Tren Global Mengalami Fluktuasi, Pandemi Masih Menunjukan Eksistensi

Oleh : dr. Siti Anisa Maulidia 
(Praktisi Kesehatan) 

Beberapa waktu terakhir kasus Covid-19 di Indonesia menunjukan tren penurunan. Hal ini berbeda dengan kondisi pandemi secara global. Tren kasus positif Covid-19 di dunia mengalami kenaikan sekitar 2 persen sepekan terakhir. Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa dalam 2 bulan ini, jumlah kasus dan kematian secara global akibat Covid-19 mengalami peningkatan. (www.medcom.id, 26/10/2021)

Di Selandia Baru, kasus baru Covid-19 mengalami peningkatan dalam 1,5 bulan terakhir. Begitu pula Singapura, CDC memasukkan Singapura ke "daftar merah" tujuan perjalanan dan kini berada dalam daftar negara "very high risk" alias berisiko tertinggi Covid-19. Sementara itu, mengutip Johns Hopkins, beban kasus Inggris lebih tinggi menurut standar global. Di mana Inggris memiliki 589,68 insiden kasus baru per juta, dua kali lipat AS dan lima kali lipat Jerman. (www.cnbcindonesia.com, 19/10/2021)

WHO mengakui bahwa pandemi masih jauh dari selesai. Banyak negara mengalami ledakan baru. Menanggapi tren kenaikan kasus Covid-19 secara global, Kemenkes RI menghimbau warga untuk tetap waspada akan gelombang ke 3 walaupun di Indonesia mengalami tren penurunan jumlah kasus Covid-19.

Pandemi yang berlarut-larut telah menegaskan kegagalan WHO dalam menyelesaikan permasalahan pandemi. Solusi “new normal” yang disarankan oleh WHO disaat Covid-19 belum mereda, seperti dipaksakan dan terlalu terburu-buru. Demi meningkatkan roda perekonomian, tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan, pariwisata dan lain-lain resmi dibuka kembali. Kesadaran masyarakat yang kurang dan menganggap ancaman wabah telah berakhir, membuat masyarakat bebas melakukan kegiatan seperti biasa tanpa melakukan protokol kesehatan.

Sebenarnya untuk mempercepat berakhirnya pandemi, tergantung dari solusi seperti apa yang digunakan. Selama solusi itu datang dari ideologi kapitalisme yang berasaskan manfaat, sepertinya pandemi ini akan semakin berlarut-larut. Sebab, tujuan ideologi ini bukanlah keselamatan umat, melainkan kepentingan korporasi besar untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. 

Dengan kondisi keuangan negara dimana sumber daya alam dan kekayaan lainnya yang seharusnya bisa menjadi sumber keuangan negara, justru terkeruk habis oleh korporasi asing. Sehingga, kegiatan 3T (Testing, Tracing, Treatment) yang seharusnya dilakukan secara massif, tidak bisa berjalan akibat kurangnya dana.

Belum lagi persoalan para pejabat yang melakukan korupsi. Dimana dana tersebut seharusnya dipakai untuk penanganan pandemi Covid-19. Pejabat seperti inilah yang lahir dari sistem demokrasi berasaskan kapitalisme sekuler. Mereka tidak mengerti akar permasalahannya sehingga menyelesaikan masalah bukan merujuk pada “pakarnya” tetapi pada “tuannya”.

Berbeda dengan sistem islam, dimana penyelamatan nyawa di atas kepentingan segalanya. Pengambilan keputusan merujuk pada pendapat para pakar yang fokus bertujuan untuk menyelesaikan pandemi. Kebijakannya pun berfokus pada penyelamatan nyawa termasuk kebijakan ekonomi. 

Para pejabat yang lahir dari sistem islam hanya fokus bekerja dalam mengurusi umat. Pejabat yang paham cara mengurus umat dan menerapkan syari’at islam dengan sempurna. Hanya sistem yang ber-ideologi islam lah yang akan menjadi rujukan dalam penanganan pandemi tanpa melakukan hal-hal yang dapat memicu potensi peningkatan jumlah kasus Covid-19 karna faktor perekonomian yang tidak stabil. Tidak akan ada hambatan dalam melakukan 3T secara massif karena kurangnya biaya sehingga pandemi akan segera ditangani.

Negara bertanggung jawab atas keselamatan rakyatnya dan juga berkewajiban memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi. Sebagai pengurus rakyat, negara harus melakukan pelacakan massif dan segera membuat terobosan penanganan termasuk meningkatkan anggaran penanganan. Keseriusan dalam mengurusi rakyat harus mencapai ikhtiar tertinggi. Bagi negara yang mengabdi untuk rakyat, uang berapa pun tidak akan menjadi masalah.

Rasulullah SAW bersabda : ”Jika kalian mendengar tentang wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” ( HR Bukhari dan Muslim) 

Islam memiliki berbagai sistem terbaik yang mampu mengatasi krisis dengan berbagai mekanisme yang sudah di tetapkan Allah SWT. Keselamatan nyawa manusia menjadi hal pokok yang diperhatikan islam, apalagi dalam masa bencana, bahkan meski ia bukan muslim dan bukan warga negaranya. Inilah gambaran sistem islam dalam menyelesaikan pandemi yang tidak akan ada dalam sistem kapitalisme yang sedang memimpin dunia saat ini. 

Walahu a’lam bisshwab. 

banner zoom