Nestapa Muslim Dunia ditengah Merebaknya Islamophobia


Islamophobia sebenarnya adalah istilah kontroversi yang baru-baru ini viral ditengah masyarakat. Biasa diartikan sebagai sikap berprasangka, diskriminasi, ketakutan dan kebencian terhadap islam dan muslim. Istilah ini sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Gejala ini pun bak penyakit menular, menjangkit hingga ke seluruh dunia. Baru-baru ini, tepatnya Minggu, 6 Juni 2021 yang lalu, empat orang muslim yang merupakan satu keluarga di selatan Ontario, Kanada, tewas diserang orang tak dikenal. Pelaku serangan adalah seorang pemuda berusia 20 tahun. Pemuda itu menabrakkan mobil pickup yang dia kendarai ke arah keluarga muslim yang sedang berjalan kaki di trotoar. Pelaku yang mengenakan "seperti pelindung tubuh" itu, langsung lari dari tempat kejadian, namun berhasil ditangkap di sebual mall 7 km dari persimpangan London. "Ada bukti bahwa ini adalah tindakan yang direncanakan, dimotivasi oleh kebencian. Diyakini bahwa para korban ini menjadi sasaran karena mereka muslim," kata Inspektur Detektif Paul Waight yang menyelidiki kasus ini. Wali Kota London Ed Holder pun ikut berkomentar, "Biar saya perjelas, ini adalah tindakan pembunuhan massal yang dilakukan terhadap muslim, terhadap warga London, yang berakar pada kebencian yang tak terkatakan," kata Holder (detiknews.com, 08/06/2021) 

Kebencian terhadap muslim ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak 9/11, banyak negara di dunia yang mengasosiasikan islam dengan terorisme. Anggapan itu diikuti fakta hadirnya organisasi- organisasi teror yang memakai identitas islam. Negara pun ikut andil dalam memupuk subur Islamophobia ditengah masyarakat. Apabila kita telaah dan kita pilah, Orang-orang yang terjangkit Islamophobia ini bisa digolongkan menjadi dua. Pertama, golongan orang "ikut-ikutan" membenci islam karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya. Golongan ini bisa jadi adalah kaum muslimin itu sendiri, seperti yang terjadi di Indonesia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim, namun Islamophobia justru berkembang dengan sangat subur. Sikap kita terhadap golongan ini adalah terus berusaha memahamkan mereka terhadap ajaran Islam yang benar dengan aktivitas dakwah. Sebagaimana kisah sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab ra yang pada awalnya sangat membenci ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah, bahkan ingin membunuh Rasulullah dengan tangannya sendiri. Namun, setelah tersentuh hatinya oleh islam, maka menjadi orang yang paling terdepan dalam membela Rasulullah dan ajaran Islam yang dibawanya. Disinilah kewajiban kita untuk terus berdakwah, melawan pemikiran yang melenceng agar menjadi pemikiran islam yang lurus.

Kedua adalah golongan pembenci islam sejati. Mereka adalah orang-orang yang sengaja menyebarluaskan kebencian terhadap islam. Bahkan tidak segan mengeluarkan dana yang besar untuk menjatuhkan islam. Mengembangkan paradigma yang salah tentang ajaran Islam, sehingga timbul rasa takut di hati masyarakat terhadap ajaran islam. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT, "Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (TQS. Muhammad [47]: 8-9). Terhadap orang-orang yang seperti ini kita hendaknya berhati-hati, tidak menjadikan mereka pemimpin diantara kita. Pembenci islam selamanya memang tidak akan pernah lenyap, karena tabiat kebenaran dan kebathilan itu akan selalu berperang. Demikian islam sebagai agama sempurna yang membawa kebenaran akan selalu mendapat serangan dari orang-orang yang berpihak pada kebathilan. 

Islamophobia bisa bertahan dan membesar seperti sekarang diantaranya karena media dunia cenderung memelihara narasi bahwa islam adalah sumber teror. Kemudian, kebencian terhadap islam semakin terpelihara sejak membesarnya arus globalisasi yang didukung perkembangan teknologi. Islam dianggap ajaran yang menghambat dan bertolak belakang dengan globalisasi. Padahal kemunculan phobia ini justru tidak sesuai dengan prediksi dampak globalisasi yang seharusnya globalisasi dan kemajuan teknologi akan membuat orang makin terbuka terhadap perbedaan. Maka, umat islam tidak boleh tertinggal dalam teknologi informasi. Penguasaan  media yang baik dan kemampuan berkomunikasi yang prima menjadi kata kunci dalam membentuk persepsi publik tentang suatu masalah. Peran media saat ini memang menjadi suatu yang strategis dalam membangun persepsi publik. 

Ketakutan dan kebencian terhadap identitas baru, seperti rasisme, termasuk islamophobia harus dihilangkan karena pasti akan membawa persolaan sosial yang besar. Seperti sikap diskriminasi dan tindakan kejahatan terhadap muslim yang sudah banyak terjadi. Yang paling utama, tidak usai-usainya nestapa umat islam di dunia ini adalah tidak adanya kesatuan umat islam dibawah satu kepimpinan tunggal. Berbagai penindasan terhadap umat islam di dunia tidak akan pernah selesai kecuali diangkat seorang pemimpin (khalifah) yang akan melindungi seluruh umat islam, menghapus segala bentuk penjajahan kapitalis sekuler, dan menjadikan islam benar-benar sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Penulis: Dinda Kusuma W T (aktivis muslimah jember) 


banner zoom