-->

KEBERSIHAN LINGKUNGAN, BUKAN HANYA TANGGUNG JAWAB PERORANGAN


Oleh : Hameeza Thalib 

Aksi Pandawa yang digambarkan turun ke sungai untuk membersihkan sampah sebenarnya menunjukkan betapa seriusnya persoalan lingkungan di negeri ini. Sungai-sungai di Indonesia semakin tercemar oleh sampah plastik, limbah rumah tangga, hingga sisa industri yang tidak dikelola dengan benar. Ketika tokoh-tokoh seperti Pandawa digambarkan harus turun langsung membersihkan sungai, hal itu justru menyiratkan ironi: seolah-olah tugas besar menjaga lingkungan dibebankan kepada masyarakat atau kelompok tertentu, padahal tanggung jawab utama berada di tangan negara.

Selama ini banyak kegiatan bersih-bersih sungai dilakukan oleh komunitas kecil, relawan, atau warga yang peduli lingkungan. Mereka turun dari pagi hingga sore, memungut sampah yang jumlahnya tidak sebanding dengan produksi sampah harian masyarakat. Usaha mereka mulia, tetapi tidak adil jika beban berat ini terus ditanggung oleh rakyat. Persoalan sampah di sungai bukan sekadar masalah perilaku warga, tetapi juga akibat dari kebijakan yang lemah, pengawasan yang longgar, dan sistem pengelolaan sampah yang tidak memadai. Ketika negara tidak membangun sistem yang baik, sampah akan tetap mengalir ke sungai meskipun ribuan relawan turun setiap minggu.

Dalam sistem kapitalisme, pemerintah sering terdorong untuk menyerahkan urusan lingkungan kepada masyarakat melalui jargon gotong royong, padahal perusahaan dan industri terus memproduksi limbah dalam jumlah besar demi keuntungan. Masyarakat diminta membersihkan, sementara sumber masalah tidak ditangani secara serius. Kampanye lingkungan yang terlihat indah di permukaan sering kali hanya menutupi kegagalan struktural dalam kebijakan pengelolaan sampah dan perlindungan sungai. Inilah mengapa sungai tetap kotor meskipun aksi bersih-bersih dilakukan berkali-kali.

Islam memberikan cara pandang lain. Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab langsung mengurusi urusan rakyat, termasuk menjaga lingkungan agar tetap layak dan bersih. Negara tidak boleh melempar tanggung jawab kepada masyarakat untuk masalah yang membutuhkan kekuatan sistem, regulasi, dan kekuasaan. Islam mengharuskan negara mengawasi industri, menyediakan sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh, melarang pencemaran, dan memastikan setiap sumber daya alam dijaga sebagai amanah Allah. Sungai bukan hanya milik warga, tetapi milik seluruh umat dan generasi masa depan. Karena itu penjagaannya tidak boleh diserahkan kepada relawan semata, tetapi harus menjadi kebijakan negara yang terstruktur.

Pandawa yang digambarkan turun ke sungai seharusnya bukan simbol bahwa masyarakat harus bekerja sendiri, tetapi teguran keras bahwa pemerintah harus hadir, mengatur, melindungi, dan menyelesaikan masalah lingkungan dari akarnya. Dengan pendekatan Islam yang menempatkan amanah dan tanggung jawab pada pemimpin, sungai dapat kembali jernih tanpa harus menunggu pahlawan turun tangan. Yang dibutuhkan bukan hanya aksi bersih-bersih, tetapi sistem yang benar, kepemimpinan yang adil, dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam serta kesejahteraan rakyat.

Wallahu a'lam bishowab