-->

Syawal, Momen Meningkatkan Ketakwaan

Oleh: Ida Nurchayati, Aktivis Dakwah

Ramadan telah berlalu, sebulan penuh kaum muslim bersemangat mengisinya dengan ibadah wajib maupun nafilah. Hari raya pun tiba, umat menyambut dengan suka cita. Meski ada sedih menggelayut dikalbu. Akahkah kembali bersua dengan bulan paling mulia. Takbir kemenangan berkumandang, pertanda satu Syawal telah datang, hari raya pun tiba. Idul Fitri sejatinya bukan untuk orang yang mengenakan serba baru, tetapi untuk orang yang katakwaannya bertambah.  Syawal artinya peningkatan. Sudah seharusnya umat meningkatkan ibadahnya, tidak hanya ibadah ritual bahkan ketaatan dalam seluruh aspek kehidupan. Akankah bulan Syawal ketaatan umat meningkat atau umat lalai karena merasa sudah mencapai kemenangan?

Takwa Buah Puasa 

Allah mewajibkan orang beriman untuk berpuasa agar berbuah takwa. Imam Nawawi mengatakan takwa adalah mentaati seluruh perintah dan larangan Allah. Artinya menjaga diri dari kemurkaan, serta takut akan ancaman dan azab Allah SWT.  Dengan kata lain totalitas menjalankan semua ajaran Islam seperti perintah Allah dalam Surat Al-Baqarah 208, yang artinya,

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan."

Allah mengharuskan masuk Islam secara totalitas, tidak boleh ada pengabaian sedikitpun, sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Karena tindakan pengabaian meski sedikit termasuk mengikuti langkah syetan, haram hukumnya. 

Puasa Ramadan seharusnya menyadarkan kaum muslim sejatinya kehidupan di dunia ini semata untuk mengabdi kepada Allah dan mengemban amanat-Nya yang agung, yakni merealisasikan hukum-hukum Allah. Inilah makna hari raya yang sesungguhnya. Menurut Imam Hasan Al Bashri, Hari Raya adalah setiap hari yang didalamnya kita tidak bermaksiat kepada Allah.

Penerapan sistem sekuler kapitalisme, dimana agama dijauhkan dari kehidupan membuat kehidupan kaum muslim senantiasa bergelimang dalam dosa. Riba yang seharusnya dilarang dan diharamkan justru menjadi sendi perekonomian negara. Judi, minuman keras, hingga pergaulan bebas legal dan sah dilakukan. Sementara kewajiban seperti sholat  puasa dan zakat diserahkan pada kesadaran individu. Hukum Allah banyak yang dicampakkan  dan diabaikan. Kehidupan jauh dari kebahagiaan. Nafsu manusia dijadikan pedoman hingga menimbulkan kerusakan disegala lini kehidupan.

Kemenangan Hakiki 

Idul fitri momen menyambut kemenangan hakiki, yakni ketika umat dan agama Islam benar-benar eksis dan berdaulat. Yakni ketika agama menjadi pusat orientasi umat-umat yang lainnya. Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaf ayat 9 yang artinya,

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci."

As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan, jika  umat menegakkan Islam dan menjadikan sebagai lentera dan petunjuk di dunia maupun akhirat, maka tidak ada yang dapat menentangnya, umat pasti menang di atas para pemeluk agama-agama lain. Namun jika umat menyia-nyiakan Islam dan hanya sekedar memeluk saja, maka tidak berguna bagi mereka, bahkan penyebab musuh menguasai mereka.

Takwa  Hingga Level Negara 

Kemenangan hakiki tidak hanya terwujud pada level individu dengan keimanan yang kokoh, tetapi juga masyarakat. Allah berfirman dalam Surat Ali-Imran ayat 104 yang artinya,

"Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Masyarakat yang takwa adalah masyarakat yang peduli amar  makruf nahi munkar. Terbentuk bukan sekedar sekumpulan individu-individu, tetapi masyarakat yang mempunyai pemikiran, perasaan dan aturan yang sama yakni Islam.  Dengan kata lain, masyarakat yang diatur dengan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Aturan Islam akan melahirkan perasaan yang sama, suka dan tidak suka, benci dan cinta karena Allah.

Tidak kalah penting adalah  penguasa pemegang tampuk kekuasaan juga harus bertakwa, yakni dengan menerapkan aturan dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 48 yang artinya,

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut aturan yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu"

Ketakwaan baik level individu, masyarakat maupun negara akan mendatangkan ridha Allah, itulah kebahagiaan dan kemenangan yang sejati.

Sejarah mencatat selama kurang lebih 13 abad Umat Islam menjadi umat terbaik disegani kawan maupun lawan. Direpresentasikan kekuasaannya melalui khilafah Islam. Institusi yang mampu menjaga kedaulatan syariah sekaligus kemuliaan umat sehingga terwujud ketakwaan hakiki yang akan mengundang keberkahan dari langit dan bumi. Momen syawal seharusnya dijadikan tonggak meningkatkan ketakwaan baik level individu, masyarakat maupun negara. Umat secara berjamaah hijrah dari peradaban sekuler menuju peradaban Islam. Hijrah dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan hanya pada Allah SWT. Itulah kemenangan hakiki.

Wallahu a' lam.