-->

Kepimpinan Sejati Dalam Islam


Oleh: Khanty Netta

Ketua Majelis Pertimbangan PPP Romahurmuziy alias Romy berpesan untuk tidak mempermasalahkan tingkat kesalehan para calon presiden (capres) yang muncul di berbagai lembaga survei. Ia mengungkapkan hal tersebut dalam acara “Catatan Demokrasi” TVOne, Rabu (10-5-2023).

Ia juga mengatakan, meskipun berasal dari partai Islam, tidak dapat dijadikan dasar memilih pemimpin. Bahkan, ia menukil kitab karangan Al-Mawardi yang membahas tentang ketatanegaraan. “Dalam Al– Ahkamu Shulthaniyah, kitab yang menjadi salah satu rujukan untuk tata negara dalam hukum Islam sekalipun, seorang pemimpin yang ahli maksiat pun masih memiliki hak untuk ditaati, sepanjang ia tidak melarang kebebasan beragama,” tegas Romy.

Ustaz Wahyudi Al Maroky menyebutkan bahwa pernyataan di atas tidak lain adalah bagian dari marketing politik. Menurut Wahyudi, tugas para marketer politik adalah memoles calon pemimpin yang buruk agar dicitrakan menjadi baik. “Pemolesan itu dilakukan melalui media masa, pendekatan personal, dll. Dilakukan secara terus-menerus sehingga membuat orang yang dulu memiliki track record buruk bisa jadi baik,” jelas Wahyudi pada acara yang sama.

Selain itu, Wahyudi mengungkapkan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mudah dipengaruhi untuk memberikan pemakluman.”Mereka menggunakan orang yang berpengaruh di masyarakat seperti aktor politik atau agamawan untuk menyampaikan pemakluman,” tegas Wahyudi.

Sayangnya, rakyat pun seolah tak pernah jera. Selalu ada alasan untuk memilih sosok baru. Meski pada akhirnya, mereka juga yang harus menelan pil pahit kebijakan apopulis penguasa. Harga BBM kian melangit, dunia kesehatan yang carut-marut, pendidikan kian dikomersilkan, harga-harga melambung, ketahanan pangan yang kian amburadul, hingga kelakuan para pemimpin yang kian merajalela, hanyalah segelintir kekecewaan yang membuat rakyat kembali gigit jari menerima realitas. Belum lagi cacat perilaku yang dipertontonkan beberapa oknum pemimpin. Sekedar contoh masalah korupsi.

Masya Allah inilah para penguasa ruwaibidhoh. 

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (Hr. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).

Atas berbagai fakta ini, sudah seharusnya  berbagai wajah penguasa silih berganti namun kebijakan zalim senantiasa berulang bahkan semakin menjadi. Mengapa demikian? 

Allah swt telah menjawab dalam al qur'an :

"maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari per ingatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha 123-124).

Kesempitan hidup yg dirasa adalah karena dicampakkannya aturan Allah dlm setiap sendi kehidupan dan mengambil sekularisme kapitalisme sebagai dasar atas pengambilan kebijakan. Maka wajar jika penguasa senantiasa tampil sebagai pedagang atau pemalak rakyat karena ideologi inilah yang membentuk mindset untung rugi dlm segala hal. Maka siapapun rezim nya selama basis ideologi masih mengambil kapitalisme sekuler maka kebijakan dan penguasa zalim akan terus terlahir.

Konsep Pemimpin  dalam Islam

Konsep Islam sebagai kesatuan   kepemimpinan politik dan keagamaan yaitu Kekhalifahan dan kesultanan  sebuah institusi kekuasaan (pemerintahan) global (Global-State) tunggal. Konsep  kepemimpinan dalam Islam yang dijalankan berdasarkan Alqur’an dan assunnah. 

Pada hakekatnya menjadi seorang pemimpin itu bukanlah perkara mudah. Seorang pemimpin harus mempunyai jiwa kepemimpinan terutama dalam memimpin rakyat dan negara. Ketika seseorang mempunyai jiwa kepemimpinan, maka dia akan merasa bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Ia akan berupaya mengerahkan seluruh kemampuannya dalam rangka menyempurnakan tanggung-jawab yang dibebankan kepadanya atas dasar keimanannya kepada Allah. Sosok pemimpin sejati adalah Ia yang sangat takut membuat kebijakan yang zalim kepada rakyatnya. Sebab Ia memahami betul bahwa amanah yang dibebankan kepadanya, kelak akan di hisab dihadapan Allah SWT. 

Rasulullah Saw Bersabda :"Barang Siapa Yang Diangkat Derajatnya Oleh Allah Swt Untuk Menjadi Pemimpin Suatu Kaum,Namun Ia Menyia-nyiakan Amanah Tersebut, Maka Diharamkan Syurga Baginya." (Hr.Bukhari-Muslim). 

Pemimpin sejati adalah Ia yang mengkhawatirkan rakyatnya. Teramat cemas jika Ia lalai dalam memenuhi hak-hak rakyatnya. Sahabat Rasulullah yang juga seorang khalifah, Umar Bin Khattab Berkata : "Akulah Seburuk-buruknya Pemimpin Jika Aku Kenyang Sementara Umatku Kelaparan”. Bagaimana dengan sekarang? Sungguh memilukan. Bahkan negara tak segan mengeluarkan kebijakan zalim dengan berbagai dalih.

Seorang pemimpin haruslah seorang yang kuat, bukan orang yang lemah terlebih mudah terbuai dengan bualan musuh. Dengan gampangnya menjual aset-aset penting negara kepada asing dan aseng. Ia begitu lemah, hingga tak menunjukkan wibawa di mata dunia. Benarlah hadits yang diriwayatkan Dari Abu Dzar al-Ghifari menuturkan bahwa Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah dan pada Hari Kiamat nanti akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil amanah itu dengan benar dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya" (HR Muslim).

Begitu banyak sosok pemimpin hebat yang lahir dalam bentang sejarah peradaban Islam. Masyhur kita mendengar kisah Abu bakar as-shiddiq, Umar Bin Khattab, Umar Bin Abdul ‘Aziz, sultan Muhammad Al-Fatih, hingga sultan Abdul Hamid II yang rela mengesampingkan kepentingan pribadi bahkan keluarga, semata untuk menjalankan fungsi pengurusannya terhadap rakyat. Hal ini jelas tak akan kita temui dalam sistem saat ini. 

Saat ini kita dipimpin oleh orang yang tidak peduli terhadap urusan agama. Mereka adalah budak hawa nafsu dan dunia. Mereka menyeru kepada ideologi rusak seperti Kapitalisme, Sosialisme, Sekularisme, Liberalisme, Demokrasi. Berambisi menjadi penguasa, padahal mereka adalah orang yang sama sekali tak memiliki bekal ilmu masalah kepemimpinan. Mereka adalah kumpulan para pembual, yang kerjanya membohongi rakyat. Wallahu a’lam bissawab.