Virus Terus Bermutasi, Bisnis Vaksin Semakin Menjadi

Oleh : Suhartini (Pendidik)

Geger 'Deltacron', temuan ilmuwan Siprus yang mengklaim 'Deltacron' adalah varian baru Corona gabungan Delta dan Omicron. Saat banyak negara diserang lonjakan kasus Omicron, tentunya kabar penemuan 'Deltacron' ini makin membuat khawatir.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama muncul rumor soal kombinasi varian Delta dan Omicron. Beberapa waktu lalu, istilah 'Delmicron' juga sempat bikin geger. Diklaim sebagai kombinasi varian Delta dan Omicron, namun hingga kini tidak ada dokumentasi ilmiah yang menguatkan keberadaannya.

Menteri kesehatan mengumumkan temuan kasus pertama covid-19 varian baru Omicron di Indonesia pada kamis 16 Desember 2021, selain itu juga kementrian kesehatan mendapatkan temuan 3 sampel pasien yang merupakan petugas kebersihan di RSDC yang terkonfirmasi  positif, namun hanya satu pasien yang dinyatakan positif covid varian baru yaitu Omicron. Selnjutnya kementrian juga mendapatkan temuan kasus omicron yang terdiri dari 5 kasus portable omicron, dua kasus dari lima kasus tersebut adalah warga Indoensia yang baru balik dari Inggris dan AS.  3 lainnya WNA dari Tiongkok yang ke Manado dan sekarang sudah di karantina.

Dengan adanya kasus baru virus corona tersebut, pemerintah menghimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu panik serta  melakukan tindakan untuk mengantisipasi penyebaran virus dengan memutuskan untuk melaksanakan vaksinasi dosis ketiga menggunakan vaksin booster. Pelaksanaan vaksin tersebut sudah dimulai pada tanggal 12 Januari 2022 yang lalu.

Penyebaran virus omicron terdeteksi sangat cepat penyebarannya, dikarenakan tidak memiliki gejala yang berarti, namun sangat cepat penularannya. Masuknya varian baru ini ke Indonesia dikarenakan banyaknya masyarakat indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri dan sekembalinya ternyata mereka membawa virus tersebut. Serta masuknya wisatawan asing dari berbagai negara ke Indonesia juga merupakan salah satu jalan masuknya virus tersebut.

Selain itu juga kebijakan pemerintah yang terkesan setengah hati dalam mengantisipasi masuknya virus varian baru tersebut. Faktanya pemerintah langsung memutuskan melakukan vaksinasi dosis ketiga dengan vaksin booster, akan tetapi pemerintah melakukan pencabutan larangan masuknya penerbangan dari luar negeri. Tentu kebijakan ini sangat membinggungkan, karena di satu sisi masyarakat diwajibkan vaksin dosis ke tiga namun disisi lain pemerintah membiarkan warga asing untuk masuk ke indonesia dengan alasan pemulihan ekonomi.

Faktanya kebijakan pemerintah saat ini adalah buah dari sistem kapilatis. Dimana kebijakan yang dibuat pemerintah seperti tambal sulam saja, karena kebijakan yang dibuat bukan menjadi solusi jitu dalam mengatasi penyebaran virus varian baru. Namun kebijakan tersebut terkesan mementingkan keuntungan para pengusaha dengan melegalkan bisnis vaksin. Keputusan pelaksanaan vaksinasi dosis ketiga dengan menggunakan vaksin booster tentu menimbulkan pertanyaan mengapa pemerintah langsung memutuskan jenis vaksin yang akan digunakan. Jikalau kebijakan tersebut diperuntukkan untuk rakyat tentu pemerintah akan melakukan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat, bukan malah sebaliknya.   

Sangat berbeda jauh dengan sistem Islam yang sudah terbukti sangat jitu dalam pengurusan rakyat. Ini terbukti dimasa Umar r.a ketika terjadi wabah penyakit, rakyat dilarang untuk berpergian ke daerah wabah maupun daerah aman, ini dilakukan untuk memutuskan penyebaran wabah penyakit, selain itu juga kebutuhan rakyat dipenuhi dengan ditanggung sepenuhnya oleh pemetintahan. Selain itu juga pemerintah mempercepat penemuan obat untuk mengobati rakyat yang terkena wabah. Sehingga lingkupan daerah yang terdampak wabah dapat terkendali dan tertangani dengan cepat.

Wallahu A’lam Bisshawab

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!

banner zoom