-->

Pendidikan Hilang Arah, Guru Hilang Marwah

Oleh : Dinda Kusuma W T

Sekolah adalah tempat orang tua menggantungkan harapan. Dengan pendidikan yang berkualitas, setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi pribadi yang berintelektual tinggi, memiliki pola pikir dan karakter yang baik demi kesuksesannya dalam kehidupan pribadi, maupun sosial. Berharap anaknya menjadi manusia-manusia tangguh yang siap menjawab setiap tantangan hidup yang menghadang didepannya.

Namun apa daya, fakta dunia pendidikan ternyata masih jauh dari harapan. Berbagai problematika terus terjadi menggambarkan betapa pendidikan saat ini telah kehilangan arah dan tujuan yang jelas. Bahkan seringkali sekolah menjadi tempat terbentuknya karakter-karakter negatif.

Baru-baru ini, viral video guru SMK dikeroyok siswa di Jambi. Dalam video lain, guru tersebut tampak membubarkan siswanya dengan mengacungkan celurit. Agus Saputra, guru dalam video tersebut, merupakan guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi. Ia buka suara soal peristiwa tersebut.

Agus mengatakan, ia semula sedang berjalan di depan kelas. Saat itu, ia mendengar salah satu siswa menegurnya dengan kata-kata tidak pantas. "Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus (detik.com, 15/01/2026).

Fakta ini menunjukkan tidak adanya penekanan terhadap pembentukan karakter yang beradab. Bahkan adab terhadap guru yang menjadi pengganti orang tua selama di sekolahpun terabaikan. Sekolah hanya menjadi tempat transfer ilmu dan mencari ijazah namun abai terhadap perilaku muridnya.

Padahal, pendidikan sebagai pilar kemajuan bangsa tidak hanya terletak pada tingginya intelektual generasi, justru yang jauh lebih penting dan menentukan kemajuan bangsa dan negara adalah karakter generasi muda yang tangguh dan kokoh. 

Di sisi lain, versi siswa juga mengungkap fakta yang tak bisa diabaikan. Salah satu siswa menyebut bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina murid dan orang tua, menyebut siswa bodoh dan miskin. Ternyata, Indonesia saat ini dihadapkan pada sebuah keadaan yang serba tidak ideal. Gurunya tidak ideal, begitupun pasti muridnya, lebih-lebih sistemnya.

Kasus ini tidak bisa disederhanakan sebagai emosi sesaat atau konflik personal. Ini adalah problem struktural dari sistem pendidikan yang tidak sedang baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan adab justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Murid kehilangan batas sopan santun, guru kehilangan kelembutan dan wibawa. Keduanya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kehancuran marwah pendidikan.

Inilah buah pahit pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalis. Pendidikan dijauhkan dari nilai Islam, dipersempit menjadi proses transfer pengetahuan dan pencapaian target akademik. Adab dikesampingkan, akhlak dianggap urusan privat, sementara sekolah berubah menjadi ruang kompetisi, tekanan, dan pelampiasan emosi. Guru dibebani administrasi dan target, murid ditekan oleh nilai dan standar pasar.

Pemerintahan memang melakukan berbagai inovasi dalam bidang pendidikan. Namun semua inovasi tersebut hanya sebatas formalitas tanpa menyentuh akar masalah. Dalam hal kurikulum misalnya, hampir setiap tahun diganti nama kurikulumnya, namun esensinya sama saja. Faktanya, potret pendidikan semakin kelam.

Pendidikan dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim, dimana Islam adalah sebuah agama ideologi yang memancarkan berbagai aturan lengkap dan sempurna. Memaksa seorang muslim untuk memisahkan kehidupannya dari aturan Islam, tidak jauh berbeda dengan menyuruh mereka meninggalkan agamanya. Dan cukup aneh jika di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini ternyata tidak diterapkan aturan Islam.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid diajarkan untuk memuliakan guru (ta’dzim), bukan karena guru selalu benar, tetapi karena guru adalah perantara ilmu. Sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan. Guru bukan algojo kelas, bukan pula pelampiasan frustrasi, melainkan figur teladan yang mencerminkan akhlak Islam. Tegas boleh, kasar tidak. Menegur adalah bagian dari pendidikan, tetapi merendahkan adalah bentuk kezaliman.

Islam sangatlah lengkap dan merupakan jawaban atas semua pertanyaan manusia tentang persoalan kehidupan, termasuk pendidikan. Harus berapa lama lagi kita menunggu terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, padahal solusi hakiki telah ada, risalahnya dibawa oleh manusia terbaik sepanjang sejarah peradaban, Rasulullah Muhammad SAW. Saatnya menegakkan aturan islam yang sempurna demi keselamatan seluruh umat manusia. Wallahu A'lam bishsawab.