VIRAL !! Penayangan Perdana Film Khilafah “Jejak Khilafah Di Nusantara”

Oleh : Lisa Satryana
(Aktivis Muslimah Dakwah Kampus)

Penamabda.com - Keren ! Hari KAMIS Tanggal 20 Agustus 2020 diselenggarakan Film Jejak Khilafah Di Nusantara oleh tim Khilafah Channel yang berkolaborasi dengan Komunitas Literasi Islam dimana Film ini Membuka Cakrawala Sejarah Masuknya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara. 

Banyak film sejarah tentang perkembangan peradaban di Indonesia. Mulai dari zaman kerajaan, hingga kemerdekaan. Namun, inilah film sejarah pertama yang membahas tentang awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Tentang hubungan masyarakat dan kesultanan Islam di Nusantara dengan Khilafah Islamiyah. Serta sumbangsih Islam terhadap peninggalan dan peradaban di Nusantara.

Jika Islam dapat begitu banyak berpengaruh di Nusantara, lantas benarkah Islam masuk ke Indonesia melalui cara yang tidak sengaja dibawa oleh para pedagang dari timur tengah?
Dan apabila begitu banyak kerajaan Islam di Nusantara, lalu apakah mereka berinisiatif untuk berdiri secara independent? Jika iya, bagaimana bisa mereka mengenal Islam dan berbagai macam ajarannya? Bagaimana pula, mereka bisa membawa ajaran Islam dalam kehidupan berpolitik dan bernegara?

Serta, siapakah sebenarnya para Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam di berbagai pulau di kala itu? Bagaimana garis keturunan dan hubungan mereka dengan masyarakat Islam internasional?
Yukk langsung aja kita bahas pesan-pesan yang disampaikan oleh narasumber dan pakar-pakar sejarah yang ditayangkan dalam pemutaran film khilafah di nusantara.

Film JKDN ini memiliki serangkaian acara dan tausiyah yang disampaikan oleh para Ulama nusantara untuk membangun dan menambah semangat perjuangan Islam. Tausiyah pertama disampaikan oleh Ustadz Rokhmat S.Labib beliau mengingatkan kembali kepada umat Islam bahwa tahun baru Hijriyah bukanlah tahun baru yang biasa. Tahun baru Hijriyah adalah penanggalan Islam yang dimulai berdasarkan tahun pertama Rasulullah Hijrah ke Madinah Al Munawaroh. Ketika sebelumnya banyak penentangan terhadap dakwah dan diterapkannya syari’ah Islam, maka saat itulah Hijrahnya Rasulullah SAW dan Para Sahabat. 

Ustadz Rokhmad juga menceritakan tentang Runtuhnya Daulah Islam Terakhir di ke Khilafahan Turkey Ustmani pada tahun 1924 oleh Mustafa Kemal Attarturk anteknya Kafir Penjajah, sejak saat itulah umat Islam tidak memiliki Negara seperti sekarang ini bisa dilihat dari nasib umat Islam yang awalnya menjadi umat yang kuat, umat yang besar menjadi umat yang bisa ditaklukkan oleh kafir penjajah. Maka jika ingin umat Islam kembali pada kemuliaan Islam menjadi umat yang besar, umat yang kuat maka tidak ada pilihan lain kecuali mengembalikan Khilafah seperti sebelumnya... Takbir !!! Maka dari itu peringatan Hijrah ini hanya akan bermakna ketika umat Islam sadar bahwa mereka terhiina mereka tertindas karena tidak adanya Khilafah “ Tegasnya .

Dalam wawancara yang dilakukan Ustadz Karebet Wijaya kepada Ustadz Ismail Yusanto beliau menyampaikan bahwa didalam sejarah umat Islam bisa mendapatkan Ibroh (pelajaran). Namun, jika kebenaran sejarah itu bisa diungkap dengan benar kita bisa mendapatkan Ibroh dengan benar juga. Karena problem sejarah itu sangat banyak salah satunya kita kenal dengan istilah adanya pengkuburan dan pengaburan sejarah. Beliau juga menegaskan bahwa urgensinya pemutaran Film JKDN ini diarahkan untuk memahami bahwa sejarah bukanlah sumber hukum dan juga bukan sumber pemikiran tapi sejarah menjadi objek pemikiran. Sejarah sebagai objek pemikiran atau objek kajian maka sejarah menjadi pelengkap hukum dari apa yang kita pahami melalui ajaran-ajaran Islam. Sejarah menjadi bukti pelaksanaan syari’at-syari’at Islam yang sudah menjelajah dunia hingga sampai ke Nusantara. Kebenaran Khilafah tidak bisa dipungkiri bahwa Khilah pernah menjadi Jejak di Negeri ini “Tegas Beliau.

Selanjutnya Mc mewawancarai seorang sejarawan muda, beliau adalah Septian AW yang berlatar belakang S2 dengan tesis-tesis ilmiahnya sekaligus beliau sebagai writter film JKDN. Pak Karebet selaku mc melemparkan pertanyaan kepada Bung Septian mengapa harus JKDN apa latar belakangnya membuat film ini ? jawab beliau : mungkin banyak film sejarah Islam di Nusantara, namun belum ada yang mengaitkan hubungan erat antara Islam di Nusantara dengan Khilafah. Itulah mengapa film ini wajib ditonton sebagai sebuah referensi sejarah yang Ilmiah. Mengapa demikian, karena film ini tidak digarap dengan sembarangan. Lanjut Nicko Pandawa sebagai producernya, bahwa film JKDN dibuat berdasarkan riset dan verifikasi akademis, juga melalui wawancara dengan para sumber primer termasuk juga data-data pustaka dengan range penelitian meliputi seluruh bumi Nusantara. 

Inilah kisah tentang Nusantara, dan jalinannya dengan negara adidaya, Inilah kisah tentang Umat Muslim Nusantara dan jalinannya dengan Muslim di seluruh dunia, inilah film Jejak khilafah di Nusantara. Suara menggema dari pengisi suara film JKDN disertai sinematografi apik dan musik latar yang menggugah rasa penasaran, membuat awalan fim JKDN begitu memukau. Selanjutnya, ditayangkan kisah sejak Rasulullah wafat, pergantian kepemimpinan oleh para khalifah hingga Islam sampai di Nusantara. 

Disaat Nusantara masih berada dalam kegelapan, dunia justru sedang dipimpini oleh sebuah adidaya baru, yaitu khilafah. Dibawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khilafah sampai di Nusantara. Menjadi logis saat khilafah memiliki relasi dengan banyak negara, karena keberadaannya sebagai Negara Adidaya. Kisahnya diceritakan begitu nyata dan mengaitkan puzzle peristiwa masa lampau Nusantara yang ternyata memiliki hubungan yang begitu erat dengan khilafah. Mulai dari hubungan Kerajaan Samudra Pasai dengan Khilafah Abbasiyah hingga perjalanan dakwah walisongo yang menjalankan misi dakwahnya sebagai kepanjangan tangan dari khilafah. Sunnguh memukau! Seolah seluruh teka teki terbuka dan seketika membuncahkan kebanggaan kaum muslimin akan keberadaaannya sebagai bagian dari khiafah sekaligus menguatkan kaum muslimin Nusantara bahwa perjuangan penegakan khilafah bukan perjuangan yang ahistoris.

Kemudian setelah pemutaran film dokumenternya selesai, ternyata acara premiere nya tak ditutup sampai disitu. Acara tersebut dimeriahkan oleh testimoni para tokoh muslim dari seluruh penjuru Nusantara, beliau-beliau adalah para ahli sejarah bahkan ada diantara beliau yang merupakan pelaku sejarah yang secara langsung menyaksikan bagaimana khilafah dulu menorehkan kisah gemilang dengan peradaban emasnya hingga Islam menjadi agama mayoritas penduduk negeri di Nusantara.

Sebelum acara ini ditutup ada closing statement dari Ustadz Ismail Yusanto dari apa-apa yang sudah kita lihat difilm tersebut maka semakin jelas bahwa khilafah itu dia ada secara ajaran karena bagian dari ajaran Islam, kemudian secara historis dia pernah diterapkan dibuktikan dengan adanya area pengaruhnya yang sampai di nusantara. Dapat ditarik kesimpuan bahwa ada Link Up dan Link Down artinya adanya hubungan kesultanan-kesultanan di nusantara ini dengan ke Khilafahan pada periode awal hingga periode ke Khilafahan terakhir. 
Juga sebagai penutup, Ustadz Rochmat S. Labib menyampaikan setidaknya ada tiga pesan penting dari film ini. Pertama, bahwa Islam dan kekuasaan memiliki hubungan sangat erat. Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bahwa kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar, agama adalah dasar dan kekuasaan adalah penjaganya, sesuatu tanpa dasar akan runtuh dan dasar tanpa penjaga akan hilang. Jejak khilafah di Nusantara menggambarkan bagaimana kekuasaan Islam menjadi penjaga dari penyebaran Islam hingga Islam tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Kedua, bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari kekuasaan Islam atau khilafah karena dari sejarah, kekuasaan Islam/khilafah justru menebarkan kebaikan dan hidayah. Ekspansi wilayah yang dilakukan oleh khilafah berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kafir barat yang menyengsarakan lagi merampas kekayaan. Kehadiran khilafah di Nusantara justru membawa banyak kebaikan, memberikan nafas kebangkitan dan menebarkan hidayah Islam ke seluruh penjuru Nusantara. Ketiga, Sejarah yang hari ini dikisahkan dan dikelas dalam film JKDN, InsyaAllah akan berulang kembali! Sebagaimana hadist Rasulullah, yaitu kembalinya Khilafah Rasyidah Alaa Minhajin Nubuwwah. Siapapun tak bisa menghalanginya. Bahkan upaya akan menghalanginya, adalah upaya yang sia-sia lagi hina dihadapan Allah.

Akhirnya, semoga film JKDN ini menjadi spirit dan semangat juga penguat perjuangan khususnya bagi para pengemban dakwah, umumnya bagi seluruh kaum muslimin dunia. Terlebih lagi, khilafah bukan sekedar sejarah! Ada atau tidaknya catatan sejarah tentang khilafah di Nusantara tidak sedikitpun mengurangi ghiroh kita untuk memperjuangkannya karena memperjuangkan khilafah adalah kewajiban. Keberadaan Khilafah sebagai sebuah institusi yang akan menerapkan seluruh syariah, menjadi kewajiban yang harus diwujudkan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Jika dalil seputar kewajiban memperjuangkannya sudah masyhur disampaikan dalam banyak konten dakwah, Rasululullah SAW pun telah menyampaikan bisyaroh tentang kembalinya, dan hari ini bukti kegemilangannya sudah terdokumentasi lewat film keren nan menggugah, lantas apa yang membuat kita ragu dalam memperjuangkannya?

Kewajiban itu harus ditunaikan apapun keadaannya. Memperjuangkan semua kewajiban itu adalah sebuah kemuliaan. Cepat atau lambat pasti akan sampai pada ujung kemenangan meski ancaman, tantangan, hambatan, gangguan dan rintangan selalu menghadang. Karena keinginan umat manusia untuk kembali pada aturan Rabb-Nya dalam konsolidasi politik global ini sangat mungkin dan sangat mudah sebagaimana situasi hari ini, orang dari berbagai belahan bumi bisa bertemu melalui berbagai media. Apalagi kaum muslim telah mendapatkan teladan dari langkah perjuangan dakwah Rasulullah SAW dalam melakukan perubahan masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam, dari peradaban penuh kegelapan menuju peradaban penuh cahaya yang menjadi rahmatan lil aalaamiin

Wallahu a’lam bish showab
#JKDN1Muharram
#JejakKhilafahDiNusantara
banner zoom