainkan hasil dari sistem kapitalisme global yang dipimpin AS, yang mengorbankan lingkungan demi keuntungan ekonomi dan dominasi politik.

Dalam Islam, alam dipandang sebagai titipan Allah, bukan barang dagangan. Negara wajib menjaga lingkungan, bukan menyerahkannya kepada korporasi.
“Dialah yang menjadikan kamu khalifah di bumi …”
(QS. Al-An‘am: 165)
Sumber daya alam strategis (minyak, gas, hutan, dan tambang) adalah milik umum. Dilarang diprivatisasi atau dikuasai asing. Negara mengelolanya secara langsung untuk kemaslahatan rakyat. Islam pun melarang adanya eksploitasi yang merusak.

Aktivitas yang merusak ekosistem diharamkan, meskipun menguntungkan. Negara menutup tambang, industri, atau proyek yang merusak lingkungan, sebagaimana Allah telah berfirman:

“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi …”
(QS. Al-Baqarah: 60)
Dalam Islam, perusakan lingkungan diperlakukan sebagai kejahatan publik. Pelakunya, baik individu maupun pejabat, harus dikenai sanksi tegas (ta‘zīr).
Dalam Islam, sistem produksi dan pertanian tidak berbasis kerakusan produksi, melainkan kecukupan dan keberlanjutan, serta melarang adanya zat berbahaya yang merusak tanah dan air. Negara menjamin kesejahteraan petani tanpa eksploitasi alam.

Perang merupakan salah satu penyumbang kerusakan lingkungan terbesar. Khilafah tidak membangun kekuasaan dengan perang eksploitasi, tetapi menghapus dominasi global yang menghancurkan ekologi negara lain.
Umat pun dididik bahwa menjaga alam adalah ibadah. Kesadaran ekologis bukan sekadar etika, tetapi tanggung jawab syar‘i.

Islam memandang kapitalisme sebagai sistem yang tidak netral, zalim, dan merusak tatanan masyarakat karena dibangun di atas asas yang bertentangan dengan syariat. Dalam Islam, kekayaan tidak boleh beredar di kalangan orang kaya saja. Islam memandang krisis ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan akibat sistem yang rusak pada akarnya. Inilah yang disebut sebagai hegemoni kapitalisme global.

Kini sudah saatnya umat bangkit dari keterpurukan dengan menerapkan kembali hukum yang berasal dari Sang Pemilik dunia, yaitu Allah SWT. Hanya sistem Islam yang menjadi modal kebangkitan dengan tegaknya kepemimpinan Islam untuk melawan hegemoni AS. Kepemimpinan Islam adalah satu-satunya harapan yang dapat mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat. Khilafah Islam tidak hanya melindungi seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, serta berbagai kerusakan dan bencana.

Krisis ekologis tidak dapat diselesaikan dengan sistem yang melahirkannya, yaitu kapitalisme. Solusinya adalah sistem yang menjadikan manusia sebagai khalifah penjaga bumi, yakni Khilafah Islamiyah.
Wallāhu a‘lam.