PENCULIKAN ANAK MARAK, BUKTI NEGARA KAPITALIS RUSAK
Oleh : Siti Khairunnisa
Kasus penculikan anak BR yang tengah ramai dibicarakan karena perpindahan dari Makassar hingga ke pedalaman Jambi menunjukkan kelompok rentan, seperti anak hingga masyarakat adat, selalu rawan menjadi korban eksploitasi. Situasi mereka yang rentan acap kali dimanfaatkan.
Di sisi lain, penelusuran pada pelaku utama dalam perkara semacam ini kerap mandek. Sementara itu, perlindungan dan pemenuhan hak bagi kelompok rentan, seperti masyarakat adat dan anak, sangat minim sehingga membuka peluang menjadi korban berulang.Begendang, salah-seorang anggota Orang Rimba di pedalaman Jambi, menjadi tempat terakhir dari BR setelah tiga kali berpindah tangan dari Makassar hingga Jambi.
Polisi sempat menyebut proses negosiasi sangat alot, bahkan menuding masyarakat adat enggan melepas hingga disepakati penukaran dengan sebuah mobil oleh pelaku. Media sosial pun riuh dan berujung stigma pada masyarakat adat.(www.bbc.com 15/11/2025).
Melihat, fakta penculikan anak yang marak terjadi ini menjadi bukti lengahnya keamanan negara dalam menjamin kemanan bagi anak di ruang publik. Bukan sekedar itu, tetapi juga menjadi bukti nyata lemahnya hukum yang berlaku di indonesia dalam menghentikan penculikan anak diruang publik. Sehingga, berbagai kejahatan masih marak terjadi. Lalu apa peran negara sebenarnya?
Ketika kita mendapati banyak sekali masalah yang terjadi bukan hanya penculikan anak, pembegalan, bahkan pemerkosaan yang marak. Nyatanya, semua itu menjadi kekhawatiran pribadi. Bagaimana negara dapat membuat kita masyarakatnya tenang, jika masalah demi masalah yang terjadi hanya dibebankan oleh pribadi sebagai kehati-hatian berjaga diri.
Sejatinya, kita membutuhkan peran yang lebih besar yang mampu memberikan jaminan keamanan. Nyata, sistem kapitalisme yang berdiri membuat kita tidak dapat berfikir sesuai nalar akal bahkan dapat menghilangkan rasa kemanusiaan pada setiap individu. apabila terjadi penculikan tidak ada yang berani untuk membantu karena takut menjadi pihak tertuduh.
Sistem kapitalisme yang berlandaskan materi seolah akan membiarkan masalah terjadi asal ada keuntungan materi didalamnya.
Kekurangan dan kerugian yang didapatkan dari berdirinya suatu negara dalam naungan sistem yang rusak yaitu sistem kapitalisme telah nyata didepan mata. Bahkan, orang yang tidak melihat berita di televisipun dapat merasakannya. Karena disetiap daerah, disetiap negara terlihat jelas kerusakannya. Hal uniknya adalah yang sempurna bukan peraturannya yang sempurna bukan keamanannya tetapi yang sempurna adalah kerusakannya dan masalahnya.
Berbanding terbalik, dengan sistem islam yang Allah turunkan kepada manusia. Karena mamang hukum yang Allah turunkan nyata menjadi rahmat bagi semesta alam. Sedangkan, sistem selain islam adalah sistem yang memberikan kerusakan bagi semesta alam, dan terbukti dengan melihat kondisi saat ini. Didalam islam kasus penculikan ini tidak hanya sekedar menjadi pemberitaan yang beredar tetapi diberikan sanksi tegas untuk setiap pelanggaran hukum syara’ yang terjadi.
Didalam islam aturan itu akan menjadi solusi yang paling konkret diberikan. Karena, aturan bukan dari nafsu manusia tetapi langsung dari penciptanya manusia. Sehingga, proporsinya sesuai dengan kebutuhan manusia. Bukan, malah aturan baru menciptakan masalah baru.
Jujur, kita pasti rindu akan naungan yang mampu memberikan keamanan. Ingin hidup tenang dalam penjagaan. Tetapi, tenang. Itu akan kita dapatkan jikalau kita dalam naungan islam. Ini bukan janji manis ini janji dari sang pencipta. Bagaimana mungkin kita tidak percaya? Kenapa seolah mustahil, karena selama ini kita bukan hidup seperti yang diaturkan sang pencipta. Sehingga, kita terbiasa dalam angan-angan yang membuat luka.
Maka, mari kita berjuang untuk hidup dalam nanugan islam yaitu dalam naungan daulah. Karena, daulah akan bertanggung jawab bukan sekedar memberikan keamanan tetapi juga membentuk masyarakatnya menjadi masyarakat yang bertakwa dan terjamin kesejahteraanya. Jika tidak percaya kenapa tidak ikut memperjuangkannya? Bukankah disistem kapitalisme ini, kita pun sudah berjuang percaya tapi menjadi luka? kenapa tidak pergi dan hidup dalam naungan yang lebih nyata kesejahteraannya.
Wallahu a’lam bi shawab

Posting Komentar