Generasi Muslim Tak Layak Fobia dengan Khilafah!

Oleh : Amirah Syafiqah (Aktivis Mahasiswi)

Polda Metro Jaya menangkap pimpinan tertinggi kelompok Khilafatul Muslimin Abdul Qadir Hasan Baraja, di Lampung, Selasa, 7 Juni 2022. Abdul Qadir Baraja ditangkap oleh penyidik Ditrektorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Penangkapan tersebut dilakukan setelah kepolisian menyelidiki aksi konvoi sekelompok pengendara motor yang menamakan diri sebagai Khilafathul Muslimin di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Mereka mempromosikan khilafah ke warga masyarakat
Hengki menjelaskan, kegiatan Khilafatul Muslimin sangat bertentangan dengan Pancasila. Kesimpulan ini diperolehnya setelah mengnalisis dan menyelidik kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan organisasi tersebut.

Dalam kasus ini, Abdul Qadir Baraja dijerat pasal berlapis karena bertanggung jawab atas sepak terjang Khilafatul Muslimin. Ia dijerat Pasal 59 Ayat 4 juncto Pasal 82 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas) juga penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian. (tempo.co)

Meski terdapat banyak kejanggalan dalam konvoi dan kasus ini, adanya penangkapan pimpinan khilafatul muslimin ini, membawa kembali isu yang sering di bicarakan dan bahkan dikaitkan dengan radikalisme yakni khilafah.

Isu khilafah tak bosan-bosan menjadi perbicangan dan bahkan kerap diangkat oleh media dari segala sisi fakta, namun pemberitaan yang diangkat mengenai khilafah selalu menyudutkan, dan seakan-akan khilafah ialah aib dan kotor dalam negeri ini. Semakin menjadi-jadi ajaran khilafahpun semakin diframmingkan negatif tanpa adanya sumber yang valid, bahkan tidak sampai disitu saja bahkan media-media barat pun ikut-ikutan menggambarkan khilafah ibaratkan sebuah kebusukkan yang harus segera dibasmi. Alhasil khilafah menjadi ‘babak-belur’ tanpa ada pembelaan dari sumber yang valid.

Meski belum terkonfirmasi apa motivasi dari konvoi ini, namun adanyanya kata khilafah menjadi pemicu naiknya isu radikalisme, namun yang menjadi pertanyaan besar dalam hal ini ialah, adakah keterkaitan antara khilafah dan radikalisme? 

Sebelum mencari jawaban adakah keterkaitan radikalisme dan khilafah, maka perlulah dicari terlebih dahulu dari manakah sebenarnya istilah khilafah ini muncul, apakah khilafah ini adalah buatan manusia keji, sehingga ia pun dianggap bobrok di tengah-tengah masyarakat?

Sebagaimana pun upaya untuk mencari definisi serta implementasi dari khilafah, maka tidak akan ditemukan kecuali ketika menapak tilas khazanah-khazanah islam, disanalah didapati bahwa khilafah sendiri bersumber dari agama Islam bukan yang lainnya.

Kata khilafah berasal dari bahasa Arab khalafa-yakhlufu yang artinya mengganti sedang orang yang menggantikkan disebut khalifah. kata khilafah ini pun dapat ditemukan didalam Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah : 30

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Selain itu khilafah juga telah disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW, dari Hudzaifah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,
 
تَكُوْنُ النُّبُوَّة فِيْكُمْ مَا شَاء اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُم يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاء أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا الله إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُم تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة 

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. 

Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar)

Hadis ini maqbul, artinya diterima dan dapat dijadikan sebagai hujah. Al-Hafizh al-‘Iraqi berkomentar, “Hadis ini sahih, Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dalam Musnad-nya.” (Al-‘Iraqi, Mahajjat al-Qurb ila Mahabbat al-‘Arab, hlm. 176)

Maka dari sinilah dapat diketahui bahwa khilafah adalah jelas ajaran islam, Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam warisan Rasulullah saw.. Sistem pemerintahan ini eksis sejak zaman Rasul hingga runtuh pada 1924. Khilafah adalah satu-satunya sistem yang sesuai syariat. Begitu banyak tulisan para ulama yang menjelaskan mengenai Khilafah sebagai sistem pemerintahan yang sahih. Kembalinya Khilafah adalah janji Allah dan berita gembira dari Rasulullah.

Adapun isu radikalisme, pada dasarnya muncul seiring isu terorisme. Dan seringnya isu radikalisme ini dikaitkan dengan beberapa hal yang ada didalam islam, salah satunya ialah khilafah, hal ini seperti menggambarkan bahwa khilafah adalah sebuah bahaya bagi masarakat. 
Tentu narasi sepihak ini membutuhkan klarifikasi. 

Sayangnya, penjelasan utuh dan sempurna mengenai Khilafah sama sekali tidak mendapatkan ruang, terlebih bagi generasi muda. Mereka tidak hanya terjangkit islamofobia dan mengalami krisis identitas, tetapi juga menjauh dari syariat. 

Padahal, pada saat yang sama, generasi terpapar sejumlah masalah krusial, seperti pergaulan bebas, gaya hidup hedonis, promosi L687 yang masif, dan lain sebagainya, lantas jika problematika yang membahayakan kehidupan ini tidak menjadi isu radikalisme, mengapa hanya ajaran islam yang selalu menjadi bidikan dalam isu radikal? Musuh-musuh Islam tidak hanya berhasil menstigma Khilafah, tetapi juga menjauhkan generasi umat dari syariat yang mulia. 

Selayaknya umat Islam dan generasi Islam tidak sepatantasnya hanya diam melihat ajaran islam didiskreditkan dan memandang ajaran Islam sebagai pemecah belah, umat dan generasinya yang mulia harus mampu menelaah propaganda hitam ini secara jernih. Saat ini, perjuangan menegakkan syariat Islam dibekap, sedangkan jalan untuk melakukan propaganda hitam dan monsterisasi kian terbuka.

Generasi Islam pun harus berani dalam  menyampaikan isu Khilafah. Jika Khilafah dianggap ajaran radikal, bandingkan dengan kasus separatisme dan penguasaan sumber daya strategis negeri oleh sekelompok orang. Bukankah ini tindakan teror yang nyata bagi kehidupan masyarakat? 

Oleh sebab itu, umat dan generasi muslim perlu menguatkan dirinya dari sisi tsaqafah Islam, dan menjadikan dirinya kuat serta menjadi trendsetter dalam menyampaikan ajaran Islam, jangan sampai umat islam malu akan ajaran agamanya sendiri. Sehingga untuk menguatkan tsaqafah islam, maka perlu untuk terus mengkaji islam itu secara mendalam dan juga secara kaffah, serta berupaya untuk masuk ke dalam Islam pun secara kaffah (sempurna)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.(Al-Baqarah : 208)

Wallahu’alam bi Ash Showab
banner zoom