Polemik IKN dan Praktek Klenik Kendi Nusantara

Oleh : Siti Fatimah (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Tanah dan air telah didatangkan dari 34 propinsi untuk dilebur menjadi satu dalam wadah berupa kendi besar yang terbuat dari tembaga. Kendi besar ini disebut dengan kendi nusantara, diharapkan dengan penyatuan tanah dan air tersebut akan dapat membuat proyek IKN berkelanjutan dan langgeng. Prosesi kendi nusantara dikatakan juga memiliki makna filosofis bahwasanya dengan ritual tersebut diharapkan akan senantiasa mengingat tanah kelahiran, betah ditanah rantau dan lancar dalam hal pekerjaan.

Namun, seorang pengamat politik dari Universitas Negeri di Jakarta Ubedilah Badrun berpendapat bahwa ritual proyek IKN merupakan suatu kemunduran peradaban politik. Mencampur air dan tanah dari 34 propinsi merupakan sesuatu yang mengada-ada dan irrational. 
Masyarakat juga memandang bahwa ritual kendi nusantara yang dilakukan oleh presiden (konon atas saran dari seorang dukun dari solo) merupakan praktek kesyirikan. Mengharapkan sesuatu kebaikan selain dari pada Allah SWT.

Sejak awal ide pemindahan ini sebenarnya tidak mendapatkan restu dari rakyat kecil. Banyak yang menolak dengan alasan bahwa pemindahan ini sejatinya bukanlah demi kepentingan rakyat. Proyek IKN dinilai tidak begitu urgent atau darurat mengingat kondisi rakyat yang baru mengalami pemulihan akibat hantaman pandemi. Rakyat sangat membutuhkan bantuan pemerintah dalam hal ekonomi. Selain itu proyek yang digadang-gadang hanya membutuhkan secuil dari dana APBN namun faktanya tidaklah demikian, IKN tetap membutuhkan dana besar dari uang negara. Apa lagi saat ini investor yang mendanai proyek IKN menyatakan mundur. Pihak investor dari softbank menilai bahwa proyek ibu Kota baru berpotensi mengalami pembengkakan dana dan rawan korupsi, selain perhitungan ROI atau Return Of Investment.

Banyaknya kritik umat Islam kepada pemerintah mengenai pemindahan ibu kota memicu wakil Ketua umum MUI mengeluarkan pernyataan bahwa perpindahan ibu kota Jakarta ke Kalimantan Timur mirip proses hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Madinah. Tentu saja pernyataan ini menuai protes, bagaimana mungkin proses perpindahan tersebut bisa disamakan? Dari sudut pandang manakah kesamaan itu? Pernyataan ini dipandang sebagai sesuatu yang mengada-ada dan terkesan sangat tidak masuk akal.

Sungguh miris memang, negeri yang terkenal mayoritas beragama Islam justru banyak sekali berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Banyak Ustadz dikriminalisasi, penghinaan terhadap kitab suci Al-Quran, pembunuhan atas nama terrorisme, munculnya kearifan lokal yang sejatinya merupakan budaya yang bertentangan dengan syariat, praktek perdukunan dan klenik yang jelas-jelas merupakan ritual kesyirikan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَا دًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّـلّٰهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَا بَ ۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَا بِ

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 165)

Kepercayaan terhadap segala sesuatu yang berbau mistis di era modern, sungguh merupakan suatu kemunduran cara berfikir. Rakyat dicekoki dengan perbuatan-perbuatan nyeleneh para penguasa, sementara keadaan peremonomian semakin carut marut.  Penguasa bukannya fokus pada kondisi rakyat, mereka justru asyik dengan proyek-proyek yang menggendutkan perut para konglomerat. Sistem pemerintahan demokrasi dan ekonomi kapitalisme benar-benar telah membuat rakyat hidup susah. Disaat pemilu, suara rakyat dikejar-kejar, namun setelah pemilu usai rakyat dibiarkan terlantar. Sekulerisme yang menopang demokrasi kapitalisme telah membuat nalar manusia menjadi ambyar. Agama dijauhkan dari kehidupan, sekulerisme juga telah menyuburkan kesyirikan yang dipertontonkan dihadapan umat sehingga umat menjadi bodoh dan tersesat.

Jelas praktek kesyirikan dilarang keras oleh agama, meskipun demikian pemerintah seakan memang tak perduli. Bagaimana mungkin negeri ini akan mendapatkan keberkahan bila praktek kesyirikan dan aneka ritual klenik ditumbuh suburkan? Bukannya berkah yang akan didapat akan tetapi laknat yang menanti didunia dan akhirat.

Wallahu'alam bishawab.[]
banner zoom