Mental Anak Kita vs Mental Anak Gaza, Apa Bedanya?
Oleh : Rahmawati Ayu Kartini (Pemerhati Sosial)
Kejadian perundungan di kalangan remaja kita di tanah air, menyentak kesadaran kita. Sekolah yang mestinya menjadi tempat untuk mendapatkan ilmu, justru menjadi tempat pelemahan mental anak.
Bagaimana tidak, jika sekolah lebih fokus pada pembentukan prestasi anak daripada kesehatan mentalnya.
Publik dikejutkan dengan ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta ketika sholat Jum'at, yang pelakunya diduga siswa. Kabarnya aksinya ini dipicu karena kejadian perundungan yang diperolehnya.
Empat hari sebelumnya NCA (13 tahun), siswa sekolah terpadu di SD Pahoa tewas terjatuh dari lantai 8 sekolahnya di Gading Serpong Tangerang.
Kejadian yang hampir bersamaan, menunjukkan alarm keras dalam dunia pendidikan bahwa jangan mengabaikan kesehatan mental anak-anak kita. Bagaimana generasi Indonesia Emas dapat terwujud, jika anak kelihatannya berprestasi namun rapuh mentalnya?
Mental Tangguh Anak Gaza
Di sisi lain, kita melihat fakta yang berbeda dari daratan Gaza Palestina. Wilayah umat Islam yang dibumi hanguskan oleh tentara durjana Israel ini, justru sangat jarang kita temukan anak-anak dan remaja dengan mental rapuh.
Kondisi yang berat justru membentuk mental mereka tangguh sekeras baja. Bahkan ketika ditanya kepada mereka, "Apakah kamu takut dengan bom Israel?" Jawaban mereka sungguh mengagumkan: "Aku hanya takut kepada Allah!"
Kekuatan iman dan takwa kepada Allah, membuat segala persoalan dunia ini menjadi bukan persoalan besar untuk mereka. Walaupun tetap ada rasa takut atau sedih, namun itu tidak berlangsung lama. Karena kekuatan keyakinan untuk bertemu kembali dengan Allah, masuk ke dalam surgaNya, menjadi pendorong terbesar mereka untuk tetap bertahan dan terus bersabar.
Mengapa mental mereka bisa setangguh ini? Peran orang tua, keluarga dan guru sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai keimanan melalui Al-Qur'an.
Anak-anak Gaza terbiasa berinteraksi dengan Al Qur'an sehari-hari. Membaca, menghafalkan, dan mengamalkannya.
Inilah yang belum dipunyai oleh anak-anak kita disini! Anak-anak kita justru seharian interaksi dengan hp atau game-game yang banyak mengajarkan kekerasan. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak bisa membaca Al Qur'an, apalagi menghafalkan dan mengamalkannya..?
Pendidikan Agama Dibutuhkan anak-anak kita
Sebagai renungan, sekolah di negeri ini sudah lama menerapkan sistem kapitalisme sekuleris, seharusnya menjadi evaluasi bagi kita semua. Bukannya menghasilkan generasi penerus yang kuat dan tangguh, justru membuat anak menjadi rapuh.
Tidak cukup hanya dengan guru BK mumpuni, jika tidak ditunjang dengan pendidikan agama yang mampu menanamkan keimanan dan ketakwaan. Karena mental anak dari dalam diri mereka lebih penting daripada motivasi dari luar.
Anak-anak kita perlu didekatkan dengan Al Qur'an, menghafal dan mengamalkannya.
Lingkungan Sosial yang Sehat
Bullying tumbuh subur karena lingkungan sosial yang tidak sehat. Orang tua yang sibuk, kurang fokus mendidik anak-anaknya. Akibatnya anak mencari pelarian dari luar rumah.
Sayangnya karena sekulerisme yang diterapkan di negeri ini, membuat lingkungan di sekitar kita saat ini bersifat toxic. Regulasi pun tidak menyelamatkan mereka.
Bullying sering dinormalisasi. Korban dianggap lemah atau kurang pergaulan. Sekolah pun kadang menutupi kasus untuk menjaga citra. Tidak ada sanksi tegas kepada pelaku, apalagi yang dianggap masih berumur anak-anak (jika usia pelaku 18 tahun kebawah).
Solusinya, pertama: Keluarga sebagai madrasah pertama. Dalam Islam, orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Bukan hanya pemberi nafkah, mereka juga sebagai pendidik, pengarah, dan benteng pertahanan bagi anak-anaknya. Sebagaimana ayat berikut ini:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari azab neraka.." (QS. At Tahrim: 6)
Kedua: Sekolah sebagai tempat pembentukan kepribadian Islam. Bukan sekedar transfer ilmu, tujuan utama pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam yang taat dan berakhlak mulia.
Guru bukan hanya pendidik, tapi juga teladan. Mereka mengawasi pergaulan siswa dengan kasih sayang dan bertanggung jawab.
Ketiga: Negara melindungi anak dengan hukum syariah. Islam mewajibkan negara melindungi anak dari ragam kedzaliman. Allah berfirman:
"Janganlah kalian membunuh jiwa yang telah Allah haramkan (untuk dibunuh)." (QS. Al Isra': 33)
Jika korban bullying sampai luka berat atau meninggal, pelaku bisa dikenai hukum qishaash (hukuman setimpal).
Memang kita tidak mengharapkan anak-anak kita mengalami seperti apa yang dialami anak-anak Gaza. Karena mereka mengalami ujian dan tantangan luar biasa, yang belum tentu sanggup dihadapi yang lainnya.
Tapi respon mereka dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya, dapat dijadikan sebagai bahan renungan kita. Jika menyangkut ujian nyawa saja mereka begitu teguh, mestinya anak-anak kita lebih kuat lagi.
Namun kenyataannya, hanya karena ejekan remeh saja, seperti miskin, pendek, lemah, dll mereka menjadi begitu terpukul.
Ini akibat kita hidup dalam sistem kapitalisme sekuler yang menuhankan kebebasan dan materi tanpa batas.
Marilah tawakal kepada Allah dan menerapkan hukum-hukumNya, agar anak-anak kita menjadi sekuat mental anak-anak Gaza.
Wallahu a'lam bishowab.

Posting Komentar