Banjir, Tamu Rutin di Musim Penghujan

Oleh: Rokani (Aliansi Penulis Rindu Islam)

Musim hujan telah tiba, yang di nantikan para petani untuk memulai bercocok tanam, tetapi keinginan dan kenyataan tidaklah sama. Musim hujan yang datang dengan membawa banjir dan longsor sudah jadi kebiasaan setiap tahunnya. Setiap tahun berulang namun belum teratasi permasalahannya. Tidak hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga pemerintah pusat.


Datangnya banjir sangat meresahkan bagi masyarakat. Misalnya seperti banjir di kabupaten Sintang, Kalimantan barat yang telah merendam pemukiman hingga tiga pekan. Masyarakatpun mengeluh karena minimnya bantuan yang mereka terima dan pemerintah pusat juga lambat dalam memberi penanganan bencana alam.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut banjir di sejumlah wilayah ini terjadi karena tingginya intensitas curah hujan, sementara daya tampung Daerah Aliran Sungai (DAS) dan area resapan yang ada tidak cukup memadai. Adapun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan naiknya intensitas hujan ini, fenomena penurunan Suhu Muka Laut (SML) di samudra Pasifik bagian tengah di bawah kondisi normal. Pendingin Suhu Muka Laut (SML) ini akan mengurangi potensi pertumbuhan awan di samudra Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.


Namun tentu kita tidak boleh lupa, bahwa tersebabnya banjir akibat dari ulah tangan manusia sendiri. Tidak hanya dikarenakan membuang sampah tidak pada tempatnya, tetapi juga menebang pohon tanpa tebang pilih dan reboisasi (penanaman hutan kembali).  Hal inilah yang menghilangkan resapan air. Ini ditunjukan dengan data bahwa selama periode 2003-2019 hutan yang hilang mencapai 2,45 juta ha, selanjutnya angka ini naik menjadi 4,8 juta ha selama 2011-2019.


Alih fungsi lahan juga bayak terjadi. Lahan persawahan dan kawasan pantai banyak yang berubah fungsi dan bahkan menjadi sebab banjir pada tahun 2019 lalu, tercatat lahan pertanian yang berubah menjadi industri dan jalan telah mencapai 150 ribu hektar


Jelas bahwa bencana banjir dan sejenisnya adalah bencana yang sebagian faktor resikonya bisa dikendalikan manusia. Dalam hal ini, kebijakan penguasa terkait pemanfaatan lahan dipengaruhi oleh ideologi sekuler kapitalistik, maka  tidak akan terselesaikan hingga ke akar-akarnya. Karena semua kebijakan itu hanya mengejar target dimensi dunia saja yang serba materi, yaitu berorientasi keuntungan bagi dunia industri yang didukung kebijakan pemerintah ya g dholim.


Ini berbeda dengan Islam. Dalam kacamata Islam, alam, manusia, dan kehidupan dipandang sebagai satu kesatuan. Satu dengan yang lain saling terikat tidak terpisahkan. Hal ini karena Islam mengajarkan tata cara menjaga dan mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Bahkan Islam menjadikan penjagaan dan pengelolaan alam ini sebagai salah satu tujuan penciptaan yaitu meletakkan tugas menjaga alam ini sebagai tugasnya hamba Allah, yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.


Sebagai mana firman Allah SWT


Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). ( Qs. Ar-Rum :41)


Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. (Qs. Al-Araaf : 56)


Dalam islam sistem ekonominya pun jelas, karena Islampun mengaturnya tanpa dibiarkan begitu saja, soal kepemilikan tanah yang boleh dimiliki oleh individu dan mana yang boleh dimiliki umum dan negara, maka dari itu Islam tidak membiarkan para kapitalisme untuk menguasai, mereka yang membangkang akan diberikan sanksi atas perbuatannya.


Penerapan aturan Islam secara kaffah yang didorong dengan spirit ketakwaan akan mendatangkan kehidupan yang penuh berkah. Dan hal ini pernah di wujudkan dalam sebuah peradaban cemerlang dalam kehidupan islam dalam naungan Khilafah. (wallahu’alam)

banner zoom