Bencana Alam Bukan Sekadar Gejolak Alam


Oleh : Asma Ramadhani (Siswi SMAIT Al Amri)

Kabar duka menyambut awal tahun 2021. Berbagai fenomena dan bencana alam bersaut-sautan menghampiri Indonesia. Mulai dari banjir, gempa, badai abu vulkanik hingga erupsi gunung merapi. Tak heran jika jagad dunia maya dipenuhi tagar #PrayForIndonesia sebagai bentuk belasungkawa kepada para korban yang terdampak bencana alam.

Fakta banjir besar di Kalimantan Selatan dan gempa di Sulawesi Barat menjadi pukulan yang menyadarkan masyarakat atas keadaan negeri yang semakin hancur. Di samping itu, pandemi COVID-19 yang kian hari semakin menyebar luas dan menjangkiti berbagai kalangan, menjadi titik lemah masyarakat. Mulai dari bantuan domestik yang terbatas, fasilitas kesehatan yang tak memadai, bahkan tempat pengungsian dan karantina yang hanya bisa menampung dengan kapasitas tertentu.

Gejolak alam memang melatarbelakangi berbagai fenomena tersebut, akan tetapi yang menjadi penyebab utama adalah rusaknya kondisi alam Indonesia akibat pembangunan eksploitatif. Berdasarkan laporan tahun 2020, terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi. Belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah.

Dari total luas wilayah 3,7 juta hektar, hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di tanah borneo.

Bencana alam akibat kerusakaan ekologis adalah buah busuk yang mengiringi pembangunan eksploitatif yang sekuler kapitalistik. Pembangunan dan pengerukan sumber daya alam secara terus-menerus tidak dibarengi dengan pelestarian dengan reklamasi. Tak heran jika alam Indonesia semakin tak keruan, para pejabat negara pun seolah tak peduli dengan kondisi alam yang memburuk.

Keuntungan segelintir orang dengan memanfaatkan hak milik umum tidak menjadi penghalang para korporasi untuk semakin mengembangkan bisnis di Indonesia. Nasib rakyat kecil yang bermukim di dekat sumber-sumber alam tak dihiraukan, dan malah harus menanggung dampak dari bencana alam.

Dalam Islam, periayahan seperti ini sangat jauh dari syariat. Islam memerintahkan untuk mengelola lingkungan, menyerasikan pembangunan dengan karakter alam, dan tanggung jawab negara untuk melindungi rakyat dari bencana. Sehingga fenomena-fenomena yang tidak terduga bisa ditanggulangi dengan adanya persiapan fisik dan materi dari negara.

banner zoom