USA, Nasibnya di Ujung Tanduk

Oleh: Heni Satika ( Praktisi Pendidikan)

Penamabda.com - Gelombang protes akibat terbunuhnya pria Amerika keturunan Afrika George Floyd, mengguncang Amerika 2 pekan ini. Ratusan orang turun memenuhi jalan-jalan kota. untuk memprotes aksi rasialisme yang terjadi. 

Kerumunan orang berkumpul di luar stadion di Brooklyn yang telah menjadi pusat demonstrasi. Anak-anak yang mengikuti demonstrasi itu membawa poster yang bertuliskan: "Dunia seperti apa yang akan kalian wariskan untuk saya?" 

Rasialisme memang menjadi isu utama setelah terbunuhnya George Floyd akibat lehernya dijepit oleh seorang petugas kepolisian Minneapolis. Isu ini sebenarnya sudah lama terjadi. Keisha N. Blain, seorang profesor madya bidang sejarah di Universitas Pittsburgh menulis di Washington Post bahwa kekerasan terhadap Floyd hanya berselang dua bulan setelah kematian wanita kulit hitam bernama Breonna Taylor.

Kejadian ini menggugah kesadaran warga Amerika, bahwa kesetaraan dan kebebasan yang selama ini diagungkan Amerika hanya isapan jempol saja. Dalam sejarah panjangnya amat sulit bagi Amerika untuk menerima orang kulit hitam sebagai warga negaranya.
Mereka hanya dianggap sebagai warga kelas bawah atau buruh yang bahkan bisa diperlakukan layaknya hewan. Banyak pembunuhan terjadi hanya karena mereka kulit hitam. Bahkan di fasilitas umum seperti pemandian, kendaraan atau café semuanya dipisahkan untuk kulit hitam dan putih.

Kejadian ini tidak akan ditemukan sepanjang sejarah peradaban Islam. Selama lebih dari 1400 tahun Khilafah Islam berkuasa. Kejadian Rasialisme tidak pernah terjadi. Bagaimana kita lihat sahabat Bilal bin Rabbah ra, yang berkulit hitam sangat dicintai Nabi Muhammad dan sahabat lainnya.

Bahkan ketika Abu Dzar Al Ghifari yang pernah khilaf dan mengolok Bilal dengan sebutan budak hitampun. Akhirnya menebus kesalahannya dengan bersujud sampai Bilal melewati kepalanya. Rasulullah berpesan bahwa sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa

Bagaimana kerasnya Khalifah Umar bin Khattab ra, menghukum putranya Amr bin Ash yang saat itu menjabat menjadi Gubernur Mesir. Dengan mencambuknya, karena perkataan putra Amr bin Ash yang menghina penduduk tersebut.

Tegasnya Islam, dalam persoalan ras, menyebabkan tidak adanya orang yang menghina orang lain karena fisiknya. Semua kesetaraan hanya bisa diwujudkan dalam sistem Khilafah.
Jika Amerika terus mempertahankan ide sekulerismenya dalam sistem demokrasi. Tinggal tunggu saat-saat kehancurannya.
banner zoom