Niat Menikah, Terhalang Identitas Sah

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih (Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Kembali terjadi peristiwa pernikahan sejenis di negeri ini.  Dilansir dari detikNews.com, Sabtu, 13 Jun 2020 pernikahan itu terjadi di Soppeng, Sulsel. Wanita dengan wanita. Berinisial MAS ( calon pengantin pria) dan M ( calon mempelai wanita). Sekilas tak ada yang mencurigakan, namun ketika kedua pengantin bersanding para tamu undangan merasa aneh dengan penampilan pengantina pria, menurut mereka cenderung kea arah perempuan.

Seorang anggota Bhabinkamtibmas setempat  lantas melapor ke kapolsek dan sekaligus menjelaskan bahwa  mempelai wanita sebenarnya sudah mengetahui identitas asli kekasihnya itu sebelum hari pernikahan. Namun dia tidak menyampaikannya kepada orang tua. Sebab undangan sudah terlanjur beredar. Dan cintapun telah bersemi diantara keduanya. 

Kasat Reskrim Polres Soppeng AKP Amri, membenarkan berita tersebut. Bukti bahwa Ide kebebasan masih mendapatkan ruang di kalangan anak muda. Terbukti MAS tidak merasa risih menyatakan perasaannya kepada kekasihnya yang juga wanita hingga naik ke jenjang pelaminan. Demikian pula dengan M, menerima apa adanya cinta MAS tanpa peduli apakah pilihannya dilaknat Allah atau tidak. Padahal mereka muslim. 

Orangtuapun tak merasa curiga, membiarkan kedua pasangan ini berada pada masa pacaran. Tentu bukan tanpa alasan jika orangtua dan masyarakat pada umumnya bersikap longgar. Sebab, landasan berpikir dan bertindak mereka telah jauh dari landasan yang benar. Apalagi jika bukan sebab sekulerisme menguasai pemahaman masyarakat sekarang, tak apa melanggar syariat yang penting shalat. Mengambil Islam secara kaffah hanyalah menjadikan mereka aneh dihadapan manusia lainnya. Akibatnya banyak yang terjebak dalam pemikiran ala binatang. 

Maka tanpa pengaturan dari Zat Yang Maha perkasa, tak akan ada penjagaan terhadap akal, nasab dan akidah. Islam sangat fokus menjamin ketiganya terpenuhi penjagaannya bagi tiap-tiap individu. Sebab, pernikahan adalah gerbang bagi setiap individu yang berharap berkah lebih banyak daripada ketika sendiri, pernikahan bahkan hingga disebut memenuhi separo agama. 

Akan ada banyak pintu-pintu kebaikan setelah akad sah disebut dalam sebuah pernikahan. Pengabaian penerapan syariat ini akan membawa kepada kekacauan dan perselisihan. Baik dalam keluarga dan masyarakat. Kita bisa melihat bagaimana negara barat pemuja ide kebebasan dalam mengartikan makna pernikahan. Hanya sekedar melampiaskan rasa suka hayati. Menikah dengan sesama jenis, pohon, jembatan bahkan dengan bayangannya sendiri di cermin terhitung sah. Bebas, tanpa batas.

Islam menghindari hal yang demikian, Allah menjadikan ikatan pernikahan sebagai Mitsaqon gholidon( ikatan kuat) sebab saksinya Allah bahwa apa yang terjadi di dalam sebuah rumah tangga semua bermuara kepada ketaatan.   Dari sejak kriteria siapa yang telah siap untuk menikah, mahar ciri-ciri wanita yang baik untuk dinikahi apa saja yang nanti dilakukan yang menjadi kewajiban seorang suami dan istri begitu rinci diatur dalam syariat Allah hanya supaya ya sebuah pernikahan itu selain bernilai ibadah di hadapan Allah juga menjadikan pelakunya sakinah mawadah warohmah. 

Kapitalisme menghilangkan semua keindahan Islam sehingga pernikahan dianggap momok sebab yang tampak mata hanyalah Bagaimana upacara pernikahan yang mewah maskawin yang megah ataupun pesta yang meriah bukan pada esensi dari menikah itu sendiri maka hanya syariat Allah yang memang harus diterapkan agar setiap orang yang ingin menikah tidak saja menikmati manisnya madu pernikahan tapi juga telah mampu menjalankan separuh dari agama.

Wallahu a' lam bish showab
banner zoom