-->

Ketika Dunia Gagal Bertindak, Perempuan dan Anak-anak di Palestina-lah yang Menanggung Deritanya


Oleh : Mitha Haerunisa

Sejumlah laporan investigasi internasional mengungkap sebuah temuan yang mengguncang nurani manusia hampir di seluruh dunia.

Ribuan warga di Jalur Gaza, Palestina, dilaporkan hilang tanpa jejak, seolah lenyap bersama reruntuhan yang mereka huni. Investigasi Al Jazeera menyebutkan dugaan penggunaan senjata termal dan termobarik, jenis senjata yang mampu menghancurkan tubuh manusia hingga tidak lagi meninggalkan jasad yang utuh.

Dalam laporan investigasi Al Jazeera yang bertajuk “The Rest of The Story” ini, sedikitnya hingga 2.842 warga Palestina dinyatakan hilang sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023. Mereka bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah para ibu yang selalu memeluk anaknya dengan erat. Mereka adalah anak-anak yang tidak sempat tumbuh dewasa. Mereka adalah para ayah yang sedang berjuang menafkahi keluarga kecilnya tercinta. Mereka adalah keluarga yang bahkan tidak memiliki kubur untuk diziarahi.

Di tengah yang katanya “gencatan senjata”, serangan Israel tetap tak kunjung berhenti. Bahkan, fakta di lapangan mengungkap serangan yang semakin kejam dan tak terbantahkan. Perempuan dan anak-anak pun kembali menjadi korban yang paling rentan. Terluka, kehilangan keluarga, bahkan hingga kehilangan nyawa.

Namun, di balik reruntuhan itu, hebatnya anak-anak Gaza masih bisa terus tertawa. Mereka masih sanggup bermain, bahagia di antara debu dan beton yang pecah dan berserakan.

Mereka terus berhasil menemukan cara untuk merasa hidup di tengah kematian yang mengintai. Pertanyaannya:

“Bagaimana mungkin masa kecil tetap terus bisa bertahan di tempat yang setiap harinya merampas masa depan mereka?”

Penggunaan senjata dengan daya hancur ekstrem terhadap wilayah Palestina yang cukup padat penduduk menunjukkan krisis kemanusiaan yang melampaui batas. Ketika teknologi perang digunakan tanpa perlindungan terhadap warga sipil, yang hancur bukan hanya bangunannya, tetapi juga struktur kemanusiaan itu sendiri.

Perempuan dan anak-anak selalu menjadi pihak yang paling menderita dalam hal ini. Mereka bukan panglima perang, mereka sama sekali tidak memegang senjata. Namun, justru merekalah yang paling sering kehilangan rumah, keluarga, bahkan rasa aman yang nyata.

Sayangnya, di tengah laporan yang tersebar di mana-mana, gambar demi gambar terekspos di seluruh media, dan kesaksian para korban terdokumentasi dengan lengkap, respons global sering terasa samar, terpecah, bahkan terus mengabaikan seolah korban bukanlah seorang manusia yang membutuhkan pertolongan.

Sementara mereka di sana bertahan hidup di antara reruntuhan dan debu, kita terus bisa menyaksikannya melalui layar telepon genggam atau televisi. Kita juga mengetahui tempat-tempat yang hancur, tetapi tidak pernah mencium bau debunya. Kita juga membaca jumlah korban, tetapi tidak pernah mendengar tangisan menyakitkan yang sebenarnya. Ada jarak nyaman antara penderitaan mereka dan kehidupan kita. Namun, apakah jarak itu membebaskan kita dari tanggung jawab moral?

Bayangkan kehilangan orang yang kita cintai tanpa jasad untuk dipeluk terakhir kali. Tanpa kubur untuk diziarahi. Tanpa penutup cerita. Hanya kehampaan yang menggantung.

Penderitaan seperti ini tidak terjadi sehari atau dua hari. Ini berlangsung bertahun-tahun. Anak-anak tumbuh tanpa rasa aman. Ibu-ibu hidup dalam kecemasan permanen. Trauma menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketika tragedi berlangsung terlalu lama, dunia berisiko menjadi kebal. Dan kebal terhadap penderitaan adalah bentuk kehilangan kemanusiaan yang paling di luar nalar.

Kondisi di Palestina bukan hanya krisis regional.
Ini adalah ujian bagi nurani global.

Setiap tragedi kemanusiaan selalu berakhir pada pertanyaan yang sama: apakah kita masih peduli? Apakah kita masih punya sedikit empati untuk melihat apa yang terjadi hari ini?

Sesungguhnya, diam bukanlah posisi netral. Diam adalah ruang tempat penderitaan terus berlangsung tanpa perlawanan moral.

Dan memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin justru menjadi hal yang wajib. Tidak boleh ada satu upaya pun untuk berdamai, mengalah, apalagi sampai memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin.

Menjadi satu fakta yang menyakitkan ketika yang terjadi hari ini adalah pengabaian demi pengabaian atas seruan jihad yang terus digaungkan, rakyat sipil yang terus berjuang menyuarakan perlindungan atas hak-hak warga Palestina justru dijawab dengan memberikan perlindungan penuh bagi pembuat genosida dan penjajahan yang sesungguhnya, Israel.

Karena itulah, dengan kondisi yang semakin dikendalikan oleh para penguasa yang digerakkan oleh kepentingan pribadi dan keserakahan semata ini, kita semakin sadar betapa pentingnya persatuan kekuatan kaum Muslimin, dan perjuangan untuk menegakkan sistem Islam serta kepemimpinan Islam untuk segera kita capai bersama.

Ketika saudara-saudara di Palestina terus berjuang menegakkan kembali tanah airnya, maka seharusnya kita juga turut berjuang kembali menegakkan hak-hak kaum Muslimin yang semestinya.

Sebab pada akhirnya, tragedi ini bukan hanya tentang satu wilayah di peta. Ini tentang batas sejauh mana manusia mampu mempertahankan kemanusiaannya sendiri.

Dan kita seharusnya mampu membawa satu pertanyaan yang menjadi prinsip nyata bagi setiap kita, bahwasanya:

“Ketika dunia rusak dan semakin terluka, sudahkah kita sadar bahwa bersatu dalam satu naungan kebenaran, yakni Daulah Islamiyah yang mengatur manusia sesuai dengan pedoman dari Penciptanya, adalah satu-satunya cara untuk bisa menyembuhkan?”