Peran Ulama ; Bagai Bintang Ummat

Oleh : Ulinnuha Khoirunnisa (Mahasiswa Pegiat Literasi)

Sejarah tidak akan bisa membohongi, bahwa peran Ulama tidak terpisahkan dari negeri ini. Sejak Nusantara berada dalam pendudukan penjajah, perjuangan melawannya hingga proklamasi kemerdekaan tidak lepas dari darah para syuhada dan ulama.

Apabila ada orang yang paling menginginkan kebaikan bagi negeri ini, salah satu yang lantang bersuara tentu : ulama. Sebab ulama pewaris anbiya', penerus syariat Allah,  sebagai seperangkat aturan yang sudah dijanjikan penerapannya akan membawa Rahmat bagi seluruh alam. 

Di Indonesia, kita tidak asing lagi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai institusi ulama Indonesia, bahkan menjadi rujukan bagi umat muslim di Indonesia.

Namun, belakangan ini banyak bermunculan isu tentang pembubaran MUI bahkan menjadi trending topik di twitter dengan tagar #bubarkanMUI (16/11/2021). Ada apa dibalik isu ini?

Usut punya usut, ramainya tagar ini adalah ditangkapnya salah satu anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang 'diduga' teroris. 

Prof Din Syamsuddin selaku Mantan ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI mengatakan:
" Ketahuilah, kalau ada pihak, siapa pun mereka, yang berani membubarkan MUI maka mereka akan berhadapan dengan umat Islam di seluruh tanah air. Sebagai yang pernah memegang amanah sebagai Ketua Umum MUI dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI saya siap turun lapangan.” dikutip dari Antara, Senin (22/11/2021).

Jika menelisik mundur ke belakang, tidak dipungkiri berbagai citra buruk kerap kali  mencoreng nama ulama. Sudah berkali-kali muncul upaya untuk memberangus suara kritis ulama terhadap kebijakan-kebijakan penguasa. Persekusi, pengasingan, fitnah, ditujukan kepada mereka yang aktif membela ajaran Islam dan mengoreksi pemerintah. 

Oleh karena itu saatnya ummat bersatu membela Islam dan para ulamanya. Dalam sistem sekuler peran ulama dipinggirkan.  Sebabnya, sistem ini tidak menghendaki Islam mengatur urusan kehidupan secara kaffah, sedangkan dalam sistem Islam Ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bagai bintang yang berkilauan menyinari negeri. Adapun hilangnya ulama laksana bintang padam, gelap gulita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabdanya :

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Dan dalam sabdanya yang lain :

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

 “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari No 100).
banner zoom