Makin Diusik, Makin Terang Datangnya Kemenangan

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Hari ini, Kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 H, selain kaum Muslim merayakan pergantian tahun baru juga ada moment yang tak terlupakan, pertama kali di dunia yaitu pemutaran film dokumenter sejarah Jejak Khilafah di Nusantara. 

Sejak kampanye pemutaran film ini dimulai di berbagai sosial media, antusiame pendaftarpun membludak,  tercatat hingga 2500 lebih, itupun satu titik bisa ditonton satu, dua bahkan lebih dari 10 orang. Jadi bisa dibayangkan betapa acara ini telah menjadi Ra' Yul alam ( opini umum) dikalangan masyarakat, yang artinya pula tak sedikit rakyat Indonesia yang ingin lebih tahu tentang Nusantara, tanah kelahirannya. 

Faktanya Nusantara memang tak hanya bicara batik, blangkon, keris , tari-tarian mistis dan lain-lain namun juga menyimpan sejarah emas, yang dengannya mengantar manusia menuju peradabannya saat ini. 

Sejarah, sebagaimana fakta kelahiran seseorang, tertulis baik di kertas dokumentasi maupun di benak para tetua, akan sama bercerita tentang silsilah keluarga, intrik dan kebaikan turun menurun tak mungkin dihapuskan begitu saja. Bahkan ada istilah dalam budaya Jawa jangan sampai " Kepaten Obor" atau kehilangan jejak terkait riwayat orangtua hingga nenek moyang. 

Demi apa? Demi sebuah sejarah, sejarah sebuah dinasti atau Bani manusia. Maka mutlak tak bisa dihapuskan. Demikian pula dengan Nusantara, namun penguasa dalam hal ini berlaku tidak adil. Dalam proses pemutaran film terjadi insiden pemblokiran hingga sekurangnya tiga kali, semua dengan keterangan " pemerintah terganggu". 

Tentu bukan sejarahnya yang mereka bidik. Namun disini ada penyebutan kata" Khilafah' dan itulah akar persoalan. Sebab dari pemutaran film yang mengedepankan histori ilmiah ini tentu akan banyak atsar ( bukti berupa benda, manuskrip, bangunan, dan sebagainya) yang diperlihatkan guna menguatkan dugaan atau penjelasan para saksi sejarah. Dan ketika tabir terungkap maka kebodohan rezim seketika ditelanjangi. Semangat mengembalikan kejayaan Islam akan kembali berkobar

Secara tidak langsung akan menunjukkan pada empat  hal selain bergolaknya kesadaran masyarakat individu perinvidu tentang sejarah mereka dan apa yang semestinya mereka perjuangkan. Pertama, bahwa Islam sudah sedemikian erat hubungannya dengan Nusantara, kemajuan peradaban hari ini tak lepas dari interaksi tokoh-tokoh Muslim kala itu. Dunia hanya berisi Haq dan batil dan Nusantara pernah merasakan Rahmatan Lil aalamin akibat terterapkan yang Haq ( Islam Kaffah).

Kedua, rezim panik sebab ia sudah mendapatkan pukulan telak dari apa yang ia tutupi selama ini. Yang mereka  tahu bahwa Islam adalah musuh bersama terutama khilafah.  Luka lama kembali terbuka, dimana aturan selain Islam akan berada di bawah telapak kaki pemimpin Islam ketika Islam berjaya. 

Dan memang, apa yang disajikan dalam film sungguh berbeda dengan yang tertera dalam buku mata pelajaran yang selama ini dipelajari anak-anak kita. Yang melulu berputar pada peristiwa perang Diponegoro, sementara detilnya ditutupi dengan keangkuhan rezim mengakui kegagalannya. 

Ketiga, sistem Demokrasi yang digadang menjamin kebebasan seseorang berpendapat ternyata pada praktiknya palsu. Sebab, jika kebebasan itu berbicara soal Islam, baik simbol maupun ajaran maka seketika itu berubah menjadi paranoid. Lantas dinarasikan radikal, intoleransi, pemecah belah persatuan, penghancur NKRI dan lain sebagainya. Padahal hanya satu kebenarannya, mereka benci Islam!

Keempat, kemenangan telak bagi para pejuang penegakan sistem khilafah. Faktanya ada aksi ada reaksi, namun jika penguasa benar- benar seseorang yang berkomitmen pada Islam tentu tak akan alergi jika Khilafah kembali dibumikan.  Akhirnya usaha pemblokiran itu juga memperingatkan kepada kita kepada siapa penguasa berpihak. Jelas bukan pada Islam, apalagi meminta izin pemblokiran di salah satu media sosial, YOU TUBE , dimana acara ini bersifat internasional dan fenomenal bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh seseorang kecuali ia punya akses istimewa pula.

Meskipun sejarah bukan dalil, ada atau tidak ada bukti sejarah penegakan khilafah adalah wajib dengan dalil yang kuat yaitu Alquran dan As Sunnah. Namun sejarah bisa jadi motivasi aktual kita kaum Muslim  untuk lebih bersemangat menjemput janji Allah yaitu dimenangkannya kaum Muslimin dari kafir penjajah dan sistem yang melawan Allah sebagai Sang Khaliq dan Mudabbir ( pengatur). 

Wallahu a' lam bish showab.
banner zoom