Khilafah : Kebutuhan Nusantara dan Dunia

Oleh : Cucu Suwarsih

Penamabda.com - Film dokumenter Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) yang ditayangkan pada tanggal 1 Muharram 1442 H atau 20 Agustus 2020 sampai saat ini masih menjadi perbincangan hangat, menjadi bahan diskusi dan menuai pro-kontra.

Menurut penulis skenario dan sutradara bung Nicko Pandawa, film ini dibuat untuk memberikan sarana edukatif tentang jejak khilafah di Nusantara. Film yang berdurasi 57 menit ini mengangkat keterkaitan kesultanan di Nusantara dengan kekhilafahan.

Dari film tersebut kita bisa mengambil banyak pelajaran bahwa Nusantara memiliki hubungan yang erat dengan kekhilafahan yang selama ini tidak kita dapatkan dalam pelajaran sejarah disekolah. Dulu disekolah cuma diajarkan bahwa Islam masuk ke Nusantara dari Gujarat India lewat jalur perdagangan. Padahal mereka itu adalah para utusan khalifah, yang misi utamanya adalah untuk menyebarkan dakwah Islam.

Khilafah bukanlah istilah asing, sejarah Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran kekhilafahan. Dulu, sebelum merdeka (17/8/1945) di Nusantara terdapat pusat-pusat kekuasaan Islam, mulai kesultanan Aceh di Barat hingga kesultanan Ternate diujung Timur. Selama masa kesultanan diterapkan aturan-aturan Islam.

Sejarah perjuangan Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari agenda khilafah Islam. Setelah institusi khilafah Islam Utsmaniyah dibubarkan pada 3 maret 1924, Islam dan tokoh pergerakan Islam di Nusantara merespon dengan pembentukan komite khilafah yang didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924. Kongres ini memutuskan untuk mengirim delegasi ke kongres khilafah di Kairo.

Semua ini menunjukkan kepalsuan tuduhan berbagai pihak yang mengatakan bahwa Nusantara tidak ada hubungannya dengan kekhilafahan. Bahkan khilafah sering difitnah dapat memecah belah, khilafah justru bisa menyatukan dan menebar rahmat. Dan yang pasti khilafah adalah ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, ibadah haji, dan yang lainnya. Dan menegakkan khilafah hukumnya adalah wajib.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً 

Siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada baiat (kepada Imam/Khalifah), maka ia mati jahiliah (HR Muslim).

Bahkan Kementrian Agama sendiripun telah mengeluarkan buku Fikih bagi siswa madrasah kelas XII, edisi 2016. Didalamnya dijelaskan hukum membetuk pemerintahan (khilafah) adalah fardlu kifayah.

Saat ini kita bisa menyaksikan, bahwa problematika kaum muslim diberbagai penjuru dunia tidak bisa diselesaikan oleh sistem yang ada yaitu kapitalis-sekuler. Muslim Rohingnya, Uighur, Palestina, dan diberbagai belahan dunia lainnya hidup dalam dekapan penderitaan tiap hari. Sekat-sekat nation-state (negara-bangsa) telah menghalangi kaum muslim untuk saling membantu satu sama lain.

Umat Islam yang mestinya bersatu tercerai-berai. Sehingga umat tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri dari berbagai makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam.

Secara ekonomipun, meski sebagian negeri muslim cukup kaya, tak sedikit umat Islam yang hidup dalam kemiskinan. Akibat miskin, muncul berbagai persoalan sosial seperti kriminalitas, pemurtadan dan sebagainya. Semua itu berpangkal dari penerapan kapitalis-sekuler sejak khilafah tidak lagi ditegakkan.

Khilafah adalah kebutuhan untuk menyatukan dunia Islam. Dengan persatuan itu kekuatan umat akan terbentuk. Dengan kekuatan itu juga kita bisa melindungi harta, jiwa dan kehormatan umat Islam diseluruh dunia termasuk Nusantara.

Oleh karena itu kita tidak perlu lagi takut dengan khilafah. Seharusnya kita saling bahu-membahu untuk tegaknya kembali khilafah dimuka bumi ini, agar Islam rahmatan lil'aalamiin dapat terwujud. Allahu Akbar

Wallahu a'lam bishowab
banner zoom