-->

Board of Peace, Stratergi Amerika Habisi Palestina

Oleh : Arifah Azkia N.H., S.E.

Istilah Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian merupakan sebuah organisasi yang dibentuk oleh negara adidaya Amerika Serikat (AS) dengan menggandeng berbagai negara untuk bergabung di dalamnya. Menamakan diri sebagai kelompok orang-orang yang seolah menjadi super hero atas kondisi problematika yang terjadi di Gaza Palestina dengan menawarkan bergabungnya ke BoP sebagai solusi perdamaian Gaza. 

Padahal jika kita lihat faktanya, Gencatan Senjata dan BoP hanyalah upaya sandiwara AS-Israel untuk melanggengkan penjajahan di Palestina. Tapi dunia terlalu naif, mudah percaya dengan janji-janji adanya gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Padahal yang terjadi justru Israel berulang kali dengan sadar dan sengaja melanggar perjanjian. Mirisnya pula, tidak sedikit penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk bersatu melawan negara penjajah sekelas AS-Israel, Bahkan mereka malah rela bergabung dalam BoP, tidak terkecuali Prabowo Subianto sebagai presiden Indonesia dan membawa nama Indonesia untuk tergabung menjadi bagian dari proyek Zionis yang ia kemukanan saat kunjungannya di Davos, Swiss, 22/01/2026. Keputusan yang sangat miris tanpa adanya kompromi dengan masyarakat. 

Sesungguhnya BoP dibentuk bukanlah untuk perdamaian Palestina, hal ini jelas nyata terlihat karna Palestina tidak dilibatkan di dalamnya. Alih-alih untuk mendamaikan, tujuan sebenarnya adalah untuk kepentingan urusan ekonomi dan geopolitik AS. Trump ingin mengusir penduduk Gaza dan membangun Gaza baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata hiburan, pantai, menara apartemen, bandara dan pelabuhan. Sehingga negara yang tergabung di dalam BoP harus pula membayar 17 Triliun untuk menjadi anggota tetap dan membangun wisata di new Gaza.

Mereka ingin mengganti tanah suci tanah para Nabi ini menjadi tanah yang penuh kesenangan duniawi semata, diisi dengan aktivitas gegap gempita dengan perlindungan HAM (hak asasi manusia) yang mengekalkan kebebasan. Sehingga masyarakat Palestina bisa dikendalikan dibawah aturan AS dan sekutunya. 

Adapun 20 point yang dijanjikan di dalam BoP diantaranya adalah Gaza akan menjadi zona bebas teror dan harus dibangun Gaza Baru untuk membangkitkan kembali kondisi Gaza. Hal ini secara otomatis masyarakat Palestina harus bekerja di dalam pusaran perekonomian dan tekanan para elit global. Dan memang hal inilah ambisi yang ingin diwujudkan oleh Amerika untuk menjauhkan kaum muslim dari agamanya dan menyibukkan dengan urusan duniawi ketika new Gaza berdiri. Sehingga kaum muslim lupa akan jati dirinya dan tujuannya untuk _istina' fil hayatil islam_ (mengembalikan kehidupan Islam) dan ideologi kapitalis semakin kekal , yang kemudian  kaum muslim akan terus menerus menderita dibawah cengkraman sistem Kapitalis. 

Sungguh, menjadi sejarah yang sangat ironis jika Indonesia malah menjadi bagian dari _war crime_ (kejahatan perang) yang sengaja dirancang  AS-Israel untuk menghabisi Palestina. 

Sejatinya Palestina sangat tidak butuh adanya BoP maupun rencana AS lainnya. Yang Palestina butuhkan adalah pembebasan dari pendudukan penjajah Zionis laknatullah. Perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis hengkang dari wilayah Palestina. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal ini adalah adanya jihad dan Khilafah. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mampu mengomando gerakan jihad akbar menyatukan seluruh kekuatan Islam untuk membebaskan Palestina sehingga menjadi kekuatan utuh dalam lindungan daulah, sebagaimana pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab dan Salahuddin al-ayyubi. 

Maka dari itu, kita sebagai kaum Muslim di seluruh dunia harus bersatu dan terus berdakwah menyerukan Islam, bukan malah bersatu dengan negara kafir Barat. Bersatunya kaum Muslim di seluruh dunia akan memudahkan Khilafah Islamiah tegak di muka bumi ini. Dengan begitu, Palestina akan terbebas dari penjajahan Zionis. Karna sejatinya tanah Palestina adalah tanah umat Islam dan dengan adanya sosok Khalifah sebagai pemimpin ummat, maka tidak akan pernah jatuh sejengkalpun masjid suci ditangan Zionis laknatullah. Sebagaimana pernyataan Sultan Abdul Hamid II, penguasa Kekhilafahan Utsmaniyah yang dikenal luas karena penolakannya yang tegas terhadap upaya Zionis untuk membeli dan menguasai Palestina. Ia menolak keras berbagai tawaran suap dan tekanan diplomatik dari Theodor Herzl. Yang di dalam kutipannya menegaskan bahwa "tak akan kubiarkan siapapun merampas tanah kaum Muslimin! Al-Aqsha harus tetap milik umat muslim! Jika kalian (Zionis) menawarkan uang setara berat bumi dengan emas pun, aku tidak akan menerimanya. Palestina bukan tanah untuk dibagi dan diperjualbelikan."

Wallahu a'lam bissowab