-->

Kekuasaan Amerika Serikat Mengekang Umat Islam


Oleh : Aghniya Dzatur Rahmah, Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta 

Tatanan dunia saat ini berada di bawah kendali hegemoni Amerika Serikat (AS) dan ideologi kapitalismenya, sebuah kondisi yang secara nyata telah membuat umat Islam berada dalam posisi terpuruk. Dominasi ini bersifat sistemik, yang mendorong masyarakat Muslim ke arah pola hidup yang semakin jauh dari pemahaman Islam. Krisis ini diperparah oleh keserakahan dan ketidakharmonisan kepemimpinan kapitalisme global yang semakin dipertegas oleh arogansi politik AS yang kerap melakukan serangan dan ancaman terhadap kedaulatan negara lain, termasuk Venezuela, dan sanksi sepihak telah merusak tatanan internasional.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan niatnya untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela setelah merebut kekuasaan dari Presiden Nicolás Maduro. Trump bahkan menyebut, AS akan ‘mengelola’ Venezuela hingga terjadi transisi yang dianggap ‘aman’. Ia juga mendorong perusahaan-perusahaan minyak AS untuk menginvestasikan miliaran dolar ke Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, guna mengeksploitasi sumber daya alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal (BBC Indonesia)
Apa yang terjadi di Venezuela adalah bagian dari pola tersusun AS menggunakan berbagai cara seperti tekanan politik hingga ancaman militer untuk menguasai sumber daya negara lain. Meskipun berlindung di bawah “demokratisasi”, pada hakikatnya berakar pada pengejaran kepentingan modal, bisnis, dan kontrol geopolitik yang sering kali mengabaikan tatanan hukum internasional serta kecaman dari masyarakat global. 

Dengan demikian, intervensi seperti yang dilakukan AS terhadap Venezuela harus dilihat bukan hanya dalam kerangka geostrategi semata, tapi sebagai kekuasaan kapitalis yang berusaha memaksimalkan keuntungan modal sekaligus memaksakan sekularisme ekonomi yang jauh dari Islam.
Kerusakan sistem yang kita rasakan saat ini berakar pada akar ideologi kapitalisme sekuler yang telah merambah ke jantung kehidupan umat Islam. Dengan memisahkan agama dari urusan sehari-hari (sekularisme), keyakinan akidah umat, digantikan standar Barat yang materialistik nan semu. 

Rusaknya sistem yang dianut sekarang, perlahan mengikis habis umat manusia. Sistem ini rusak dengan sendirinya bersamaan dengan semakin bobroknya manusia. Dampaknya merambat hingga ke bidang ekonomi, bidang sosial-budaya, identitas tiap individu umat Muslim dan akhlak mulia mulai hilang akibat arus gaya hidup bebas (liberalisme) hingga ke ranah pendidikan dan politik yang yang justru anti terhadap nilai-nilai ketuhanan. Menganggap agama hanya urusan spiritual dan ritual saja. Pengikisan jati diri ini secara perlahan membuat umat kehilangan daya kritis secara pemahaman (fikriyyah) dan pola pikir (‘aqliyyah), sehingga lebih mudah didoktrin oleh penguasa demi kepentingan global yang asing bagi kemaslahatan oligarki.

Saat ini Islam tidak lagi memegang kekuasaan, hukum-hukum Islam diganti dengan hukum-hukum yang berlandaskan hawa nafsu manusia. Ajaran-ajaran Islam dianggap asing dan kuno hingga dikriminalisasi. Ajaran Islam diubah dengan alasan moderasi, menganggap agama yang harus menyesuaikan kondisi sekarang. Padahal, agama justru relevan dengan permasalahan yang ada di tengah-tengah umat manusia hingga kapanpun. Apapun masalah yang dihadapi oleh manusia, agama Islam solusinya. Barat tak kenal lelah menggiring umat Islam untuk membenci ajaran Islam dan syariahnya. 

Penerapan syariah Islam secara menyeluruh meniscayakan adanya kekuasaan. Kekuasaan tersebut hanya dapat terwujud apabila kepemimpinan berada di tangan seorang khalifah yang berfungsi sebagai junnah (perisai) dalam menjaga kemuliaan Islam. Kekuasaan Islam (Khilafah) menjadi perisai bagi umat Islam, menjaga kehormatan dan menyejahterakan mereka. Tidak hanya kaum Muslim, non-Muslim pun dijamin kehidupan dan hak-haknya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Seluruh hal ini hanya dapat diwujudkan selama kekuasaan Islam tegak dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Konsep kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar kepemimpinan belaka, ia ada tujuan khusus yang mulia sebagai perisai bagi umat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya imam itu adalah perisai, tempat manusia berlindung dan berperang di belakangnya” (HR Bukhari dan Muslim). 

Karena itu, penerapan syariat Islam secara menyeluruh hanya mungkin terwujud melalui kekuasaan yang menjaga agama dan manusia tetap berdampingan dan menunjukkan iman dan amal saleh akan diwujudkan dalam bentuk kekuasaan, bukan hanya ritual individual. 

Islam tidak berhenti pada akidah dan ibadah, tetapi juga sistem kehidupan yang menyejahterakan umat manusia. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an surah an-Nur ayat 55 yang artinya, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…” 

Bukti kepemimpinan Islam membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, tak hanya orang-orang Muslim, tapi juga bagi kaum non-Muslim. Hal itu terjadi pada pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat Bani Umayyah memimpin Daulah, kesejahteraan merata tanpa pandang bulu. Kemiskinan hampir tidak ditemukan, zakat melimpah hingga tak ditemukan seseorang yang layak untuk menerima zakat, negara fokus pada distribusi kekayaan dan keadilan administrasi. Kesejahteraan ini dirasakan seluruh penduduk, bukan hanya orang-orang Muslim.

Khilafah pun berfungsi sebagai pelindung seluruh manusia dari kezaliman kekuasaan, keserakahan ekonomi, kemungkaran moral, serta berbagai kerusakan dan bencana yang lahir dari sistem yang memisahkan kekuasaan dari agama. Dengan tegaknya kepemimpinan Islam, dunia tidak hanya diselamatkan dari hegemoni negara-negara adidaya atau suatu hukum selain dari Allah SWT (thaghut), tetapi diarahkan kembali pada tatanan kehidupan yang membawa rahmat bagi seluruh alam. 

Islam bukanlah agama yang fundamental, justru Islam bertujuan menghadirkan rahmat universal, bukan hanya untuk Muslim, tetapi seluruh manusia dan alam, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Anbiya ayat 107 yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”[]