Kartini, Santri, Dan Inspirasi

Oleh: Rifda Qurrotul 'Ain
(Siswa kelas 11 MAN 2 Kota Malang)

Penamabda.com - Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi siang, sore, malam, untuk teman-teman pembaca dimanapun kalian berada dan selamat datang di tulisan ini. Terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk mampir di sini. Oh ya, gimana kabarnya nih? Semangat! Kita gak boleh ikutan down karena lockdown. Apalagi sekarang Ramadan, harus tetap semangat ya! Oke, Sip! Alhamdulillah..

Bulan April baru saja lewat. Di bulan itu ada momen penting bagi bangsa Indonesia. Tahu dong apa itu?! Hari Kartini. Yapp, betul sekali. Setiap tahun bangsa Indonesia merayakan hari ini dengan berbagai cara. Ada yang bikin perlombaan, fashion show, seminar, dsb. Ada juga yang membuat ucapan “Selamat Hari Kartini” di laman medsosnya masing-masing. 

Kalian sudah pasti tahu siapa beliau dan perjuangannya ya!? Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai satu diantara sedikit wanita Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional berkat usaha-usaha beliau, utamanya agar wanita Indonesia mendapat kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk mendapat pendidikan. 
Tapi, tahukah teman bahwa Ibu Kartini ternyata pernah nyantri lho? Kaget ya?! Sepertinya banyak yang belum tahu tentang cerita ini. 

Jadi, nyantri atau menjadi seorang santri maknanya adalah pernah berguru dan mendalami ilmu agama dengan ulama atau kyai ya.. FYI, hasil dari nyantrinya ini loh yang menginspirasi Ibu Kartini untuk menulis surat-surat yang fenomenal, yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Dari nyantri juga yang kemudian membentuk pola pikir beliau untuk memperjuangkan kemerdekaan kaum perempuan.

Kala itu Kartini sangat merasa gelisah akan ketidaktahuannya dengan kitab sucinya. Beliau muslim, namun tidak mengerti dengan isi al-Qur’an yang berbahasa Arab. Semangatnya sempat padam untuk membaca al-Qur’an. Sebab baginya tiada berguna membaca kitab suci bila ia tidak paham maknanya.  Ini dikarenakan pada zaman itu, pemerintah kolonial Belanda melarang adanya penerjemahan al-Qur’an. Mereka takut kalau masyarakat mengerti kandungan kitab suci itu masyarakat akan tergerak nuraninya untuk merdeka dari penjajah. Yang mana akan mengancam eksistensi kolonial Belanda ini guys. Kegelisahan Kartini ini dituangkannya dalam surat yang dikirimkan pada sahabatnya Stella Zihandelaar pada tanggal 6 November 1899.

Adalah Kiai Soleh Darat yang menjadi guru ngaji RA Kartini. Waktu itu, ketika paman beliau, Pangeran Ario Hadiningrat, yang merupakan bupati Demak mengadakan pengajian yang diadakan di pendopo Kabupaten, yang menjadi pengajarnya adalah Kiai Soleh Darat. RA Kartini sangat tertarik dengan penjelasan sang Kiai yang sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Sepanjang pengajian Kartini tidak dapat mengalihkan atensinya dari ceramah Kiai Sholeh Darat. Seolah menemukan apa yang selama ini dicari. 

Surat al-Fatihah yang selama ini dibaca tanpa paham maknanya menjadi terang benderang bagi beliau.
RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Melihat keseriusan dan semangat RA Kartini, serta panggilan dakwah Islam yang kuat, Kiai Soleh Darat pun kemudian menerjemahkan Al-Qur’an. Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab ini kemudian dinamai Faidhur Rahman yang berisi terjemahan dan tafsir ayat al-qur’an dalam Bahasa jawa dengan aksara Arab pegon. 
Kitab ini juga yang dihadiahkan Kiai Sholeh Darat untuk pernikahan Kartini dengan Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Hadiah yang tidak dapat dinilai hanya sekadar mata manusia. Kartini sangat menyukai hadiahnya loh guys. Dan mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Lewat terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 257:“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.’’ Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya, karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini sering mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” 

Teman-teman, dari perjumpaannya dengan Kiai Sholeh Darat itu pula, menjadi titik penting dalam kehidupan R.A Kartini. Kiai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan perubahan spiritual yang luar biasa. Pandangan Kartini tentang Eropa berubah. Beliau menjadi terbuka pemikirannya akan kehidupan masyarakat yang terjajah, termasuk perendahan martabat kaum wanita. 

Beliau yang awalnya memuja Barat mulai memahami Islam lebih dalam dan merasa bangga dengan jati diri sebagai muslimah. Hingga beliau yakin, tak salah menjadikan Islam sebagai spirit perjuangannya meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan.

RA Kartini memanifestasikan apa yang dibaca ke dalam tulisannya. Bahwa hakikatnya Quran membawa kehidupan yang gelap dan buta arah ke kehidupan yang penuh dengan rahmat dan cahaya. Dengan langkah mantap, ibu kita itu memulai untuk mengubah nasib kaum perempuan, dengan memperjuangkan hak pendidikan bagi seluruh kaum perempuan. 
Bahwa perempuan hadir ke dunia adalah sebagai pendidik pertama sehingga harus dididik dan dicerdaskan. Bukan sebagaimana adat Jawa yang menempatkan perempuan bukan sebagai apa-apa, atau sebagaimana budaya Barat yang memberikan kebebasan tanpa batasan.

Bahkan di surat-surat setelahnya, Kartini menegaskan apa yang sebenarnya menjadi cita-citanya:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidup. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap dalam melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri dalam tangannya; Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Yang diinginkan Kartini hanyalah menjadi wanita taat pada ketentuan Rabb-Nya. Beliau begitu semangat mempelajari Islam melalui AlQur’an hingga di akhir hayat. Beliau tak sempat mengkhatamkannya karena meninggal di usia belia, menghadap Rabb, Tuhan Pencipta Alam.

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah.” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903).
Jadi, inilah inspirasi RA Kartini yang sesungguhnya, yaitu menjadi Hamba Allah yang taat. Kini wanita bisa menjadi apa saja, tidak takut untuk bercita-cita tinggi dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya pula. Berperan sesuai dengan kemampuan masing-masing di tengah masyarakat. 

Namun, yang terpenting dari semua itu adalah bahwa setinggi apapun cita-cita dan tujuan kita, menjadi hamba yang taat pada Allah, itulah yang hakiki. Terimakasih, Ibu Kartini. Jasamu abadi dalam setiap kesuksesan para wanita Indonesia.
banner zoom