Jernih Menilai Aksi Penodaan Agama

Oleh : Salsabila Suni

Benteng akidah umat seolah diuji lewat sejumlah peristiwa yang viral di jagat maya. Tanggapan pro kontra memperlihatkan sejauh mana akidah islam melekat kuat dalam diri umat islam. Seperti halnya aksi tendang sesajen di gunung semeru yang viral lewat akun Twitter @setiawan3833. HF, si penendang dijerat pasal ujaran kebencian atau penghinaan terhadap suatu golongan (SARA). 

Dalam video nampak ia mengatakan “ini yang membuat murka Allah, jarang sekali disadari, bahwa inilah yang mengundang murka Allah hingga menurunkan azabnya”. Tidak sedikit yang menilai aksi tersebut sebagai bentuk intoleransi antar umat beragama. [Kompas, 14/1/2022]

Disisi lain muncul cuitan twitter mantan politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean yang menjadi sorotan publik. Ia menulis : "Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa Maha Segalanya". [Okenews, 6/1/2022]

Islam terhadap Ajaran Agama Lain

Allah SWT berfirman :
"Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (al-An'am:108).

Islam melarang kaum muslimin mencela sesembahan orang-orang kafir tanpa pengetahuan. Hal ini ditujukan agar tidak berakibat pencelaan balik kepada Allah SWT. Mencela kekafiran, kesyirikan, dan sesembahan-sesembahan palsu selain Allah swt adalah perkara yang hukum asalnya mubah. Akan tetapi jika pencelaan itu mengakibatkan dicelanya Allah dan kesucian kaum muslimin, maka pencelaan terhadap sesembahan orang kafir tersebut menjadi haram dilakukan.

Allah SWT juga berfirman, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang dzalim diantara mereka, dan katakanlah, "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (al-'Ankabut;46).

Setiap manusia secara fitrah memiliki gharizah tadayun (naluri beragama) untuk mempercayai dan berusaha menyucikan eksistensi sang Pencipta. Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap umat menyakini bahwa perbuatan dan agamanya adalah paling baik. Mereka tidak ingin seorangpun mencela agama mereka. Mencela manusia hanyalah hak Allah, bahkan tidak memberikan hak tersebut kepada Rasul. Karena tugas Rasul hanyalah menyampaikan peringatan dan kabar gembira, berdakwah dengan hikmah dan mau'idhah al-hasanah (contoh yang baik).

Namun, keterangan di atas juga tidak boleh ditafsirkan bahwa kita harus bermanis muka, bersikap nifaq (terhadap akidah agama bathil) bahkan membiarkan aktivitas maksiat dan sesat merebak di masyarakat. Penilaian baik buruk atas segala sesuatu tetap wajib dikembalikan pada syariat Islam, yakni perintah dan larangan Allah swt. Termasuk menilai bab perkara sesaji yang notabennya sebagai bentuk persembahan selain kepada Allah. 
Sesungguhnya Allah adalah Maha segalaya. Allah Maha besar, pencipta dan pengatur selurub alam semesta. Adapun pernyataan jahil yang menyatakan Allah lemah dan harus dibela amat salah. Ini yang seharusnya layak dicap sebagai penodaan agama. 

Hakikat menolong Agama Allah

Islam adalah agama yang diridhai Allah, Tuhan semesta alam. Aqidah Islam memuaskan akal dan memberikan ketenangan pada jiwa manusia karena mampu menjawab pertanyaan mendasar mengenai kehidupan (uqdatul kubra) dengan jawaban yang shahih. Aqidah Islam akan menciptakan masyarakat yang saling melengkapi, saling menjamin seperti halnya satu tubuh, dan satu-kesatuan pemikiran dan perasaan.  

Syariat Islam tidak hanya mengatur ibadah saja, melainkan menyeluruh dan mengatur seluruh aspek dalam menjalani kehidupan. Dalam menjaga kelestarian masyarakat Islam, Syariat Islam telah menetapkan tujuan-tujuan luhur yang dilekatkan pada hukum-hukumnya, yakni pemeliharaan atas keturunan, akal, kemuliaan, jiwa, harta, agama, keamanan dan atas daulah.
Sudah seharusnya kita menolong agama Allah, menerapkan dan mematuhi seluruh syariat dan aturan yang telah Allah perintahkan. Memperjuangkan hak-hak atas kaum muslim dan istiqomah berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar, demi terterapkannya hukum-hukum islam di muka bumi ini.
“Hai orang-orang yang beriman, jika ‎kamu menolong Allah, maka Allah akan menolongmu dan ‎mengukuhkan pendirianmu.” (Q.S. Muhammad: 7)‎

Waallahu'alam bishshawwab.

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!


banner zoom