Rakyat Makin Krisis, Wamen Justru Dapat Bonus Fantastis

Oleh: Vivi Vinuwi (ibu rumah tangga dan aktivis dakwah)

Baru-baru ini Presiden mengeluarkan keputusan mengejutkan terkait bonus fantastis yang diberikan kepada para wakil menteri yang akan berakhir masa jabatannya. Dilansir dari tagar.id 30/08/2021, besaran bonus yang akan diterima eks wakil menteri itu sebesar Rp580.454.000 untuk satu periode masa jabatan. Ketentuan pemberian uang penghargaan itu tertuang dalam Pasal 8 Perpres 77/2021 yang merupakan hasil pengubahan dari beleid sebelumnya.

Sebuah fakta memilukan yang dipertontonkan pejabat publik secara terang-terangan. Pemerintah justru mengeluarkan keputusan yang bertolak belakang dengan kondisi rakyat yang makin terhimpit akibat pandemi virus covid-19. Hal ini tentu bukan yang pertama kali para pejabat pemerintahan justru mempertontonkan hilangnya sense of crisis di tengah krisis yang diderita rakyat. Mungkin masih melekat erat dalam ingatan kita semua bagaimana dana bantuan sosial (bansos) justru dikorupsi oleh menteri sosial, tunjangan fantastis yang pernah didapat oleh wakil rakyat yang "mulia" (anggota DPR), dan kini kembali lagi bonus fantastis untuk wakil menteri. 

Fakta Politik Sistem Demokrasi

Fakta yang terjadi di atas menunjukan bahwa di dalam negeri yang diterapkan sistem demokrasi rupa-rupanya hanya mementingkan kepentingan diri dan golongan para pejabat, namun abai dengan kondisi yang tengah melanda.

Dalih yang digunakan pemerintah adalah  bahwa Wamen sudah menjalankan tugasnya dengan baik untuk mengurusi rakyat dan berhak mendapatkan bonus. Namun pada faktanya belum ada perubahan berarti yang dirasakan rakyat di tengah pandemi. Rakyat masih saja hidup sengsara, korban virus covid-19 juga masih berjatuhan. Angka kriminalitas yang terus meningkat, ancaman PHK dan pengangguran kian merajalela disisi lain rakyat harus terus memperjuangkan sendiri kebutuhannya untuk bertahan hidup.

Inilah fakta politik demokrasi, suara rakyat hanya digunakan ketika pemilu dengan janji-janji manis yang diberikan. Namun, ketika sudah mendapatkan suara dari rakyat mereka tidak lagi memikirkan kepentingan rakyat, yang ada mereka hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan golongannya.

Dukungan politik yang diberikan kepada calon oleh para pendukungnya  tentu tidak gratis. Bagi-bagi kursi kekuasaan ketika Meraka sudah menjabat  sudah menjadi rahasia umum. Gaji dan tunjangan fantastis tentu akan diberikan pula sebagai bagian politik balas budi. Inilah gambaran dari semboyan demokrasi bahwa kedaulatan dan kekuasaan ditangan rakyat hanyalah pemanis belaka, namun sebenarnya adalah racun yang mematikan. Yang ada kedaulatan dan kekuasaan ada bagi para pemilik modal belaka.

Padahal semestinya bonus fantastis yang diberikan kepada Wamen dan yang serupa dengan itu bisa digunakan untuk meringankan beban masyarakat di tengah kondisi masyarakat yang makin kritis.

Politik Dalam Islam Bertolak Belakang Dari Demokrasi

Fakta politik dalam sistem demokrasi tentu jauh dari politik dalam Islam seperti apa, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang. Dalam Islam politik adalah mengurusi urusan umat. Kedaulatan mutlak ada di tangan syara' yang berhak membuat hukum, bukan di tangan manusia ala politik demokrasi. Dan pemimpin dipilih rakyat untuk menjalankan hukum-hukum syara'. Dari sini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah. Pemimpin yang sungguh-sunguh menjalankan tugasnya, karena ia sadar betul kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. 

Rasulullah Saw bersabda yang artinya:

"Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya. Penguasa adalah pemimpin bagi manusia, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang harta yang diurusnya. Ingatlah, masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar).

Kita bisa melihat bagaimana sosok Khalifah Umar Bin Khattab yang rela turut menderita bersama rakyatnya di tengah krisis yang melanda. Ketika bencana terjadi banyak sekali rakyatnya yang merasakan pendetitaan dan kelaparan. Saat itupun beliau bersumpah untuk tidak memakan daging dan minyak samin ketika semua rakyatnya tengah menderita.

"Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita."  Begitulah ucapan yang diucapkan Umar seorang pemimpin sejati yang sangat peduli dengan rakyatnya.

Kita hanya bisa mendapati pemimpin yang peduli terhadap penderitaan yang dirasakan oleh rakyat ketika hidup dalam sistem Islam, bukan dalam sistem demokrasi.

Wallahu a'lam bishshowab


banner zoom