-->

Politisasi Bansos Keniscayaan Dalam Sistem Demokrasi

Oleh: Dartik 

Presiden Joko Widodo dan menteri-menteri yang tergabung dalam tim kampanye pasangan calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka dinilai kian masif menggunakan program bantuan sosial sebagai alat kampanye pendongkrak suara. Meski telah memberi imbauan agar kepala negara tidak keluar jalur, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) diharapkan bersikap lebih tegas.

Pada Rabu sore, 25 Oktober 2023, Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan pentingnya mengantisipasi tiga hal yang dapat mengusik perekonomian domestik: ketidakpastian ekonomi global, perlambatan ekonomi China, dan dampak fenomena El Nino.

El Nino telah memicu kekeringan yang berujung pada gagal panen dan melonjaknya harga beras, kata Sri Mulyani saat konferensi pers kinerja APBN per September 2023.

Karena itu, pemerintah mengimpor beras untuk menjaga stok dan memberikan bantuan sosial atau bansos untuk meningkatkan daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Tadinya, pemerintah hanya berencana menyalurkan bantuan beras 10 kilogram untuk setiap 21,3 juta keluarga pada periode Maret-Mei dan September-November 2023.

Kekuasaan menjadi tujuan yang akan diperjuangkan dengan segala macam cara. Oleh karena itu setiap peluang akan dimanfaatkan. Hal itu wajar karena sistem demokrasi meniscayakan kebebasan perilaku. Apalagi sistem ini jelas mengabaikan aturan agama dalam kehidupan.

Demokrasi yang mengusung empat kebebasan memberikan kesempatan kepada siapapun untuk meraih kekuasaan dengan cara yang tidak dibolehkan oleh syariat Islam. Demi ambisi kekuasaan menghalalkan segala cara untuk meraih tahta meskipun harus kehilangan marwah. 

Dengan alasan bansos selevel presidenpun tidak canggung lagi untuk membagikannya kepada rakyat demi melanjutkan politik dinasti. Melanjutkan kekuasaan kepada generasi keluarga dari ayah kepada anaknya. 

Demokrasi memberikan kebebasan kepada siapapun untuk meraih kekuasaan meskipun harus melakukan kecurangan dalam segala hal demi meraih dukungan dari rakyat.Karena Demokrasi tidak pernah melibatkan agama dalam hal memilih pemimpin seperti yang pernah dicontohkan oleh islam. 

Di sisi lain, dengan kesadaran politik yang rendah , rendahnya Pendidikan dan kemiskinan yang menimpa, masyarakat akan berpikir pragmatis, sehingga mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Pentingnya kehadiran sekelompok jemaah untuk mengajak umat untuk memahami islam secara kaffah agar tidak menjadi korban tipu daya dari para penguasa. Penguasa yang hanya memanfaatkan rakyat yang tidak punya kesadaran politik karena kemiskinan yang menimpa mereka. 

Sehingga masyarakat mudah terpedaya oleh janji manis dan harapan yang dijanjikan oleh penguasa bahwa hidup mereka akan sejahtera. Namun semua janji tidak pernah nyata bahkan berakhir kecewa. Masyarakat hanya menjadi korban penguasa dalam meraih kekuasaan demi mewujudnya kepentingan mereka. 

Kemiskinan menjadi problem kronis negara. Negara seharusnya mengentaskan kemiskinan dengan cara komprehensif dan dari akaar persoalan,  bukan hanya sekedar dengan bansos berulang, apalagi meningkat saat menjelang pemilu.

Negara seharusnya punya tanggung jawab atas segala kebutuhan pokok rakyatnya .Negara harus memberikan solusi yang paling mendasar atas ekonomi rakyat agar tidak timbul ketimpangan antara simiskin dengan sikaya. Negara seharusnya menciptakan lapangan pekerjaan bagi setiap individu rakyat agar ekonomi rakyat semakin meningkat. Bansos bukan solusi tuntas bagi persoalan umat manusia pada saat ini.Bansos hanya solusi sesaat ketika penguasa ingin sesuatu dari rakyat. 

Islam mewajibkan Negara menjamin kesejahteraan rakyat individu per individu, dan Islam memiliki berbagai mekanisme.

Negara Islam menjamin kesejahteraan rakyat secara individu dengan memberikan segala kebutuhan pokok .Negara Islam memiliki baitul mall yang diperoleh dari sumber daya alam yang dikelola oleh negara untuk kebutuhan hidup rakyatnya. 

Sumber daya alam yang sejatinya adalah milik umat maka haram hukumnya untuk dipripatisasi atau asingisasi baik skala lokal maupun global. Namun dalam sistem demokrasi justru sumber daya alam dapat dikelola oleh individu maupun kelompok yang memiliki modal. Sementara rakyat yang tidak memiliki modal hanya menjadi korban industri kapitalisme. 

Islam juga menetapkan kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Sehingga penguasa akan mengurus rakyat sesuai dengan hukum syara. Islam juga mewujudkan SDM  berkepribadian Islam, termasuk Amanah dan jujur.

Dalam negara islam penguasa adalah pelayan umat.Penguasa wajib memberikan pelayanan yang terbaik untuk seluruh rakyat.Tanpa membedakan agama yang penting mereka bagian dari warga negara daulah maka semua kebutuhan hidup dapat dipenuhi dengan baik. Karena kekuasaan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Nya.

Penguasa mengurus rakyat sesuai dengan hukum syara sehingga rakyatpun hidup bahagia dan sejahtera. Penguasa menjadikan individu muslim yang memiliki kepribadian Islam. Penguasa akan membentuk  setiap individu bertakwa kepada Allah SWT. Menjadi pribadi yang amanah dan jujur kapanpun dan dimanapun berada merasa Allah selalu mengawasinya.

Negara juga akan mengedukasi Rakyat dengan nilai-nilai Islam termasuk dalam memilih pemimpin, sehingga umat memiliki kesadaran akan kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang muslim yang menjadi pemimpin pun  jelas berkualitas karena iman dan takwanya  kepada Allah serta memiliki kompetensi, tidak perlu pencitraan agar disukai rakyat.

Dalam islam memilih pemimpin merupakan keutamaan yang harus dilakukan. Karena pemimpinlah yang bertanggung jawab atas segala kebutuhan rakyatnya. Dalam islam seorang pemimpin harus memiliki kreteria yang jelas seperti, seorang khalifah harus muslim, laki-laki, baliq, berakal, adil, merdeka, mampu untuk menjalankan amanah kekhilafahan. 

Metode pengangkatan khalifah ditetapkan dengan al kitab, as sunnah dan ijmak sahabat .Metode pengangkatan khalifah dengan baiat kaum muslim kepadanya untuk memerintah berdasarkan Kitabullah dan Sunah Rasulullah. 

Islam memandang bahwa menjadi seorang pemimpin haruslah pribadi yang beriman bertakwa dan berkualitas Sehingga calon pemimpin tidak perlu pencitraan dengan memberikan bantuan atau harapan yang berujung penghiatan. Dan oleh karena itu maka jangan memilih pemimpin yang tidak menerapkan syari'at islam karena pasti berujung sengsara. Maka harus kembali kepada sistem islam kaffah agar hidup bahagia dan sejahtera aamiin. 

Wallahu a'lam bi ash-shawwab