Ibu, Teladanilah Ummu Sulaim Dalam Mendidik Putra-Putrimu

Oleh: Ummu Afif

Penamabda.com - Seorang ibu harus mempunyai ilmu yang mumpuni untuk mendidik anaknya. Karena anak adalah titipan dari Allah yang harus di jaga. Layaknya sekolah, ibu  seharusnya jadi gudang ilmu, pusat peradaban dan wadah yang bisa menghimpun sifat- sifat mulia. Hanya ibu hebat yang akan melahirkan anak-anak yang hebat pula.

Dalam pepatah" Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Seorang anak tidak akan berbeda jauh dengan orang tuanya. Walaupun pepatah ini tidak semuanya benar. Namun, bagaimana anak itu adalah tergantung didikan orang tuanya, terutama sang ibu.

Seorang ibu harus tahu prioritas dengan memperhatikan diri dan istiqomah menjaga hati.
"Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik- baik perhiasan adalah wanita sholihah.”
Seorang ibu harus fokus mempercantik ahklaq dan budi pekerti. Supaya bisa menuntun anak-nya ke jalan yang Allah ridhoi. Seorang ibu yang hebat akan bisa mengenalkan siapa Tuhannya, Nabinya, untuk apa hidup di dunia ini dan akan kemana setelah mati nanti.

Pertanyaanya adalah, Sudahkah kita para ibu sebagai gudang ilmu?

Salah seorang ibu hebat yang hebat adalah Ummu Sulaim. Beliau memiliki nama lain Rumaisha, seorang sahabat wanita dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah ibu dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. 

Rumaisha binti Malhan atau dikenal sebagai Ummu Sulaim dikenal sebagai wanita yang cerdas dan memiliki akhlak yang baik. Beliau memiliki sifat keibuan, penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa, penyabar dan juga pemberani. Ummu Sulaim juga termasuk golongan kaum Anshar pertama yang menyatakan diri masuk Islam. 

Semenjak memeluk Islam, Ummu Sulaim selalu mengajarkan tentang kalimat tauhid kepada putranya; menanamkan sejak dini pondasi keimanan; mengajarkan bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan Muhammad adalah utusan Allah. 
Dengan keimanan Islam yang kuat, ummu Sulaim mengasuh dan mendidik putranya. Hingga rasa cinta yang begitu mendalam pada sosok Muhammad pun tumbuh dalam diri Anas. Anas begitu mengagumi dan mencintai Rasulullah Muhammad. Bahkan ketika sang ibunda menjadikan dirinya “hadiah” bagi Rasulullah, Anas menerimanya.  

Pendidikan yang diberikan Ummu Sulaim berhasil mengantarkan Anas sebagai pribadi yang cerdas dan matang. Di usianya yang terbilang dini, Anas pun berani mengambil tanggung jawab untuk melayani Nabi Muhammad SAW. 
Hal ini berawal dari hijrahnya Rasulullah ke Madinah ketika Anas masih berumur 10 tahun. Kala itu Ummu Sulaim segera bergegas mendatangi Rasulullah bersama Anas: “Wahai Rasulullah, sungguh orang-orang anshar dan perempuan-perempuan anshar telah memberimu hadiah kecuali aku, dan aku tidak menemukan sesuatupun untuk dapat aku hadiahkan kepadamu kecuali hanya anak laki-lakiku (ini). Maka terimalah dariku. Dia akan melayani keperluanmu.”

Seketika itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa-doa untuk Anas, hingga tak tersisa satu pun dari kebikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan baginya. “Ya Allah, berikanlah ia harta yang melimpah, keturunan yang banyak, dan masukkanlah ia ke surga, dan panjangkanlah umurnya.” 
Sejak saat itulah Anas resmi menjadi pelayan Rasulullah hingga beliau wafat saat Anas masih berumur 20 tahun. 

Berbekal doa nabawi tadi, terkumpullah pada Anas beberapa keistimewaan: usia yang panjang, anak yang banyak, harta yang melimpah, dan ilmu yang luas.  
Sungguh keistimewaan, bisa membersamai Rasulullah, kekasih Allah. Selama bersama Rasulullah, Anas mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran. Selain belajar langsung dari Rasulullah, Anas juga belajar dari para sahabat beliau yang mulia. 

Sejarah mencatatnya sebagai salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Ibarat perguruan tinggi, Anas bin Malik telah banyak “meluluskan” ulama-ulama hebat dalam sejarah. Sebut saja misalnya Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, Abu Qilabah, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Tsabit Al-Bunani, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah As-Sadusi, dan lain-lain. Dialah sahabat terakhir yang wafat di Bashrah setelah berumur lebih dari seratus tahun.
Peran ibu tampak begitu nyata, kisah Anas menjadi salah satu bukti yang tidak akan dilupakan oleh generasi setelahnya. 

Ummu Sulaim adalah sosok ibu yang agung. Ummu Sulaim telah menanamkan kecintaan pada Allah dan RasulNya semenjak dini, hingga begitu melekat kuat dalam diri putranya. Ini menjadikan sang putra sebagai sosok yang luar biasa dalam Islam.

Ummu Sulaim tak hanya cerdas, tapi juga pribadi yang kuat dan tabah. Adapun ketabahan Ummu Sulaim terlihat saat putra kesayanganya meninggal. Anas bercerita, “Suatu ketika, Abu ‘Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu ‘Umair) dipanggil oleh Allah.
Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.

Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”
“Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.
“Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali,” kata Ummu Sulaim lirih.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Segala puji bagi-Mu, ya Allah,” ucap Abu Thalhah dengan pasrah.

Kehebatan dan keagungan Anas Bin Malik  hingga melahirkan tokoh Islam tak terlepas dari didikan ibundanya, Ummu Sulaim. Sang ibunda telah berhasil menjadi sekolah pertama dan utama bagi putra kesayanganya sejak ia masih kanak-kanak.

Bagaimana dengan ibu muslimah saat ini??

Begitulah seharusnya ibu, sebagaimana yang dicontohkan Ummu Sulaim yang menjadikan dirinya sebagai madrasah pertama bagi putranya. Sebagai sekolah pertama dan utama, ibu menjadi tempat bermulanya pendidikan terbaik sekaligus guru terbaik bagi putra-putrinya. 

Menabur benih-benih ketakwaan dan menanamkan nilai-nilai keimananan Islam sejak di usia dini pada anak-anaknya. Di masa-masa inilah sang ibu berperan penting membentuk kepribadian putra-putrinya. Karena di masa-masa keemasan anak, adalah momen yang krusial untuk menanamkan keimanan kepada Allah SWT.

Ibu juga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Memberikan keteladanan yang penuh cinta dan kasih sayang. Kehangatan dan kasih seorang ibu akan mengantarkan anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tangguh menghadapi persoalan ke depan. 

Ibu tak hanya membersamai sang buah hati dalam menjalani proses tumbuh kembang, tetapi juga memberikan pendidikan Islam yang kuat pada anak-anaknya. Mengajarkan mereka tentang Allah dan bahwa hanya Allah lah yang wajib disembah, tentang taqwa, menanamkan cinta pada Nabi Muhammad selaku utusan-Nya, tentang Al Qur`an, tentang syariat Allah dan bagaimana pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Semua diajarkan ibu sesuai dengan tahapan usianya dengan penuh kasih sayang sebagaimana dituntunkan oleh syariah. Dengan pendidikan Islam yang kuat sejak dini, mampu menjadi bekal anak dalam menghadapi gemerlap dunia di masa mendatang. Pendidikan Islam mampu membentuk generasi yang cerdas dan berkepribadian Islam yang kokoh. Generasi tangguh yang berprestasi dunia dan akhirat. 

Wallahu a'lam bish-shawab[]
banner zoom