Kejahatan Demokrasi Kapitalis dibalik Bencana

Oleh : Widarningsih Pamungkas (Aktivis Dakwah Klaten)

Avatar (2009) sebuah film science fiction besutan sutradara James Cameron, menggambarkan jauh ke masa depan ketika cadangan energi bumi telah habis, kemudian manusia mencari sumber energi lain di sebuah planet yang bernama Pandora. Sayangnya, keserakahan para manusia dalam mengeruk ubtonium di planet itu telah merusak  ekosistem alam.

Tak perlu melirik jauh ke masa depan, di masa sekarang pun keserakahan manusia  itu telah menuai bencana. Kalimantan Selatan dilanda banjir besar sejak sepekan lalu. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir ditengarai menjadi salah satu penyebab nya. Benarkah demikian? Usut punya usut, selain curah hujan yang tinggi, ada faktor penyebab yang lain. Yakni terjadinya perubahan ekosistem alam akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan maupun pertambangan. Akibatnya, Kalimantan Selatan mengalami degradasi lingkungan.

Efek Pembangunan Eksploitatif

Menurut penuturan Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja  antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun (Kompas.com 15/1). Tak hanya itu, Direktorat Jenderal Perkebunan (2020) mencatat, luas lahan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan mencapai 64.632 hektar.

Dalam sektor pertambangan, direktur WALHI Kisworo Dwi Cahyono  menyebutkan di provinsi tersebut terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara.

Sebagian lubang berstatus aktif, sebagian lain telah ditinggalkan tanpa reklamasi. Dari 3,7 juta hektar total luas lahan di Kalsel, hampir 50 persen diantaranya sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit (CNBC Indonesia 16/1)

Hutan Kalimantan selatan juga telah mengalami penurunan. Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh di LAPAN, Rokhis Khomarudin, menjelaskan antara tahun 2010 hingga 2020 terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektar dan 47.000 hektar.

Dari data-data diatas, kita bisa mengetahui bahwa aktivitas pertambangan dan perkebunan yang terjadi di Kalimantan Selatan telah membuat separuh hutan hujan di Kalimantan Selatan hancur. Keberadaan pohon-pohon di hutan sangat penting. Akar akar nya berfungsi membantu tanah mengikat air. Dengan berkurangnya luas hutan, tentu membuat daerah resapan air menjadi berkurang. hamparan hutan yang kering, tandus dan meninggalkan lubang dimana-mana. Eksploitasi lingkungan yang dilakukan para pengusaha tambang maupun sawit itu kini telah membuat puluhan ribu orang mengungsi akibat banjir yang menerjang. 

Kejahatan Demokrasi Kapitalis

Begitulah hasilnya ketika tangan-tangan serakah manusia mengeksploitasi lingkungan demi keuntungan, rakyat lah yang menjadi korban atas kerakusan mereka. Sebuah konsekuensi dari sistem kapitalis yang profit oriented. 

Padahal, kekayaan alam seharusnya diolah oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat untuk kemakmuran. Bukan diberikan kepada pihak swasta dengan dalih investasi sebagai pihak pengolah. Namun, lagi-lagi inilah konsekuensi dari diterapkannya sistem demokrasi di negeri ini. 

Demokrasi tidak bisa berdiri tanpa korporasi. Budget mahal demokrasi membuat nya mau tak mau harus kawin siri dengan para korporat para pemilik modal. Akhirnya, pemimpin terpilih pun tersandera oleh kepentingan-kepentingan para korporat. Begitulah, balas budi politik. Maka tak heran bila kebijakan pemerintah lebih pro kepada para korporat. Sebagai contoh adalah pengesahan UU Minerba dan UU Omnibus Law Cipta kerja di tengah pandemi. Meski terjadi gelombang penolakan, toh para pembuat kebijakan tetap melenggang. Hati nurani mereka telah terpenjara dalam kungkungan tangan-tangan para korporat.

Inilah kejahatan demokrasi kapitalis! Sistem busuk yang tak akan bisa berpihak pada rakyat! Dia harus dienyahkan. Kita tentu tidak ingin Kalimantan Selatan dan bumi indonesia yang lain hancur. Maka, kita harus selamatkan negeri ini. Tak cukup hanya dengan mengganti orang-orang yang duduk di parlemen. Karena berkali-kali berganti rezim hasilnya terbukti sama. 

Demokrasi kapitalis harus diusir dari negeri ini. Selayaknya para pasukan RDA-penjarah planet Pandora di film Avatar- yang akhirnya dipulangkan ke tempat asal mereka. Lalu, jika demokrasi kapitalis diusir, sistem apakah yang akan menaungi negeri ini? Adakah sistem lain yang tidak berpihak pada korporat dan tidak berkhianat dari rakyat? Tentu saja, ada ! Dialah sistem Islam. 

Islam sebagai rahmat seluruh alam, Insya Allah akan membuat Indonesia lebih sejahtera. Allah menjamin nya dalam salah satu firman Nya.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya" (Terjemah QS Al A'raf ayat 96).

Sebagai hamba yang beriman, kita tidak boleh ragu akan firman Nya. Sudah saat nya kita bertaubat, meninggalkan seluruh maksiat. Kemaksiatan yang terbesar ialah menggunakan hukum buatan manusia yang lemah dan terbatas. Mari bersegera menerapkan hukum-hukum Allah, untuk negeri yang makmur dan sejahtera.

Wallahu'alam

banner zoom