Jangan Lupakan, Sudan Butuh Khilafah
Oleh Ummu Ghoza
Penamabda.com-Sudan kian menyayat hati. Kini media sosial sedang ramai seruan bertajuk "All Eyes on Sudan". Aksi ini menjadi salah satu bentuk simpati masyarakat dunia atas krisis kemanusiaan Sudan nomer satu di dunia. PBB menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia. (bbc.com, 11/11/2025)
Konflik Sudan sudah terjadi sejak lama, namun belakangan ini mencuat karena genosida yang dahsyat. Awal mulanya dari sejarah panjang kolonialisme Inggris di Sudan pada 1899. Inggris menguasai jalur perdagangan Mesir dan Sungai Nil untuk akses ke India dan Afrika Selatan. Pasukan Inggris–Mesir merebut Khartoum pada 1898. Alhasil Mesir ikut memerintah, tetapi dibawah kendali Inggris.
Melalui kebijakan Southern Policy, Inggris membagi Sudan menjadi Utara dan Selatan. Di Utara, diberdayakan komunitas “Arab”, sedangkan para misionaris Kristen berada di Selatan. Sudan mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1956 sehingga pengaruh Inggris melemah. Hal ini terjadi karena PBB meminta negara-negara Eropa agar negara jajahannya merdeka. Sehingga AS bisa menyingkirkan Inggris dan menguasai Sudan.
Berbagai macam cara licik AS lakukan untuk kepentingannya, salah satunya Proyek Timur Tengah Baru. Yakni dengan norrmalisasi Sudan dengan entitas Zionis. Sehingga sekutu-sekutunya mendapatkan sumber daya yang strategis. Selain itu juga membuat lemah kekuatan Islam di kawasan.
Walaupun sudah merdeka, politik dan budaya Sudan masih dalam jeratan kolonialisme barat. Serangkaian kudeta militer di Sudan juga atas perintah AS. Seperti mendukung Jaffar Nimeiri (1969–1985) dengan sekutu Washington. Korporasi asing juga mengeksploitasi minyak dan emas Sudan. Akhirnya AS berhasil berhasil memisahkan Sudan Selatan pada 2011 karena adu domba yang mengakibatkan perpecahan etnis dan agama. Sedangkan Inggris tetap bersaing memperebutkannya sehingga Sudan menjadi medan tempur.
Penjajahan Inggris di Sudan dengan kebijakannya memicu konflik ketimpangan politik dan ekonomi, kesenjangan Sudan Utara dan Selatan. Dampaknya ada perang saudara pertama antara Sudan Utara dan Selatan pada 1955-1972. Perang terus berlangsung dari kudeta ke kudeta. Pada1983 terjadi perang saudara kedua karena Presiden Nimerik membatalkan otonomi Sudan Selatan.
Pada 1989, Omar Al bashir ambil kekuasaan dengan kudeta. Kekuasaannya mencapai 30 tahun. Pemerintahannya membantai rakyat sehingga pada 2003 terjadi pecah konflik di Darfur. Pada 2011, referendum Sudan selatan merdeka. Namun pada 2019, rakyat protes dengan melengserkan Omar Bashir sehingga dibentuk pemerintah sipil militer dibawah kepemimpinan Handuk. Tetapi pada 2021, Burhan gulingkan transisi jadi kembali ke pemerintahan militer.
Pada 2023, pecah perang RSF (milisi cepat) dipimpin jendral Hemediti dan SAF (militer sudan) dibawah pimpinan Al Burhan. Konflik meluas ke Darfur. Sewaktu genosida di Elfasher inilah terjadi krisis kemanusiaan global. Konflik Sudan banyak melibatkan berbagai negara, diantaranya Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Mesir, Rusia, dan terakhir pastinya Amerika Serikat.
Penyebab terlibatnya banyak negara di Sudan di antaranya geopolitik Sudan yang strategis di jantung perdagangan dunia. Terletak di Afrika timur, berbatasan dengan 7 negara. Dengan mudahnya akses ke laut merah sehingga termasuk jalur penting perdagangan global dan militer. Dekatnya dengan terusan suez, memberikan keuntungan dalam perdagangan. Beruntungnya lagi posisi yang strategis menjadi pintu gerbang Afrika dan Samudera Hindia. Pertanian bagus karena dekat Sungai Nil bisa jadi lumbung pangan besar.
Sudan juga kaya dengan getah akasia yang berfungsi sebagai bahan industri makanan dan farmasi. Emas dan sumber energinya juga menjadi rebutan. UEA dan Arab merebutkan emas dan sumber energi. Rusia merebutkan pangkal laut. Cina mempunyai investasi. Selain itu, Sudan mempunyai potensi kebangkitan Islam dan kekuatan ideologis Islam. Bila Sudan kuat, bisa menjadi model Negara Islam di Afrika.
Inilah kekayaan negeri yang malah menjadikannya konflik yang panjang. Yang terjadi justru sebaliknya, kemunduran dan tidak makmur. Seperti banyaknya kelaparan, kekerasan, pengungsian terjadi di Darfur yang dikuasai RSf. Penyerahan Elfasher bukan karena kalah perang, tapi terjadi karena penyerahan kekuasaan disengaja. Alasannya menyelamatkan kehancuran sistematis.
Terbukti waktu perang, tidak ada bantuan ke El Fasher. Saat kota jatuh, terjadi pertemuan di Washington antara Al Burhan dan Hemediti. SAF menarik diri atas perintah AS. Gencatan senjata ini jadi pengakuan RSf di Darfur. Dan yang terjadi malah semakin banyak kehancuran. Dibuat gencatan senjata sebagai formalitas defacto atas kekuasaan resmi Darfur oleh RSf. Penguasaan barat atas Darfur ini tinggal legalitas politik.
Sedangkan SAF menguasai timur dan tengah Sudan. Semua ini peta jalan, perang rekayasa AS. Sejatinya SAF dan RSF sama-sama agen AS. Dibuatlah konflik agar AS bisa masuk dengan kedok perdamaian dan bantuan kemanusiaan. Dengan cara membuat pecah belah, negara dijadikan lemah dan mudah dikendalikan, ada pembantaian tapi dibiarkan. Kemudian pura-pura menolong untuk menguasai.
Sudan mempunyai sejarah yang panjang. Direbut Inggris dari Khilafah Usmaniyah pada 1898. Kini Amerika yang berkuasa dengan agennya, Hemedti (RSF) dan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan (SAF). Siasat licik Amerika Serikat mendukung RSF membersihkan kelompok yang pro-Inggris. Agar pihak ’asing’ terutama PBB dan Inggris tidak campur tangan di konflik Sudan, AS bergabung bersama Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir.
Setelah memecah-belah Sudan dengan konflik untuk membuat lemah kaum muslim. Kini AS membuat Darfur terpisah. Yang merupakan jalur menuju Chad, Libya dan Republik Afrika Tengah. Dengan kekayaan emas, tembaga, serta mineral industri seperti batu kapur dan tanah liat. Walaupun saling bersaing, Amerika Serikat dan Inggris sama-sama takut kebangkitan Islam sehingga mereka halangi. Dengan membuat narasi isu terorisme dan radikalisme. Dari semua peristiwa tersebut, memang Sudan dijadikan sasaran untuk terus dilemahkan. Akan terjadi pembelahan Sudan Utara yang mayoritas Islam itu terbelah jadi dua. (mediaumat.co.id, 13/11/2025)
Sejatinya akar konflik adalah tidak adanya institusi penyatu. Maka solusinya, umat harus fokus pada akar permasalahan yakni tidak diterapkannya hukum-hukum Allah SWT. Dengan demikian saatnya umat bersatu menerapkan syariat Islam kaffah di seluruh aspek kehidupan, baik bermasyarakat maupun bernegara.
Kita turut prihatin dengan Sudan yang berperang dengan musuh munafik. Kita juga tidak boleh melupakan penderitaan Muslim Gaza, Uyghur, Rohingya, dan lainnya. Maka, kita semakin semangat untuk membela saudara seiman kita dengan meningkatkan taraf berfikir umat untuk bersama berdakwah memperjuangkan Islam kaffah. Karena dalam Islam nyawa manusia sangat berharga dan wajib dilindungi.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Maidah ayat 32 yang artinya,
“...bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia...”
Semua konflik terjadi karena rusaknya sistem kapitalisme sekuler. Yang melahirkan manusia yang lemah dan hubbud dunya (cinta dunia). Serta negeri muslim terpecah oleh batas nasionalisme. Hingga kini tidak ada yang bisa menyelesaikan semua kejahatan ini. Maka dibutuhkan institusi pemersatu yakni khilafah sebagai junnah (pelindung), riayah suunil ummah (pengayom) dan menjaga darah mereka. Sebagaimana sabda nabi saw.
“Imam (khalifah) adalah perisai. Di belakangnya orang-orang berperang dan dengannya mereka berlindung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Khilafah, khalifah akan menjalankan pemerintahan dengan amanah karena taat kepada Allah dan Rasulullah. Sehingga negeri-negeri muslim sejahtera dan terbukti berjaya 13 abad dengan satu kepemimpinan bagi seluruh umat. Berbagai kisah untuk menjaga kesatuan umat terjadi di sana. Salah satunya, kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Ketika muncul gerakan kemurtadan yang dipimpin Musailamah Al-Kadzdzab, Abu Bakar memerangi mereka. Oleh karenanya hanya khilafah yang menghilangkan penjajahan dan mengembalikan kemuliaan umat. Waallahu'alam bisshawab. []


Posting Komentar