PARENTING WASATHIYAH MEMBELOKKAN UPAYA MENDIDIK ANAK YANG SHOLIH

Oleh : Ummu Najiba (Pendidik dan Pemerhati Anak dan Remaja) 

Persoalan radikalisme dan terorisme di Indonesia dianggap nampak semakin berbahaya. Misalnya kasus pemboman gereja tahun 2018 sudah melibatkan anak-anak sekolah dasar. Sehingga dirasakan perlu parenting (pola asuh orangtua terhadap anak) yang mengarah pada moderasi beragama atau parenting wasathiyah.

Diharapkan dengan parenting wasathiyah, anak lebih mencintai Indonesia dan menyadari bahwa radikalisme dan terorisme merupakan perbuatan yang keji. Moderasi beragama itu sendiri diambil dari kata moderat artinya berada di tengah-tengah, dan tidak condong ke salah satu kubu ekstrem (Abdurrohman, 2018; Hilmy, 2012; Suharto, 2014). 

Moderat dalam bahasa Arab diredaksikan dengan wasathiyah. Kata ini dan derivasinya disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an, misalnya QS. al-Baqarah [2]: 142 dengan kata isim (kara benda), QS. al-Qalam [68]: 28 dengan kata fi’il (kata kerja), dan QS. al-Maidah [5]: 89 dengan kata sifat. Adanya kata wasath beserta derivasinya yang banyak disebutkan al-Qur’an menunjukkan bahwa umat Islam harus menjadi penengah, tidak subjektif, tidak terlalu condong ke sebelah pihak, menjadi orang yang paling fasih dalam kebaikan serta selalu menyebarkan kedamaian di atas muka bumi (Ardiansyah, 2016). (https://www.researchgate.net/publication/348557291_Membangun_moderasi_beragama_di_Taman_Pendidikan_AlQur%27an_dengan_parenting_wasathiyah_dan_perpustakaan_Qur%27ani)

Peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak

Menjadi orangtua bukan sekedar menjadi induk. Orang tua mengemban misi untuk mencetak generasi terbaik yang cerdas dan bertakwa. Cerdas karena tertata pola pikirnya dengan petunjuk Allah SWT. Takwa karena segala kecenderungannya terkendali  dalam batas perintah dan larangan Allah SWT.

Menjadi perkara yang sangat penting dan mendasar menanamkan pemahaman terhadap misi hidup . Bahwa hidup ini hanya untuk beribadah mengabdi kepada Allah SWT. Menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Poros hidup adalah berjuang untuk menggapai ridho-Nya. Sementara harta, jabatan, dan fasilitas dunia lainnya hanyalah perhiasan. Bukan penentu sukses dan tidaknya seorang manusia. Apapun keadaan manusia asal Allah SWT ridho.

Allah SWT berfirman,
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Ads Dzariyat: 56)

“Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya” (QS. Al Mulk).

Inilah perintah Allah Sang Pencipta dan Pemberi Hidup.  Manusia diciptakan-Nya hanya dengan satu alasan, tidak lebih yakni hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dia SWT menjanjikan ridho,ampunan dan surga kepada siapa saja yang memenuhi hidupnya sesuai kehendak-Nya. 

Sementara golongan yang ingkar dan menyalahi misi hidupnya akan mendapatkan murka-Nya. Maka menanamkan kepada anak tentang misi hidup inilah merupakan perkara yang urgen.

Ini merupakan ciri anak sholih yang diidam-idamkan orangtua. Diantara ciri-ciri anak sholih tergambar dalam beberapa ayat dari QS. Luqman (ayat 13-19) yaitu berakidah lurus (tidak musyrik), menyenangkan orang tua (birrul walidain), taat beribadah mau berdakwah, berakhlak mulia dan disukai semua orang.

Anak yang sholih memiliki pondasi akidah yang kokoh yang diperoleh melalui suatu proses berfikir yang mendalam dan menerima secara total konsekuensi akidah yang dianutnya. Secara ikhlas dan ridho untuk  senantiasa berupaya menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang dituntut oleh Sang Penciptanya (Allah SWT) dan Sang Qudwah (suri tauladan) nya Rasulullah SAW. 

Anak sholih bukanlah anak yang menjadikan akidah Islam sebagai kumpulan dogma-dogma yang dihapal. Namun ia memiliki keyakinan yang kuat dengan modal proses berfikir yang dijalaninya dengan benar sehingga menghantarkannya kepada hakikat kebenaran. Dia tidak mudah terpengaruh dengan adanya perubahan lingkungan, tetapi mampu menyikapi perubahan zaman tanpa harus termakan kerusakan zaman itu sendiri.

Anak yang shalih tidak hanya dicintai Allah dan orang tuanya, tetapi juga disukai banyak orang. Dia tidak suka mengganggu orang lain, tidak menyusahkan orang lain. Bahkan ia senantiasa melakukan hal yang baik kepada orang lain.

Sementara membangun moderasi beragama, yaitu adanya kesadaran dalam beragama harus berada di tengah-tengah, tidak berada di ekstrem kanan maupun kiri  diyakini akan mengatasi radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat. Implementasi pemahaman ini akan menumbuhkan pemahaman bahwa tidak boleh berpikir terlalu condong ke kiri dan ke kanan. Pemikiran Islam harus berada di tengah-tengah, yang dalam konteks ini sesuai dengan yang diajukan, yaitu moderat.

Anak akan memahami agamanya bukan satu-satunya yang benar. Agama yang dianut orang lain yang berbeda dengan akidahnya juga benar. Karena kalau meyakini agamanya yang benar,yang lain salah akan dianggap radikal. Radikalisme mengarah kepada terorisme. Dan ini adalah perbuatan keji.

Bagaimana mungkin anak akan tumbuh menjadi orang yang taat agama atau bertakwa apabila dia tidak yakin akan kebenaran agamanya. Malah bisa jadi dia akan mudah mengikuti ritual agama lain di tempat ibadah agama lain dengan alasan toleransi. Padahal toleransi tidak perlu mengorbankan akidah seseorang. Cukuplah dia menghormati orang lain yang menjalankan ritual agamanya tanpa mengganggunya.

Cita-cita orang tua teralihkan dengan parenting wasathiyah

Anak adalah amanah Allah SWT yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, setiap perkembangan jiwa dan raga anak harus menjadi perhatian serius setiap orangtua. Jangan sampai kesucian jiwa anak terkontaminasi oleh virus-virus kemungkaran yang dapat merusak akidah, pendidikan, akhlak dan masa depannya. 
Caranya adalah dengan menanamkan pada jiwa mereka yang masih suci dan polos dengan akar akidah ketauhidan , ditaburi benih-benih akhlak  yang mulia, disirami kasih sayang dan dipenuhi limpahan perhatian. Insya Allah mereka menjadi anak yang sholih.

Lain lagi dengan parenting wasathiyah, walaupun dibalut dengan pendidikan karakter dan akhlak mulia, namun karakter yang disematkan diarahkan kepada karakter moderat alias tidak radikal.  Pola asuh orang tua terhadap anak yang mengusung moderasi beragama sebenarnya bagian dari sekularisasi pemikiran umat Islam. Yang diserukan adalah semua agama sama dan dan Islam yang inklusif (yang bersifat terbuka), toleran terhadap ajaran agama lain.
Allah SWT telah menegaskan:
“Sungguh Agana  (yang diridhai)  di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

“Siapa saja yang mencari agama selain Islam sekali-kali tidaklah akan diterima dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran;85)

Berdasarkan ayat ini, Allah SWT telah sangat tegas menyatakan bahwa agama yang benar dan mulia di sisi Allah hanyalah Islam. Ditambah adanya celaan yang bersifat jazm (pasti) bahwa tidak akan diterima agama selain Islam dan mereka tidak akan selamat di akhirat nanti.

Oleh karena itu, orang tua harus waspada akan bahaya parenting wasathiyah ini yang akan mengalihkan cita-cita memiliki anak yang sholih menjadi anak yang salah. Bagaimana tidak salah, parenting wasathiyah memberlakukan toleransi yang melampaui batas yang digariskan Islam. Bahkan murtadnya seseorang atau menjadi atheis dianggap hak seseorang. Nampak jelas pertentangannya dengan akidah Islam.

Upaya Orangtua

Upaya sungguh-sungguh tentunya perlu dilakukan orang tua untuk membentengi anaknya dari pemahaman moderasi beragama atau yang diistilahkan wasathiyah sebagai berikut :

1. Menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah titipan Allah. Allah memerintahkan kita para orang tua untuk menjaga kita dan keluarga dari api neraka (QS At Tahrim: 6)

2. Menanamkan akidah Islam sejak dini kepada anak-anak kita. Kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendorong keluarga kita untuk taat dan patuh hanya kepada Allah SWT. 

3. Menjelaskan kekeliruan Islam moderat dan bahayanya kepada anak-anak kita.

4. Mengajak anak untuk mengkaji Islam ideologis. Bukan sekedar ilmu pengetahuan. Sekaligus mengajak menjadi pembela dan pejuang Islam.

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!


banner zoom