-->

Tarhib Ramadhan dan Harapan Kemenangan Islam

Oleh : Neti Ummu Hasna

Marhaban Ya Ramadhan. Ya, tak terasa tamu agung, bulan yang suci nan mulia ini sebentar lagi akan tiba. Meskipun saat ini kita tengah diuji dengan wabah covid 19, namun selayaknya kita tetap men-tarhib Ramadhan.

Tarhib dalam bahasa Arab berasal dari kata rahhaba, yurahhibu, tarhiiban yang berarti melapangkan dada, menyambut dengan mesra serta senang hati. Dalam konteks ini, tarhib alias menyambut bahagia kedatangan bulan suci Ramadhan termasuk tuntunan iman yang sejati. 

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Allah berfirman, "Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata. 
“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“

Imam Thabrani meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan, maka ucapkanlah selamat datang kepadanya, karena ia akan datang membawa berbagai keberkahan. Maka alangkah mulianya bulan yang datang itu."

Dalam hadits dari Imam Thabrani tersebut, kita patut bergembira menyambut datangnya Ramadhan dikarenakan turunnya ragam keberkahan di bulan Ramadhan.

Berkah berarti segala bentuk kenikmatan, kebaikan, dan anugerah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dengan kata lain pada bulan Ramadhan, Allah SWT menebarkan rahmat dan ampunan-Nya serta peluang dibebaskannya setiap hamba dari sentuhan siksa api neraka jahanam.

Karena itu, Rasulullah SAW biasa melakukan tarhib Ramadhan. Bahkan, Nabi SAW telah men-tarhib Ramadhan dua bulan sebelumnya. Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik RA, ketika memasuki bulan Rajab Nabi SAW berdoa: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadhan. (HR Imam Ahmad dan Ath Thabrani)

Hal ini dicontohkan Rasulullah sebagai upaya untuk menanamkan kerinduan terhadap Ramadhan sekaligus sebagai persiapan. Tanpa persiapan, puasa Ramadhan hanya akan menjadi kegiatan ritual keagamaan tahunan tanpa makna, tanpa pahala, dan tidak mampu memberikan pengaruh positif bagi kehidupan.

Ramadhan merupakan bulan perjuangan. Nabi SAW mendorong kaum Muslim untuk meningkatkan ibadah dan mengisi bulan Ramadhan dengan memperbanyak amal kebajikan. Tidak hanya meningkatkan ibadah yang bersifat ruhiah seperti sholat tarawih, membaca al-Quran, sedekah, zikir, dan lain-lain. Namun, Ramadhan pada masa Nabi SAW. juga diisi dengan aktivitas jihad untuk memerangi orang-orang kafir.

Tercatat kemenangan kaum muslimin dalam peperangan melawan kaum kafir terjadi di bulan Ramadhan. Diantaranya kemenangan umat Islam dalam Perang Badar. Pada bulan ini pula terjadi peristiwa Fath Makkah (Pembebasan Kota Makkah) oleh kaum Muslim, yakni tanggal 20 Ramadhan 8 H.

Setahun kemudian, yakni pada Ramadhan tahun ke-9 H, Rasulullah saw. berserta kaum Muslim terlibat dalam Perang Tabuk. Pada bulan itu pula datang utusan dari Bani Tsaqif di Thaif datang menghadap Rasulullah saw. untuk menyatakan keislaman mereka.

Ramadhan tahun ke-10 H, Rasulullah saw.  mengutus Ali bin Abi Thalib untuk membawa surat dan menyampaikan dakwah ke Yaman, khususnya kepada Bani Hamdan. Dalam satu hari, penduduk Bani Hamdan menyatakan keislaman mereka.

Sesungguhnya sangat banyak daftar kemenangan yang didapatkan oleh kaum Muslim pada bulan Ramadhan tersebut. Misalnya pada Ramadhan 15 H, pasukan kaum Muslim yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqash meraih kemenangan di Perang Qadisiyah. Kemenangan tersebut menjadi pintu pembebasan ibukota Persia al-Madain dan seluruh Persia.

Memperjuangkan Islam

Menjelang Ramadhan tahun ini kaum muslimin di seluruh dunia masih diliputi penderitaan dan kesengsaraan buah dari sistem kapitalisme. Penjajahan dan penindasan masih menimpa sebagian kaum muslim di Palestina, Suriah, muslim Rohingya, Uighur, Kashmir dsb. 

Sementara di negeri-negeri yang lain termasuk Indonesia kaum muslim harus menanggung beban penderitaan, perekonomian yang sulit, kemiskinan, rezim yang korup, kerusakan moral generasi muda akibat sistem kapitalis sekuler. 

Kaum muslim akan bisa terbebas dari penderitaan dan penjajahan hanya ketika mereka mencampakkan dan membebaskan dirinya dari sistem kapitalisme sekuler tersebut dan kembali kepada Islam. Tidak ada jalan lain untuk mewujudkan itu semuanya kecuali melalui perjuangan dan dakwah yang sungguh-sungguh.

Maka Ramadhan sebagai afdhal asy-syuhûr (bulan paling utama), yang di dalamnya terdapat afdhal al-layl (malam yang paling utama), merupakan momentum yang tepat untuk diisi dengan afdhal al-qurbât (pendekatan paling utama kepada Allah). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan.  

Wajib menegakkan kepemimpinan, baik karena alasan menegakkan agama maupun pendekatan diri kepada Allah. Sebab sesungguhnya pendekatan diri kepada Allah dalam hal kepemimpinan ini, yaitu dengan menaati Allah dan Rasul-Nya, adalah pendekatan paling utama kepada Allah (Ibnu Taimiyah, Asy-Siyâsah asy-Syar’iyyah, hlm. 161).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan:

Wajib diketahui bahwa wilâyah amri an-nâs (Imama/Khilafah) adalah kewajiban agama yang paling agung karena agama tidak akan tegak tanpa Imamah/Khilafah.

Imam al-Haitami juga berkata, “Ketahuilah bahwa para Sahabat ridhwânulLâh alayhim telah berijmak bahwa mengangkat imam setelah masa kenabian usai adalah wajib. Mereka  bahkan menjadikan hal itu sebagai kewajiban paling penting. Buktinya, mereka sibuk mengangkat pemimpin (khalifah) daripada mengurus pemakaman Rasulullah saw. (Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7).

Inilah urgensitas tegaknya kepemimpinan bagi umat Islam, yakni Khilafah. Di dalam Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Imam al-Ghazali juga telah mengungkapkan pentingnya kekuasaan dan agama:

 dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya runtuh dan sesuatu yang tanpa penjaga niscaya lenyap.

Oleh karena itu, jika kita telah tahu bagaimana Rasulullah saw., para sahabat serta generasi berikutnya  bersikap saat Ramadhan tiba, maka begitu pula seharusnya kita, umat Islam, yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw.

Alhasil, mari kita menjadikan Ramadhan yang akan datang ini sebagai momentum untuk terus meningkatkan perjuangan dan dakwah agar kehidupan Islam tegak kembali. Sebuah kehidupan yang diatur dengan syariah Islam secara kâffah. 

Berdakwah untuk mewujudkan tegaknya syariah Islam adalah implementasi dari ketakwaan yang juga ingin kita raih di bulan Ramadhan ini. Sebab ketakwaan sejati adalah ketika terikat dengan syariah Islam. Tegaknya syariah Islam secara kâffah hanya akan terwujud dengan tegaknya Khilafah Rasyidah Islamiyah. 

Wallahu a'lam bish-showwab.