DILEMA GURU, ANTARA PEMBINA DAN PIDANA
Oleh : Evi Derni S.Pd
Sebuah potret yang mengiris hati dari dunia pendidikan di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial as yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya ambo menyebar cepat dijagat Maya. Di satu sisi ada guru yang ragu bertindak karena takut dicap melanggar HAM. di sisi lain ada pendidik yang memilih jalur kekerasan seperti kasus kepala sekolah di Banten yang menampar muridnya, tindakan ini menuai kecaman luas. dianggap sebagai kekerasan di lingkungan pendidikan dan berpotensi membawa konsekuensi hukum. Peristiwa ini meskipun terjadi di tempat yang berbeda dengan respon yang kontras sebenarnya berakar dari masalah yang sama adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru.(suara.com 18/10/2025).
Seharusnya yang disoroti adalah seberapa pendidikan yang ada sekarang in mampu membentuk karakter siswa. Karakter ini harus menjadi satu dari dua perkara penting yang harus dicapai pendidikan di semua level. kita tentu ingin punya anak-anak yang memiliki kompetensi sesuai dengan perkembangan usianya karena kompetensi itulah yang akan membuat anak mampu terus mengikuti pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.sehingga mampu memenuhi apa yang menjadi misi penting dari seorang hamba diciptakan oleh sang pencipta sebagai khalifah di bumi.
Persoalannya adalah bagaimana karakter ini ditanamkan pada peserta didik. juga karakter seperti apa yang mau kita capai? Pendidikan harus mampu menyukseskan visi dan misi penciptaan Kita sebagai Hamba Allah beriman dan takut kepada Allah. kalau tidak kita harus katakan ini pendidikan yang gagal. cara untuk bisa menjadikan mereka beriman dan bertakwa kepada Allah tidak lain harus diajarkan kepadanya tsaqofah Islam yaitu pengetahuan pengetahuan yang dasar pembahasannya, aqidah Islam termasuk pemikiran ,pendapat dan hukum. dapat dipastikan pendidikan sekarang ini jauh dari mengajarkan tsakofah Islam faktanya 52,53% muslim di negeri ini tidak bisa membaca Alquran. jangan lagi yang dalam-dalam sekedar membaca Alquran pun tidak.
Pendidikan yang bertujuan mencapai misi sebagai khalifatullah.Pendidikan itu mestinya melahirkan orang-orang yang memiliki kepribadian Islam atau (saksiyah islamiyah) memiliki tsaqofah Islam dan kompetensi menyangkut sains dan teknologi. sekarang ini tidak terjadi. meskipun terjadi tidak menimbulkan kehebohan. benar adanya soal larangan merokok namun bagaimana kenyataan bahwa tidak sedikit mereka yang tidak salat, tidak menutup aurat berpikir sekuler, terjangkau tidak di dalam kerangka nilai-nilai kerangka karakter yang hendak ditanamkan ,dalam sistem pendidikan yang ada sekarang
Belum lagi bicara tentang peran guru. di mana sebenarnya otoritas guru itu diberikan di dalam pendidikan anak?. mengapa ketika guru itu bertindak lalu begitu cepat seolah-olah dipersalahkan. uga peran orang tua sebagai faktor suportif kepada sekolah atau justru dissupportif. sebab apa yang dilakukan sekolah mestinya dipandang dalam kerangka pendidikan bukan yang lain apalagi dipandang dalam kerangka pelanggaran terhadap hak anak atau kekerasan pada anak dan sebagainya.seharusnya dipandang dalam kerangka pendidikan.
Guru bertindak dalam kerangka pendidikan, anak meresponnya juga dalam kerangka pendidikan, begitu juga orang tua dan masyarakat. selesai sebenarnya .ketika tidak dipandang dalam perangkat ini bisa dipastikan perspektifnya juga berbeda-beda maka terjadilah perselisihan. karena itu persoalan yang ada di depan kita ini sangat lebar mulai dari soal-soal yang bersifat filosofis sampai teknis. sayangnya ketika pendidikan hendak ditata ,titik-titik krusial tadi tidak terjangkau yaitu pada pembentukan karakter dan tsakofah. karenanya ini akan menjadi perkara yang tidak terselesaikan. mungkin di sekolah itu selesai karena sudah saling memaafkan tetapi soalnya selesai dalam pengertian tuntas .secara substansial bukan hanya di sekolah itu tapi di tempat lain dan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi ataupun lebih rendah semestinya harus dikaji secara mendalam.
Secara umum ada dua tujuan pokok sistem pendidikan Islam. pertama ; membangun kepribadian islami yakni pola pikir (aqliyah) dan jiwa( nafsiyah) bagi anak-anak. keharusan ini karena akidah Islam adalah asas kehidupan setiap muslim sehingga harus dijadikan asas berpikir dan berkecenderungan. terdapat banyak ayat Alquran dan hadist penggugah berpikir sebagai buah keimanan kepada Allah ta'ala misal Al-Quran surah Ali Imran ayat 191 "dan mereka berpikir tentang penciptaan langit dan bumi". Lalu hadist Rasulullah SAW " berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah setahun" artinya strategi pendidikan harus dirancang untuk mewujudkan identitas keislaman yang kuat baik aspek pola pikir maupun pola sikap. metodenya adalah dengan penanaman tsakofah Islam berupa aqidah, pemikiran dan perilaku islami ke dalam akal dan jiwa anak didik. Dengan demikian kurikulum pendidikan negara khilafah harus disusun dan dilaksanakan untuk merealisasikan tujuan tersebut.
Kedua mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar diantara mereka menjadi para ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan baik ilmu keislaman( ijtihad, fiqih ,atau peradilan )maupun berbagai bidang sains (teknik, kimia, fisika ,kedokteran) di pundak para ilmuwan pakar dan ahli kelaklah ada kesanggupan untuk membawa negara dan umat Islam menempati posisi puncak diantara bangsa dan negara lain di dunia. alhasil negara akan menjadi pemimpin dan berpengaruh kuat dengan metode islam.
Wallahualam bishawab

Posting Komentar