Menjaga Kesucian Ramadhan

Oleh : Bunda Hanif (Pendidik)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan, warung makan tidak perlu tutup pada siang hari selama bulan Ramadhan. Mereka tetap diizinkan beroperasi melayani pembeli, namun diminta tetap menghargai umat yang berpuasa. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua MUI Cholil Nafis saat dihubungi JawaPos.com (grup Sumut Pos), Selasa (29/3). (SumutPos.com, 30/3/2022)

Beliau menjelaskan bahwa tidak semua umat muslim dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, misalnya orang yang berhalangan berpuasa, perempuan yang sedang haid atau nifas, orang yang dalam perjalanan jauh, orang yang sakit dan lain sebagainya. 

Untuk menjaga kehidupan yang harmonis, harus ada sikap saling menghargai. Misalnya dengan tidak melarang pedagang tetap berjualan dengan tujuan mencari nafkah. Namun juga harus menghormati yang berpuasa dan jangan sampai menodai kesucian bulan Ramadhan. 

Selama bulan Ramadhan, kegiatan perekonomian tetap berjalan seperti sebelumnya. Namun perlu adanya sikap yang bijak pada pengusaha makanan, jangan sampai mengganggu orang yang sedang berpuasa dengan cara menjual makanannya secara terbuka seolah-olah tidak ada orang yang berpuasa. 

Lain lagi di Pamekasan, Jawa Timur, selama bulan Ramadhan 2022, pemilik warung makan tidak boleh buka dan melayani pembeli makan di tempat pada pagi sampai siang hari. Jika melanggar, Pemkab Pamekasan akan memberikan sanksi berupa teguran lisan, tertulis, penutupan paksa hingga pencabutan izin usaha. 

Kebijakan tersebut dibuat untuk menghormati umat yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ketentuan mengenai larangan berjualan makanan dan minuman pada siang hari itu bagi semua pemilik warung. Namun, khusus untuk warung, depot dan restoran di terminal dibolehkan buka, karena yang berjualan di terminal khusus untuk orang dalam perjalanan. 

Demikianlah gambaran puasa Ramadhan di negeri ini. Setiap daerah memiliki kebijakan sendiri dalam menyambut Ramadhan. Seharusnya setiap daerah memiliki kebijakan yang sama, apalagi warga negeri ini mayoritas beragama Islam. Kondisi ini mungkin tidak jauh berbeda dengan negeri lainnya. Suasana Ramadhan tidak sekental dan sekhusuk pada masa Rasulullah dan pada masa kekhilafahan. 

Perputaran roda ekonomi yang harus terus berjalan menjadi alasan bahwa tidak mengapa warung makan buka pada siang hari. Memang tidak bisa kita pungkiri, bahwa mereka tetap harus berjualan demi menghidupi keluarganya. Apalagi di tengah kehidupan yang makin sulit. Setiap orang harus berjuang untuk dirinya dan juga keluarganya, karena tidak adanya peran negara dalam mencukupi kebutuhan pokok rakyatnya. 

Keadaan diperparah dengan adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja mengeluarkan statement yang menyesatkan, bahwa orang yang berpuasa pun harus menghormati yang tidak berpuasa. Akibatnya, mereka dengan mudahnya makan dan minum di depan orang yang sedang berpuasa. Ironinya, beberapa pelakunya adalah umat Islam sendiri. Dan perbuatan semacam itu tidak mendapatkan sanksi apapun. 

Itu salah satu bentuk menodai kesucian bulan Ramadhan. Masih banyak lagi kasus lainnya yang juga menodai kesucian Ramadhan. Diantaranya adalah tayangan televisi yang menampilkan adegan yang tidak layak untuk dilihat. Tidak hanya di bulan Ramadhan, namun juga di bulan-bulan lainnya. Bagaimana umat bisa menahan syahwatnya jika terus menerus dirangsang/didorong oleh tayangan yang membangkitkan syahwat? 

Beginilah kondisi umat muslim saat ini. Tidak terasa keistimewaan bulan Ramadhan bagi mereka. Padahal mereka mengetahui bahwa Ramadhan adalah bulan yang memiliki keistimewaan dan kebesaran di sisi Allah SWT. Berbeda dengan kondisi umat muslim ketika hidup di bawah pemerintahan Islam. Kehidupan mereka sangat aman dan tentram. Mereka menjalani kehidupan dunia demi untuk meraih kehidupan akhirat. Ramadhan selalu ditunggu kehadirannya. Karena di saat itulah mereka dapat memanen pahala sebanyak-banyaknya. Sehingga umat muslim pada saat itu tidak hanya menjalankan ibadah puasa tetapi juga memperbanyak ibadah-ibadah lainnya. 

Kondisi umat saat ini sungguh berbeda karena diterapkannya sistem kapitalisme liberasme. Mereka diserang dengan layar-layar kecil yang menghipnotis umat. Mereka terbuai dengan tontonan-tontonan yang isinya mendistorsi umat Islam. Gaya hidup Barat menjadi identitas baru umat muslim saat ini. Sehingga tidak heran jika Ramadhan hanya sekedar menjadi bulan yang malamnya digunakan untuk makan dan minum, dan siangnya untuk tidur dan bermalas-malasan serta aktivitas keduniawian. 

Sudah saatnya bagi kaum muslim untuk mengembalikan kesucian Ramadhan. Umat harus menjadikan segala aktivitasnya demi meraih ridha Allah SWT. Hal ini hanya bisa terjadi jika syariat Allah diterapkan dalam setiap sendi kehidupan di bawah naungan Daulah Khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Hanya Khilafahlah yang mampu mengembalikan kemurnian Islam. Khilafah akan membawa umat semakin dekat dengan Rabbnya. Dan hanya Khilafah pulalah yang mampu membuat Ramadhan menjadi bulan ketaatan dan bulan kemenangan.

Wallahu‘alam bisshowab
banner zoom