PETA JALAN PENDIDIKAN AKAN DIBAWA KEMANA?


Oleh : Rengganis Santika A, STP

Tahun 2021 dunia pendidikan Indonesia meninggalkan catatan yang sangat menyesakkan dada. Negri mayoritas muslim dan terbesar di dunia ini, harus menelan pil pahit, potret buram pendidikan Indonesia belum sirna, malah kian gelap, ketika rumusan draft terakhir peta jalan pendidikan Indonesia, tak lagi memuat frasa 'agama'. Semua ini mempertegas realitas suram pendidikan Indonesia. Lantas pertanyaannya akan kemana arah pendidikan generasi negeri ini?

Kontroversi Racun Berbalut Madu.

Visi Pendidikan Indonesia 2035, yang dimuat dalam peta jalan pendidikan adalah "Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia". Sekilas visi ini seolah "baik-baik saja" ibarat racun berbalut madu. Sorotan datang dari ormas Islam, Komisi Pendidikan di Parlemen Pusat, hingga politikus parpol.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir,  tidak menemukan 'agama' dari draf rumusan paling akhir tanggal 11 Desember 2020. Haedar menilai Peta Jalan Pendidikan ini sudah bertentangan dengan konstitusi (mengacu pada ayat 5 Pasal 31 UUD Negara 1945) karena tidak memuat 'agama', sementara budaya masuk?" dalam rilis di laman resmi Muhammadiyah seperti dikutip Minggu (7/3). Ketua Pendidikan dan kaderisasi MUI KH Abdullah Jaidi, juga kaget, padahal agama hal esensial (Minggu 7/3). Senada dengan wakil ketua umum PPP, Asrul Sani, ini langgar Konstitusi, Demikian pula Ketua Komisi X Syaiful Huda setuju dengan kritik Muhammadiyah. (Senin 8/3). Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf menegaskan, agar jangan  terlalu alergi dengan frasa agama, (Senin 8/3). 

Anggota DPR dari Fraksi PKS, Muzzamil Yusuf meminta agar draf Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 dicabut. Dia khawatir landasan berpikir dari Peta Jalan Pendidikan menjadi salah sejak awal karena bertentangan dengan konstitusi dan UU Pendidkkan Sisdiknas," kata Muzzamil dalam rapat paripurna DPR, senin (8/3) kemarin. Kemdikbud merespons kontroversi, hanya dengan jawaban ini baru draf, belum final, (Senin 8/3, detik.com).

Moderasi Beragama Menjadikan Pendidikan Indonesia Makin Sekuler 

Entah ada unsur kesengajaan atau khilaf, namun realitas buram pendidikan negri ini telah menutupi prestasi gemilang adik-adik pelajar dan mahasiswa. Banyak karya cipta dan inovasi mereka, namun tertutup daftar panjang kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, komersialisasi pendidikan, kecurangan/plagiarisme. Belum lagi standar pendidikan didaerah yang masih jauh dari kata layak, nasib pilu para guru honorer, juga belum adanya pemerataan dan keadilan pendidikan, semua ini adalah dosa penguasa negri, dimana seharusnya pendidikan adalah hak dan kebutuhan asasi setiap warga. Setelah lumpuh pendidikan Indonesia, kini inti pendidikan yaitu ruh dan landasannya diacak-acak oleh ide MODERASI BERAGAMA yang kini menjadi arus utama semua kebijakan rezim saat inii. Hilangnya frasa agama dalam peta jalan pendidikan Indonesia adalah bukti terang benderang moderasi beragama. Sebab ruh moderasi adalah sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. kapitalisme liberal yang diterapkan negara membelokan arah tujuan nasional pendidikan Indonesia dari mencetak insan yang beriman dan takwa menjadi sekuler materialistik. Noda dan dosa pendidikan di tanah air adalah buah dari jauhnya pendidikan dari sentuhan aqidah yang shahih dan keterikatan terhadap syariat islam yang menyeluruh (kaaffah) dari Al qur'an dan sunnah.

Islam Membawa Pada Arah Pendidikan Gemilang

Islam pernah menjadi mercusuar pendidikan dan ilmu pengetahuan di dunia, disaat Eropa berada dalam kegelapan mistik jauh dari adab dan sains. Dunia berhutang budi pada karya inovasi dan sistem pendidikan islam yang maju dan terdepan. Semua itu tak hadir dalam ruang hampa, kemajuan pendidikan islam dan kehebatan para ilmuwan muslim tercipta dari sebuah sistem negara  yang kuat, sehingga memberi daya dukung maksimal lahirnya peradaban gemilang. Pendidikan gratis berkualitas adalah kewajiban negara memenuhinya.

Kunci peradaban cemerlang pencetak generasi emas adalah dengan menjadikan aqidah sebagai dasarnya dan syariat islam kaaffah tuntunannya. Kemajuan ilmu berbanding lurus dengan kepribadian islam yang kokoh. Islam membuktikan arah pendidikan yang cemerlang sebaliknya dengan sekularisme membawa pada arah pendidikan yang nista. Hebat secara fisik namun bobrok mental dan jiwanya, sebagaimana Eropa, AS juga negara-negara maju yang notabene jadi kiblat ilmu dan teknologi saat ini. Lantas arah mana yang negri kita pilih? kepada sekuler kapitastikkah? Atau kepada islam kaaffah? 

Wallahu 'alam bish showab.

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!


banner zoom