-->

Bunuh Diri Membudaya, Ada Apa Dengan Masyarakat Kita?

Oleh: Linda Anisa, S.Pd (Guru dan Aktivis Dakwah)

Untuk kesekian kalinya beredar kabar di jagat berita banyaknya orang - orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.  Tak hanya dari kalangan masyarakat biasa, bahkan sekelas mahasiswa yang seharusnya bisa bersikap rasional dalam mengambil keputusan pun kerap menjadi pelaku bunuh diri akhir – akhir ini. Tak tanggung – tanggung penyebab mereka mengakhiri hidupnya pun sebagian besar terkesan sepele dan tak masuk akal.

Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI (Polri), ada 971 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023 (databoks.katadata.co.id/ 18/10/2023).

Sebagaimana dilansir laman KOMPAS.com; Jumat (13/10/2023)  mengabarkan bahwa Pria paruh baya berinisial IR (51) ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, Kampung Kupu-kupu, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, yang tidak diketahui motifnya. Begitu pula kasus 2 orang mahasiswa Semarang yang juga memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Keduanya diduga bunuh diri karena masalah internal (news.republika.co.id, Jumat 13 Oct 2023).

Jika kita mencermati 2 kasus di atas dan kasus – kasus bunuh diri lainnya tentu saja itu terjadi bukanlah tanpa alasan. Banyaknya faktor baik eksternal maupun internal yang cukup kompleks membuat mereka mencari jalan pintas dalam menuntaskan masalah yang justru menimbulkan masalah lainnya.  Tekanan social dari keluarga, teman, ataupun lingkungan sekitar menjadi salah satu dari faktor – faktor tersebut. Pendidikan yang kompetitif, gaya hidup modern dan hedonis, tekanan ekonomi, hingga rapuhnya mental pelaku akibat lemahnya iman juga menjadi pemicu terjadinya bunuh diri ini.

Inilah buah pemisahan kehidupan dari agama. Yang pada akhirnya menggerus akidah individu hingga berujung pada lemahnya mental dan jiwa. Jika mental telah lemah, tentu akal tak mungkin bisa berpikir dengan bijaksana. Sebab tak ada fondasi kuat yang mempertahankannya. Dan ketika fondasi sudah goyah, maka hal wajar jika makhlukNYA mengambil keputusan secara membabi buta tanpa melihat akibatnya. 

Sungguh Sekularisme tak sedikit pun menghargai bahkan melindungi nyawa manusia. kebebasan yang terlahir darinya membuat manusia lupa akan aturan Tuhannya yang paripurna. Tak sedikit pun ia mampu menjaga fitrah manusia. Bahkan jaminan akan kebutuhan hidup rakyatnya, juga enggan menjadi perhatiannya. 

Tentu ini semua sangat kontras dengan Islam yang mulia. Melindungi jiwa anak adam merupakan urgensitas penguasa yang tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan Allah sendiri telah menyatakan dalam al-qur’an yang artinya  “…dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (TQS Al-ma’idah: 32).

Islam, melalui para penguasanya akan memastikan penjagaan jiwa tiap – tiap individu dengan cermat tanpa terkecuali.  Penguasa akan memastikan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan masyarakat terjamin dengan baik dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi masyarakat. Dengan terpenuhinya lapangan pekerjaan, maka tidak akan ada rakyat yang menjadi pengangguran. Selain itu penguasa juga akan memastikan harga bahan pokok yang tersebar dipasaran sesuai dan tidak memberatkan rakyat sehingga tekanan ekonomi tidak akan terjadi.  

Selain itu, penguasa juga berperan menciptakan kondisi sosial yang sehat dan jauh dari lingkungan toxit yang merusak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperhatikan aspek interaksi sosial. social antar individu. Islam juga mengajarkan adab dalam interaksi sosial. Islam menganjurkan kepada umatnya untuk husnuzan dan menjauhi prasangka. Sehingga perundungan ataupun bullying tidak akan merajalela.

Mewujudkan keluarga yang harmonis juga merupakan PR penguasa. penguasa akan memastikan pentingnya ilmu yang harus dipahami setiap anggota keluarga, baik sebagai anak atau pun orang tua; yaitu ilmu yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Ini dilakukan karena keluarga berperan penting dalam mewujudkan generasi yang sehat.

Dan yang terpenting, penguasa akan memastikan pembinaan aqidah ummat sehingga apapun permasalahan yang mereka hadapi mereka dapat menerimanya dengan ikhlas dan tetap bertawakkal. Sebab mereka memahami bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan mereka merupakan ujian dan qodho dari Allah SWT. Dengan pembinaan aqidah ini maka hal yang mustahil bagi mereka mengalami gangguan mental apalagi hingga memutuskan bunuh diri. Sebab mereka menyadari bahwa  bunuh diri merupakan dosa besar bagi para pelakunya.

Wallahu a’lam bi ash-sawab.