Kurikulum Industri Lemahkan Potensi Anak Negeri


Pendidikan merupakan jembatan untuk mencerdaskan generasi bangsa. Memiliki peranan yang begitu penting dalam kemajuan dan kesejahteraan suatu negara. Pendidikan baik formal atau non formal dapat memperluas wawasan serta pengetahuan masyarakat sehingga rasionalitas penalaran mereka pun akan meningkat. Artinya yang bersangkutan jadi lebih mampu untuk mengambil keputusan atau langkah yang lebih logis dan rasional berkaitan dengan kehidupannya. Pendidikan adalah sarana untuk mendapatkan pengetahuan dan selanjutnya menstimulasi aktivitas penelitian oleh para ahli. Hasilnya adalah penemuan atau terobosan baru yang inovatif dalam berbagai bidang, mulai dari teknik, ekonomi, medis dan sebagainya. Tujuan dilakukannya berbagai riset oleh para ilmuwan ini adalah untuk mempermudah aktivitas manusia serta mendapatkan solusi dari berbagai masalah.

Institusi Pendidikan bertujuan membuat SDM belum terdidik menjadi terdidik. Bagi negara, hal ini merupakan investasi sumber daya manusia yang lambat laun akan membawa peningkatan pertumbuhan ekonomi. Ini karena SDM-SDM terdidik dapat mendorong produktivitas serta fertilitas masyarakat. Masalah kekurangan tenaga kerja baik dalam hal kuantitas atau kualitas utamanya disebabkan oleh mutu pendidikan yang rendah. Ini adalah hambatan yang dihadapi oleh hampir seluruh negara berkembang, termasuk di Indonesia. Selain itu, Sekolah juga menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kemampuan-kemampuan lain yang dibutuhkan di era globalisasi seperti sekarang. Misalnya keterampilan dalam berkomunikasi, bekerjasama, mengembangkan kemampuan analisa kritis, problem solving, inovasi, dan sebagainya. Kompetensi-kompetensi inilah yang menjadi pemicu terjadinya produktivitas.

Namun sayangnya, tujuan hakiki pendidikan ini telah terabaikan. Bukannya mengembangkan kurikulum yang bisa memaksimalkan kreasi dan inovasi anak bangsa, Presiden Jokowi justru menyarankan kurikulum pendidikan diarahkan kepada kurikulum industri. Khususnya bagi pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. Di era yang penuh disrupsi seperti sekarang ini, kata dia, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri sangat penting. "Ajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri, bukan kurikulum dosen, agar para mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata," kata Jokowi dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia yang ditayangkan YouTube Universitas Gadjah Mada, Selasa 27 Juli 2021 yang lalu (kompas.com, 27/7/2021).

Jokowi mengatakan, keterampilan dan pengetahuan mahasiswa harus sejalan dengan perkembangan terkini dan masa depan. Ia mengingatkan bahwa banyak pengetahuan dan keterampilan yang menjadi tidak relevan lagi dan menjadi usang karena disrupsi. Namun, menurut Presiden, di saat bersamaan, banyak pengetahuan baru yang bermunculan. Banyak jenis pekerjaan yang hilang karena disrupsi, tetapi pekerjaan baru di masa kini dan masa mendatang juga bermunculan akibat disrupsi. Merespons perubahan itu, Jokowi menekankan agar jangan sampai pengetahuan dan keterampilan mahasiswa justru tidak menyongsong masa depan.

Dijadikan industri sebagai basis atau asas pendidikan di negeri ini merupakan suatu hal yang wajar, hal ini senada dengan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di awal pengangkatannya yang memastikan akan adanya link dan match yaitu keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri. Hal ini pun sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang ingin membuat berbagai terobosan signifikan guna menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap bekerja dan siap berusaha. Dengan kata lain target pendidikan di era presiden Joko Widodo yang kedua ini akan menitikberatkan pada aspek kompetensi (kemampuan) khususnya menghadapi dunia kerja yang makin berkembang.

Akan tetapi, menjadikan industri sebagai asas pendidikan merupakan suatu hal yang berbahaya. Arah pendidikan akhirnya akan ditentukan pada kebutuhan pasar dan industri sehingga output pendidikan hanya fokus pada banyaknya lulusan yang terserap. Akibatnya pelajaran yang tidak sesuai kebutuhan pasar akan dihilangkan. Arah pendidikan tidak lagi dimaksudkan untuk mencetak SDM yang berkualitas dari aspek karakter melainkan ditujukan untuk mencetak SDM mesin industri. Dengan kata lain, kurikulum ini hanya akan mencetak para buruh industri bukan pencipta inovasi.  Padahal, tidak adanya SDM ahli berkualitas yang produktif dan inovatif merupakan pangkal persoalan diserahkannya aset negara yang penting kepada asing. Inilah yang justru membuat bangsa Indonesia terus terpuruk dalam hal ekonomi dan kemudian berdampak kepada lini yang lain. 

Selain itu, kurikulum pendidikan berbasis industri akan mengakibatkan berkurangnya SDM untuk sektor vital negara. Hal ini disebabkan karena bergesernya minat peserta didik akibat fokus pada terserapnya lulusan di pasar. Alhasil pendidikan menjadi alat makin berkuasanya para korporat dan negara menjadi semakin kapitalis. Negara tidak akan bergerak maju. Rakyat bawah akan tetap dibawah, sedangkan para pemilik modal akan semakin berjaya. Inilah tujuan tersembunyi dibalik sistem kapitalisme, yaitu melanggengkan kuasa para pemilik modal.  Dalam sistem kapitalisme, bahkan sektor pendidikan dikomersilkan, dijadikan komoditas pasar yang bisa diperjualbelikan. Sistem dan kurikulum pendidikan bisa berubah sesuai dengan keinginan korporasi. 

Dalam sistem pendidikan Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam dimana pola pikir dan pola sikap di standarisasi sesuai dengan Islam bukan berbasis kebutuhan pasar. Pendidikan adalah gerbang utama lahirnya generasi unggul. Islam tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan dan keahlian yang berorientasi menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Namun kurikulum pendidikan di dalam Islam dibuat untuk mewujudkan lahirnya generasi yang memiliki berkepribadian Islam sekaligus  menguasai berbagai ilmu yang bermanfaat bagi seluruh manusia. Terbukti dalam kejayaannya Islam, banyak muncul penemu terkenal, seperti Ibnu Sina yang dijuluki bapak kedokteran modern, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi ahli matematika Islam yang dikenal sebagai penemu aljabar, Ibn Al Haytam dijuluki bapak optik modern, dan masih banyak penemu-penemu Islam lainnya. 

Pendidikan di dalam Islam bukan hanya berorientasi dunia semata, namun menyatukan tujuan dunia dan tujuan akhirat sebagai satu kesatuan. Islam menanamkan akidah dan menancapkan pemahaman bahwa segala perbuatan yang bermanfaat bagi manusia akan  bernilai pahala dan kebaikan. Dengan  pemahaman ini, setiap muslim akan berlomba dalam kebaikan, bersungguh-sungguh dalam pendidikan agar mampu memberikan sumbangsih bagi kehidupan manusia sebagai wasilah meraih ridha Allah SWT. Pendidikan dalam naungan islam, akan melahirkan generasi yang memiliki kepribadian mulia, cakap dan bermental pemimpin. Hanya islam yang mampu menciptakan sistem yang mensejahterakan seluruh umat manusia. Wallahualam Bishowab.

Penulis: Dinda Kusuma W T (Aktivis Muslimah Jember)

banner zoom