-->

Remaja Semakin Sadis, Buah Kapitalis

Oleh: Anastasia S.Pd.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita pembunuhan sekeluarga, yang dilakukan remaja berusia 16 tahun. Lebih parahnya lagi, setelah melakukan aksi pembunuhan terjadi, pelaku dengan sadar melakukan tindakan kekerasan seksual. Kasus pembunuhan satu keluarga berjumlah lima  orang, dilakukan oleh siswa SMK di Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Pelaku adalah J,  yang nekat menghabisi nyawa satu keluarga, dalam waktu satu malam pada Selasa (6/2). Salah satu rekan korban, Randi mengungkapkan kepribadian siswa SMK yang membunuh lima orang tersebut, memiliki hobi menonton anime Jepang dan segala hal yang berbau kebudayaan negeri sakura. Namun, genre anime yang disukai J mengandung unsur pornografi hingga penyimpangan seksual. Jawa pos.com (08/02/2024).

Apabila kita lihat kebelakang, sebenarnya bukan kali pertama ini saja, muncul fenomena remaja sadis berujung pembunuhan. Hal ini, pernah diungkap oleh Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati, yang turut berkomentar atas, banyaknya kejahatan pembunuhan sadis di kalangan remaja. Yaitu, hal tersebut muncul dari berbagai faktor. Salah satu faktor yang paling dominan adalah adanya tontonan kekerasan dari sosial media.  

"Pertama kita harus berpegangan pada data nasional data global, yang sebenarnya menunjukkan tren perilaku kejahatan sebenarnya menurun. Namun hanya saja karena sekarang ada media sosial, maka informasi-informasi kejahatan tersebar dengan cepat," tegas Devie, yang beritakan oleh BeritaSatu.com Kamis, (26/1/2023). Lebih lanjutnya lagi , menurut Devie ketika seseorang melakukan tindakan kejahatan yang bersifat ekstrem, salah satunya bisa disebabkan oleh pengaruh media yang menayangkan aktivitas kekerasan.

"Kalau kemudian, adanya peningkatan terjadinya tindak kekerasan, salah satu yang menjadi pendorong dari kekejaman aktivitas kekerasan adalah pengaruh media. Artinya dulu tayangan kekerasan di televisi masih kita bisa hitung, tapi kita bicara media sosial saat ini, bisa dipastikan lebih besar, dan lebih mudah untuk mengaksesnya. Bahkan orang mengakses 24 jam tidak ada batasannya, tidak ada hentinya, unsur-unsur kekerasan itu begitu kuat," ungkapnya.

Tampaknya, penyebab  kasus pembunuhan sekeluarga yang terjadi di Kalimatan Timur memiliki kesesuaian, dengan apa yang disampaikan oleh pakar sosial di atas. Yaitu kuatnya arus informasi sosial media, yang tidak memiliki batasan. Alhasil, remaja dengan mudahnya mampu mengakses segala konten, tanpa melihat apa yang disampaikan oleh tontonan tersebut, apakah baik atau buruk. 

 Negara Abai, Remaja Bye-bye 

Di era digitalisasi saat ini, sangat sulit melindungi generasi muda untuk tidak terpapar konten kekerasaan. Hal ini terbukti, dengan maraknya kasus pembunuhan dikalangan remaja. Ditengarai tindak kekerasan tersebut, terinspirasi oleh tontonan. Tentu dalam hal ini seharusnya, ada peran negara, yang mampu melindungi umatnya untuk tidak memberikan akses informasi  berbau kekerasaan. Namun kenyataannya saat ini, kita dengan mudah mampu mengakses segala jenis informasi. Negara tidak memberikan perlindungan apa-apa kepada rakyatnya.

Patut kita sadari, bahwa saat ini kita hidup di sistem kapitalisme, yang menjadikan kebebasan sebagai fondasi hidupnya. Dalam sistem ini manusia dijauhkan dari aturan agamanya. Akibatnya, generasi remaja sekarang,  tidak mengenal aturan Islam. Jadi wajar apabila saat ini, muncul remaja-remaja yang mempunyai prilaku menyimpang. 

 Islam, Kunci Menuju Generasi Gemilang 

Dapat dipastikan kunci melahirkan generasi yang hebat adalah Islam. Islam adalah agama yang sempurna, melahirkan aturan kehidupan. Baik buruknya seseorang harus didasarkan kepada aqidah Islam. Dengan demikian, aqidah  Islam telah mendorong setiap individu beramal soleh. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl : 97, yang artinya :

" Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Ayat di atas menjadi dasar bagi setiap muslim untuk berbuat baik, karena sesungguhnya kebaikannya  akan menghantarkannya menuju surga. Atas dasar itulah,  sejarah peradaban dunia mencatat, hanya Islamlah  mampu menciptakan generasi hebat yang sempurna baik dari pemikiran dan amal perbuatannya. Wallahu' Alam.