ISLAMOFOBIA, BUKTI UMAT BUTUH KHILAFAH

Oleh : Zuhrufah Adnan

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka, deskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan muslim. istilah ini sudah ada sejak tahun 1980-an, akan tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 september 2001. Namun Islamofobia menjadi marak terjadi beberapa tahun terakhir di berbagai belahan dunia. Seperti yang dimuat di media online dan sosial media mengenai larangan jilbab pada mahasiswi sekolah kedinasan di india. 

Hal ini memicu kemarahan dari para aktivis mahasiswa dan kelompok hak asasi manusia yang menuduh administrasi perguruan tinggi bias terhadap minoritas muslim india. “ini adalah Islamofobia. itu Apartheid” kata aktivis Afreen Fatima, sekretaris gerakan persaudaraan di New Delhi, kepada Al Jazeera. Senada dengan Afreen Fatima, Ah Almas seorang pelajar berusia 18 tahun yang sudah mengikuti protes selama beberapa pekan juga mengatakan  "apa yang kita lihat adalah bentuk Apartheid agama. Keputusan itu diskriminatif dan secara tidak proporsional memengaruhi perempuan muslim," di kutip dari Suara.com 

Larangan hijab ini adalah bagian dari bukti kekejaman rezim Islamofobia India terhadap muslim. Rezim penguasa dari partai radikal Hindu kian hari makin banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam terhadap muslim India, mulai dari pelarangan terhadap aktifitas yang menunjukkan jati diri sebagai seorang muslim hingga sampai pada genosida yang membabi buta. 

Sementara itu muslim pada posisi menghiba perhatian dan bantuan dari masyarakat dunia dan sesama muslim. Namun sayangnya tak satupun dari pemimpin negeri muslim yang mau untuk membantu mengatasi permasalahan yang mereka hadapi atau bahkan hanya sekedar meringankan beban penderitaan mereka.
Lembaga kemanusiaan dunia-pun tidak mampu memberikan solusi tuntas terhadap permasalahan di India.

Tidak terkecuali di negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim seperti di Indonesia, Turki dan berbagai negri muslim lainnya. 

Hal ini disebabkan diterapkannya sistem Kapitalis Sekuleris yang tidak memihak pada muslim. Sistem Kapitalis sekuler liberal telah memberikan kebebasan pada siapa saja. Termasuk kepada mereka yang membenci Islam. Kebebasan ini mereka gunakan untuk bertindak sesuka hati mendzolimi kaum muslimin dengan dalih kebebasan berekspresi dan berpendapat.
Hal tersebut sebagaimana yang terjadi di India. Pemerintah Karnakata, di mana 12% populasinya adalah Muslim, mengatakan dalam sebuah perintah pada 5 Februari 2022 bahwa semua sekolah harus mengikuti aturan berpakaian yang ditetapkan sekolah. Rabu, 9 Februari 2022. Merdeka.com. 

Dengan adanya surat perintah ini media lokal india memberitakan beberapa sekolah di kota Udupi melarang siswa Muslim yang memakai jilbab memasuki sekolah dengan alasan adanya perintah Kementerian Pendidikan. Hal ini tentu mendapat protes dari wali murid dan para siswa. Rabu, 9 Februari 2022. Merdeka.com
 
Sistem Kapitalis sekuler telah memisahkan setiap negeri muslim dari negeri muslim yang lain. Selain itu sistem Kapitalis Sekuler telah menjadi asas bagi pemahaman nasionalisme. Pemahaman ini telah membuat setiap negri berfikir hanya untuk mengurus negrinya sendiri. Pemahaman ini membuat mereka melupakan kondisi saudaranya yang berada di belahan dunia lain. Seperti halnya muslim india yang tengah berteriak memohon pertolongan. Nasionalisme telah membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena tersekat oleh peraturan yang ada di negara India dan peraturan internasional.

Nasionalisme telah memunculkan anggapan bahwa muslimah India bukanlah bagian dari penduduk negeri yang mereka tinggali. Pemahaman nation-state telah menjadi pembatas antara umat muslim dengan batasan negara. Hal ini menjadikan kaum muslimin lupa jika sejatinya setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Bahwa kaum muslimin sejatinya satu tubuh yang tak terpisahkan.  

Sebagaimana hadist yang di riwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim 

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. bukhari dan muslim)

Hal ini juga tertuang dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Muslim yang artinya:  “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Dari kondisi diatas kita dapat melihat dengan jelas bahwa sejatinya harapan muslim india akan hadirnya kehidupan adil dan tenang bagi mereka adalah sesuatu hal yang mustahil untuk terwujud saat ini. Ini dikarenakan kita hidup di dalam sistem kapitalis sekuler yang mengotak-ngotakkan kaum muslimin dalam bingkai nation-state.

Maka sejatinya keadilan dan kesejahteraan bagi setiap muslim baik di India maupun di belahan bumi lainnya hanya ada dalam sistem Islam. Sistem Islam yang mensejahterakan kaum muslimin, sistem yang dapat melindungi dan menjamin hak-hak kaum muslimin. Dan hanya sistem Islamlah yang mampu menyatukan kaum muslimin yang tercerai berai menjadi umat yang satu dalam satu komando yaitu dalam bingkai Khilafah Islamiyah. 

Khilafahlah yang mampu membebaskan ketidakadilan yang meliputi kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Hanya Khilafahlah yang mampu menjadikan umat islam menjadi umat terbaik sebagaimana yang telah di janjikan Allah dalam QS. Ali Imran: 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّ

Yang artinya "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: Ayat 110).

Wallahu a’lam bisshowab.
banner zoom