Takutlah Hanya Kepada Allah Semata

Oleh : Nurhayati (Aktivis Dakwah di Kota Depok) 

Setiap makhluk yang bernyawa di muka bumi ini pastilah memiliki rasa takut, tanpa terkecuali. Kita bisa lihat kisah Qorun yang mengaku sebagai Tuhan karena memiliki begitu banyak harta. Ternyata di balik itu, Qorun memiliki ketakutan akan hilang atau berkurang hartanya, sehingga menyebabkan dia pongah, rakus, tamak, kikir, pelit bahkan jumawa. Qorun mengira hartanya merupakan hasil kerja kerasnya semata. Azab Allah pun turun kepadanya. Qorun dibenamkan ke bumi bersama harta yang ditakutkan kerugiannya itu. 

Begitu juga kisah Fir’aun. Ketika Fir’aun menjadi seorang pemimpin, dia sangat jahat dan lancang kepada kaumnya dan menentang Allah dengan mengatakan dia adalah Tuhan. Namun, di balik itu dia memiliki ketakutan yang amat sangat terhadap kekuasaannya. Ia takut akan ada yang menggantikannya. Karena rasa takutnya itu, dia akan menguburkan hidup-hidup seluruh bayi laki-laki yang lahir pada saat itu. 

Itu hanya contoh kecil dari Al-Qur’an tentang rasa takut akan kehilangan harta, kekuasaan dan jabatan yang  menyebabkan pelakunya inkar terhadap Allah SWT. Namun, bisa kita ambil ibrah atau pelajaran darinya.

Bagaimana dengan kita sebagai makhluk Allah yang lemah yang tidak memiliki kekuasaan, jabatan bahkan harta, apakah kita memiliki rasa takut? Tentu saja, pasti kita memiliki rasa takut. Saai ini kita takut dengan kondisi ekonomi, kondisi saat pandemi yang semakin mengkhawatirkan,  takut akan anak-anak kita yang saat ini pergaulannya sangat memprihatinkan, atau kita takut suami yang kita cintai tergoda oleh rayuan pelakor. Bahkan yang paling menakutkan adalah ketakutan pada kematian yang sudah menunggu kita di depan mata. Namun takut yang seperti demikian apakah harus ada dalam hati setiap Muslim? 

Memang, ketakutan yang demikian wajar saja dialami oleh kita. Bahkan, dalam kitab Mim Muqqawwimat dijelaskan takut adalah sesuatu hal yang wajib harus ada pada diri tiap-tiap seorang Muslim, namun terhadap hal apa? Yakni, takutnya seorang makhluk adalah ketakutan kepada penciptanya Allah SWT dalam keadaan terlihat (terang-terangan) atau tersembunyi sekalipun. Hal ini terdapat dalam Qur’an Surah al-Baqarah ayat  40 yang artinya, “Dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut/tunduk.”

Kemudian diperkuat lagi dalam Qur’an Surah al-Maidah ayat 44 yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.”

Dari dua ayat di atas begitu jelas disebutkan seorang Muslim tidak boleh takut dengan sesuatu yang lain selain takut kepada Allah semata. Namun, bagaimana refleksi kita untuk mewujudkan rasa takut kita kepada Allah SWT? Tidak lain dan tidak bukan kita harus melaksanakan seluruh apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan-Nya baik secara terang-terangan atau tersembunyi, melaksanakan seluruh perintah di dalamnya mencakup melaksanakan Islam secara kaffah yang telah Allah SWT tetapkan dengan bersegera tanpa tapi tanpa nanti.

Namun, saat ini sudahkah kita melaksanakan perintah Allah SWT secara kaffah/keseluruhan? Saat ini kita hanya bisa melaksanakan sebagian yang Allah wajibkan saja. Kita hanya bisa melaksanakan ibadah mahdah saja seperti shalat, zakat, puasa, naik haji, namun dalam berekonomi dan uqubah kita lepas dari aturan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari kita masih terikat dengan hukum yang bukan aturan dari  Allah. 

Bagaimana kita sudah menganggap biasa pembunuhan padahal dalam hukum Allah hukumannya adalah qisas, perzinaan  hukumannya adalah dirajam atau dijilid, pacaran, minum-minuman keras sebagai biang masalah bisa dibeli dengan bebas, narkoba yang begitu marak. Ternyata, semua itu terjadi karena penguasa saat ini menggunakan aturan buatan manusia yang lemah dan bisa berubah dan tidak diterapkannya hukum Allah SWT. 

Sebagaimana dalam firman Allah SWT Surah al-Maidah ayat 50 yang artinya, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Maka cukuplah bagi kita sebagai Muslim  hanya takut terhadap Allah SWT semata dengan tetap berusaha agar Islam kaffah yang hanya diterapkan dalam naungan khilafah akan segera terwujud. Segeralah interopeksi diri dan mengambil pelajaran darinya. Namun, sudahkah kita menjadi manusia yang hanya takut terhadap Allah SWT saja? Marilah kita sama-sama bergegas menuju kepada ampunan Allah SWT yang luasnya  seluas langit dan bumi dengan bersama-sama melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya tanpa tapi tanpa nanti dengan bersegera menegakkan syariat Allah di muka bumi ini dalam naungan khilafah. 

Waallahu a'lam bishawab.

banner zoom