Berakhirnya Pandemi Covid, Benarkah?

Oleh : Madina Arifin (Mahasiswi Malang Raya)

Penamabda.com - Sebagaimana dikutip dari laman liputan6.com, Epidemiolog dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran (Unpad), Bony Wien Lestari menyanksikan pernyataan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Munardo soal prediksi pandemi Corona akan berakhir pada Juni-Juli nanti. 

Bahkan beredar informasi tentang tiga kesimpulan riset LSI Denny JA bahwa pertama 99 persen kasus virus corona selesai sebelum vaksin untuk virus itu ditemukan. Kedua Indonesia masuk Kategori B atau negara menengah dalam dari sisi kecepatan menyelesaikan kasus virus corona. Untuk mengatasi 99 kasus virus corona Indonesia baru akan selesai pada Juni 2020. Dan Ketiga, 100 persen Indonesia dan dunia terbebas dari virus corona ketika vaksin atas virus itu ditemukan rentang waktu penemuan virus sekitar Mei-Juli 2021. 

Sedangkan di ranah lain, Sebuah universitas di Singapura, Singapore University of Technology and Design (SUTD) melakukan penelitian mengenai kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Dalam penelitian itu, ilmuwan tersebut menyebutkan 97% kasus di Indonesia akan selesai pada 6 Juni 2020 nanti. Sedangkan 100% kasus diperkirakan akan selesai pada 1 September 2020. Dari pernyataan Letjen TNI Doni Munardo, tentu mengundang perhatian Bony. 

“Sebagai seorang epidemiolog, saya akan bertanya atas dasar apa kemudian beliau bisa menyatakan bahwa pandemi akan berakhir Juni dan kondisi Indonesia mulai normal Juli. Hingga saat ini, masih menunjukkan tren peningkatan kasus positif, ODP dan PDP disertai perluasan kasus ke hampir seluruh kabupaten kota di mana sekarang 25 dari 27 kabupaten kota sudah terdampak Covid-19," kata Bony (Liputan6.com, 2/5/2020). 

Banyaknya prediksi berakhirnya wabah dalam waktu dekat itu, tentu bisa memunculkan problem baru berupa peremehan tingkat bahaya oleh masyarakat. Pasalnya, jika informasi itu sampai pada masyarakat awam, tentu mereka akan beranggapan bahwa covid bukan lagi penyakit yang berbahaya dan akan menurunkan tingkat kewaspadaan terhadap virus tersebut. Hal ini tentu penting peran pemerintah untuk melakukan tindakan yang maksimal menghentikan sebaran dan melakukan tindakan terhadap korban. 

Tapi disisi lain, pemerintah memberikan statement bahwa pandemi akan usai pada bulan juni. Padahal jika dilihat dari perkembangan masyarakat terkait pandemi covid, yangdikutip pada laman Kompas.com pada 11 Mei 2020, sudah ada 233 kasus baru covid 19. Sehingga totalnya ada 14.265 kasus positif, 991 meninggal dan 2.881 sembuh. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan besar, apakah mungkin pandemi akan usai pada bulan juni ? mungkin, jika memang kita berbicara tentang sebuah keajaiban. Akan tetapi melihat banyaknya korban yang terus bertambah setiap harinya, memunculkan suatu kemustahilan bahwa pandemi berakhir di bulan juni. 

Hal itu tentu berbanding terbalik dengan pemerintahan dalam sistem Islam. Dalam Islam, pemimpin atau khalifah, akan melakukan tindakan lockdown untuk menekan persebaran pandemi. 

Sebagaimana syariat memerintahkan. Selama diberlakukannya lockdown, masyarakat tidak perlu memikirkan soal bagaimana mereka bertahan hidup di situasi lockdown. Melainkan khalifah akan memasok kebutuhan mereka dengan mengambil harta dari baitul mal. Khalifah juga akan menggratiskan biaya kesehatan bagi yang terjangkit oleh wabah. Khalifah akan berusaha keras untuk menangani wabah agar segera berakhir. 

Pemerintah pun akan mengeluarkan informasi-informasi yang akurat dan tidak akan membuat masyarakat menjadi semakin panik dan tidak pula menjadikan masyarakat menganggap enteng wabah tersebut. Sistem yang seperti ini tentu tidak akan bisa ditemukan dalam kubangan sistem Kapitalis seperti sekarang. 

Sebagai hamba yang beriman, tentu sudah menjadi kewajiban untuk kembali lagi menerapakan sistem Islam yang datang dari sang pencipta. Dengan itu, tentu wabah akan segera teratasi tanpa membuat masyarakat terdzolimi. 
banner zoom