Materi Ajar Khilafah Diganti Modernisasi Islam

Oleh : Anisah (Aktivis Muslimah) 

Penamabda.com - Sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com, konten radikal seperti perang (jihad) yang termuat di 155 buku pelajaran agama Islam telah dihapus oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Namun, untuk materi Khilafah tetap ada di buku-buku tersebut. Dalam buku-buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme. Menag memastikan buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Menag juga mengungkapkan, penghapusan konten radikal tersebut merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kemenag. Moderasi beragama ini harus dibangun dari sekolah.

Program penguatan moderasi beragama adalah salah satu program prioritas pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2025. Realisasi program tersebut diantaranya adalah menghapus konten yang mengandung radikalisme di buku pelajaran agama, pelatihan guru dan dosen, penyusunan modul pengarusutamaan Islam wasathiyah, dan madrasah ramah anak.

Kalau dicermati program penguatan moderasi beragama ini, seakan menggiring opini bahwa dalam beragama islam itu harus moderat. Moderat yang dimaksud tentunya sesuai versi penguasa, yakni mengajarkan agama bukan hanya untuk membentuk individu yang sholeh secara personal, tetapi juga mampu menjadikan paham agamanya sebagai instrumen untuk menghargai umat agama lain.

Maka, berangkat dari versi ini pula timbul kekhawatirkan besar bahwa tidak dipungkiri penguatan moderasi beragama mengarah pada penanamam paham pluralisme dan sekulerisme. Padahal seorang muslim sejatinya diperintahkan untuk menjadi seorang muslim yang sebenarnya, muslim yang kaffah bukan menjadi muslim moderat yang cenderung mengarah ke pluralisme dan sekularisme.
Moderasi beragama pun menuntut ajaran-ajaran islam yang terpapar radikalisme harus disingkirkan seperti halnya jihad dan khilafah. Akibatnya ajaran islam dipilah-pilah. Berdasarkan fakta inilah moderasi beragama adalah upaya untuk mereduksi ajaran islam. Ini adalah penyesatan sistematis terhadap ajaran islam. Sebab dalam ajaran Islam, jihad dan khilafah adalah kewajiban yang diperintahkan oleh syara' dan merupakan bagian dari Fiqh Islam. Khilafah dan jihad bukanlah sekedar pelajaran sejarah yang tidak relevan bagi Indonesia. Pembahasan jihad dan khilafah hanya sebagai bagian dari sejarah tanpa disertai penjelasan tentang kewajibannya adalah upaya mereduksi ajaran Islam yang mulia.
Juga, program penguatan moderasi beragama yang merombak materi khilafah tentunya akan menghasilkan kurikulum pendidikan sekuler yang anti Islam. Kurikulum seharusnya mengarahkan peserta didik untuk memperjuangkan tegaknya Islam. Bukan malah mendorong mereka mengganti Islam dengan sistem buatan manusia yang sekuler.
Sungguh miris sekali melihat bagaimana Islam dan ajarannya diperlakukan seperti ini. Islam dan ajarannya begitu sempurna,karena berasal dari Sang Maha Pencipta, yang pasti lebih tahu seluk beluk hamba-hambaNya.

Tapi nyatanya sekarang, ajaran Agung itu yaitu Khilafah dan Jihad dipermasalahkan.
Memang Menag tidak menghapus semua konten yang ada di buku-buku Islam, tetapi tetap saja filosofi kementerian agama dalam menghapuskan konten-konten Islami tidak bisa dibiarkan. Selama ini, dari mulai tahun 1990 tidak pernah ada yang mempermasalahkan terkait konten agama dam buku-buku Islam, materi khilafah ataupun perang. Sekarang mereka berani dan terang-terangan mengutak-atik ajaranNya.

Apa sebenarnya yang salah dengan Islam dan ajaranNya?

Seperti mereka katakan, bahwa konten khilafah dan jihad tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan, dan toleransi. Ini jelas sangat mengada-ada.
Sekarang Islam dan ajarannya difitnah sebagai pemecah belah ummat.
Padahal bagaimana mungkin Allah menciptakan aturan dan ajaranNya sebagai pembawa keburukan. Ini sungguh pelecehan terhadap Islam dan ajaranNya.
Dari sini sebenarnya terlihat jelas, bahwa rezim saat ini tidak Pro Islam, memang sangat jauh panggang daripad api kalau kita sekarang, pada sistem kapitalisme-sekuler ini berharap lebih kepada rezim, alih-alih menerapkan sistem Islam, mereka malah menghapus materi ajarNya di sekolah-sekolah. Pelan-pelan mereka ingin menjauhkan generasi-generasi penerus dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Ajaran Islam dianggap berpotensi mengganggu kepentingan rezim. 

Kenapa? karena Islam itu bukan sekedar agama, tetapi juga pandangan hidup. Allah menciptakan bumi dan seisinya, manusia dengan seperangkat potensinya tentu dengan tujuan yang agung yaitu hanya untuk beribadah padaNya. Ibadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Menerapkan semua ajaran Islam dari mulai bangun tidur sampai bangun negara, dari mulai habluminallah, habluminannafs dan habluminannas.

Sedang rezim menginginkan umat Islam itu cukup berislam saja, kerjakan ibadah-ibadah mahdhoh saja, jangan sampai umat itu ikut campur dalam politik, ekonomi, muamalah, dan lain-lain, bahkan di dunia pendidikan. Padahal Islam begitu sempurna, Islam Rahmatan Lil'alamin.
Bagi sebagian orang yang sudah mengambil Islam liberal, moderat, atau Islam yang lainnya pastilah akan terganggu dan akhirnya menciptakan ide-ide yang akhirnya hanya menjatuhkan Islam dan semakin menjauhkan umat darinya, khususnya siswa-siswa dari Islam sesungguhnya.

Sungguh sistematis sekali, mengingat begitu banyak siswa MI, MTs, MA yang ada di Indonesia dan mereka masuk sekolah berbasic madrasah dengan harapan bisa dapat materi Islam yang lebih jelas, tapi karena ada penyesatan sistematis lewat kebijakan "pesanan" maka siswa-siswa hanya akan terlahir menjadi Islam liberal, Islam moderat, atau lainnya, bukan siswa yang siap untuk memperjuangkan agamanya yaitu Islam.

Pendidikan sekuler hanya melahirkan kurikulum sekuler dengan memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga umat Islam semakin jauh dari ajaran Islam, termasuk ajaran Khilafah dan jihad. Padahal ajaran Khilafah dan jihad inilah yang menjadi kekuatan besar umat Islam sehingga bisa mewujudkan peradaban Islam yang gemilang di dunia. Karenanya kurikulum sekuler ini wajib digantikan dengan kurikulum pendidikan Islam. Pertanyaannya, bisakah kurikulum pendidikan Islam diambil dan diterapkan bila sistem yang menaunginya bukan Islam?

Mari semua kita jaga anak-anak umat sekarang dengan sistem yang dibuat langsung oleh pencipta alam semesta lewat utusannya sebagai teladan, Rasululkah SAW. Jangan mau jadi korban kedzaliman sistem sekarang yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan sejatinya hanyalah sistem buatan manusia yang serba kurang dan tidak mungkin bisa menandingi sistem buatan sang pencipta.
Kembalilah kepada aturan sang pencipta dalam bingkai Khilafah Islam yang sudah terbukti kejayaannya selama 1300 tahun. Agar seluruh umat manusia di dunia bisa hidup selayaknya manusia, agar Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi Islam tapi bagi seluruh umat yang ada di dunia.

Wallahu'alam bishowab
banner zoom