Ibu Sejati Pencetak Generasi

Oleh : Nurma Junia, S.Pd

Setiap tanggal 22 Desember akan menjadi hari yang spesial dan istemewa bagi semua orang, terutama para ibu karena hari itu sudah umum diperingati sebagai hari ibu nasional. Sejarah ditetapkannya peringatan hari ibu di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk mengenang semangat dan perjuangan perempuan Indonesia dalam meningkatkan kualitas bangsa. Perayaan hari ibu juga merupakan bentuk penghargaan terhadap peran ibu dalam dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. 

Untuk memeriahkan peringatan hari ibu nasional sering dirayakan dengan serangkaian kegiatan perlombaan perempuan berprestasi  dibidangnya masing-masing. Berbagai cara dilakukan untuk mengekspresikan perayaan hari ibu sebagai ungkapan  pembuktian cinta dan rasa sayang serta terima kasih kepada para ibu maupun sosok wanita berjasa lainnya. Mulai dari memberi surprise bingkisan manis, membantu meringankan pekerjaan ibu dengan membebas tugaskannya dari rutinitas domestik sehari-hari seperti  memasak, mencuci, beres-beres rumah, mengurus anak, dan urusan rumah tangga lainnya dan hal yang paling sederhana dilakukan adalah sekedar memberikan ucapan yang bisa membuat seorang ibu bahagia luar biasa dengan peran mulianya.  Karena ibu adalah segalanya, cinta abadi tanpa syarat bagi suami dan anak-anaknya, sosok yang benar-benar penuh pengorbanan lahir dan batin.

Untuk Peringatan Hari Ibu ke-93 tahun 2021 ini mengangkat tema “Perempuan Berdaya, Indonesia Tangguh". Dengan momentum peringatan hari ibu diharapkan akan menjadi semangat bagi perempuan untuk senantiasa memberdayakan dirinya demi Indonesia maju. Perempuan berdaya yang dimaksud adalah perempuan yang memiliki kekuatan dan tangguh untuk melakukan hal-hal positif. Seorang ibu akan menjadi stabilisator dengan kasih sayang dan kelembutan hatinya. Namun kadang adakalanya seorang ibu juga harus menjadi seseorang yang kuat untuk membantu menopang ekonomi keluarganya. 

Menjadi wanita karier sering dianggap kebanyakan orang menjadi suatu kebanggaan karena akan meningkatkan status sosial di masyarakat. Karena saat ini, pemberdayaan perempuan baik sebagai ibu maupun sebagai istri sering dijadikan isu diskriminasi terhadap kaum perempuan Sehingga perjuangan membela hak-hak wanita dengan tuntutan yang sejajar dengan para pria dalam segala hal, baik dalam pekerjaan, pendidikan maupun  dalam hal-hal lain terus digaungkan. Memang, tidak bisa dipungkiri tentang geliat kaum hawa dengan segala emansipasinya. 

Tapi, ternyata tidak semua kaum wanita hari ini yang memahami fitrah mulianya. Sehingga ada saja kaum wanita yang bangga mengaktualisasikan dirinnya dengan berbagai profesi yang sejatinya telah menjerumuskan dirinya ke lembah kehinaan dan kerusakan. Di era kebebasan, wanita memang dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif. Kaum perempuan seakan rela dieksploitasi untuk meraup materi demi kepentingan dunia industri. Sistem kapitalisme memaksa perempuan untuk bekerja, tenaga mereka diperas untuk menggerakkan roda perekonomian. Perempuan hanya dijadikan sebagai mesin pencetak uang dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki demi meraup keuntungkan bisnis yang dijalankan oleh para kapitalis.

Dan para imperialis, tentu saja tidak pernah peduli dengan dampak yang ditimbulkan dari semua ini dengan kerusakan generasi karena adanya pengabaian peran utama seorang ibu sebagai ummu warabbatul bait, manajer rumah tangga sekaligus pendidik anak anaknya.

Peran Perempuan Dalam Islam
          
Perempuan adalah ibu pembentuk peradaban. Posisi perempuan sebagai ummu warabbatul bait tidak lepas dari peran yang telah digariskan Allah SWT. Kaum ibu adalah pencetak generasi yang akan memberikan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Islam juga telah menetapkan aturan hukum seputar kehamilan, penyusuan, pengasuhan dan perwalian.

Islam menempatkan perempuan pada posisi yang layak ketika memberikan peran khusus bagi perempuan. Namun Islam juga membolehkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan dalam perkara yang lain, seperti dalam pengembangan harta, pendidikan, kesehatan, peradilan, dan aktivitas politik tertentu.. Islam membebankan kewajiban memberikan nafkah bagi laki-laki dan kewajiban mengasuh anak-anak dibebankan kepada perempuan.          

Syariat Islam memuliakan, membesarkan kiprah dan menjamin kehormatan kaum hawa. Tokoh-tokoh muslimah yang memiliki peranan besar dalam masyarakat, sama sekali jauh dari gambaran terkekang dan terdiskriminasi seperti yang sering dinarasikan media Barat. Di era Islam juga nyaris tidak terdengar praktek eksploitasi khususnya terhadap kaum perempuan. 

Pandangan Islam Tentang Perayaan Hari Ibu

Berbakti kepada orang tua khususnya kepada seorang ibu memang telah dianjurkan oleh syari’at islam, karena surga anak-anaknya terletak dibawah kakinya. Sosok seoarang ibu sangat besar jasanya bagi anak-anaknya melebihi seorang ayah. Ibu, adalah wanita yang mulia, derajatnya tiga tingkat dibanding ayah, jasa seorang ibu tak akan pernah bisa dinilai dengan  emas permata bahkan dunia dan isinya. Ibu lah yang dengan susah payah mengandung selama 9 bulan, kemudian melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyapih dan menyusui selama 2 tahun, mengajarkan serta mendidik anak-anaknya sampai tumbuh dewasa berkembang menjadi pribadi-pribadi yang unggul, berbakti pada orang tua, agama dan bangsa. 

Memang, Tidak ada yang salah untuk mengingat jasa atas kemuliaan seorang ibu. Sehingga pemuliaan terhadap seorang ibu sudah seharusnya dilakukan setiap hari setiap saat dan selamanya tidak hanya cukup untuk satu hari saja bahkan hanya setahun sekali.                      

Bahkan adalah suatu hal yang keliru, jika dalam perayaan momen hari ibu dengan membebas tugaskan ibu dari tugas domestiknya sehari-hari seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Karena mengurus rumah tangga adalah suatu kewajiban dalam tuntunan agama. 

Wallahu’alam
 
banner zoom