'CILAKA’ NASIB BURUH KALA WABAH PANDEMI

Oleh : Rifdah Nisa (Ibu Rumah Tangga) 

Penamabda.com - Tanggal 1 Mei adalah peringatan hari buruh, begitu istimewanya buruh sehingga ada hari khusus yang diperuntukkan memperingati hari buruh. Namun, apakah kondisi para buruh semakin kesini semakin sejahterakah kehidupannya? 

Apalagi sekarang adalah musim pandemi wabah COVID -19 yang menyerang segala kalangan masyarakat
Gelombang protes masif dilakukan buruh menanggapi RUU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA). Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan beberapa alasan penolakan RUU cilaka. Pertama, tidak ada kepastian kerja, kapasitas jaminan sosial dan kepastian pendapatan. Hal ini sejalan dengan sistem outsourcing yang legal diterapkan. Kedua, menghilangkan upah minimum kabupaten/kota. Jika buruh bekerja dibawah 40jam/minggu maka gaji yang diperoleh dibawah upah minimum (www.tirto.id). Ancaman protes buruh digulirkan ditengah wabah pandemi COVID 19. Alih-alih  menghentikan justru pemerintah dan DPR terus membahas rancangan UU cilaka yang disusun dengan metode omnibus, selasa 15/04/2020 (www.tirto.id)

Kesejahteraan buruh seolah diujung tanduk dinegara ini. Pemerintah lebih mementingkan nasib pengusaha dan investor daripada kesejahteraan buruh. Terbukti ancaman protes buruh ditengah wabah pandemi tak menghalangi usaha pemerintah untuk segera ngesahkan RUU cilaka. Keberpihakan pemerintah kepada pengusaha membuka lebar kesenjangan sosial ditengah-tengah masyarakat. Jika buruh didzolimi aksi anarkis tak bisa dihindari. Akibat protes yang tak pernah ditanggapi buruh tak patuh aturan bahkan kepercayaan kepada pemerintah semakin pudar. Bisa dibayangkan bagaiman carut-marut suatu negara jika aturan tak lagi ditaati. Pemerintah menjadi musuh rakyat hanya untuk memenangkan pengusaha dan investor.

Penderitaan rakyat tak pernah berujung selama sistem kapitalis bercokol dinegara ini. Kerusakan tatanan sosial ekonomi menjadi pandangan biasa didepan mata. Bukankah Allah telah berfirman "Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali lejalan yang benar. Katakanlah muhammad "bepergiaanlah dimuka bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah". (QS.Ar Rum:41-42). 

Ayat ini menunjukkan kerusakan yang ada dimuka bumi karena perbuatan manusia. Aturan Allah ditinggalkan serta diganti oleh aturan buatan manusia yang sarat akan kepentingan si pembuat aturan. Wajar aturan yang dibuat memihak sebagian kelompok dan mendzolimi kelompok lain.
Dalam Islam aturan syara' yang diterapkan sesungguhnya untuk keselarasan hidup manusia.  Keadilan dan kesejahteraan menjadi hal utama untuk diterapkan. 

Seorang pemimpin (ulil amri) merasa takut (khouf) dengan hisaban Allah ketika dibawah pimpinannya terdapat kedzoliman dan ketidakadilan. Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab "seandainya seekor keledai terperosok dikota Bagdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta'ala”, gambaran kekhawatiran pemimpin ketika kedzoliman terjadi   pada hewan sekalipun. 

Hal ini cukup memberikan kepercayaan pada umat akan kepemimpinannya. Sejalan dalam hal ini ketaatan pada pemimpin merupakan kewajiban selama pemimpin tersebut mengikuti Allah dan Rasul-NYA dalam aturan bernegara. Allah berfirman "wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rosulnya dan kepada para pemimpin diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rosulnya. Jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir. Yang demikain itu lebih utama dan lebih baik akibatnya"(QS An Nisa:59).

Wallahua'lam bishowwab
banner zoom