Lunturnya Citra Wanita Berhijab di Era Kapitalisme
Oleh : Cutiyanti, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Kabar yang ramai diperbincangkan di awal 2026 adalah maraknya isu perselingkuhan yang melibatkan wanita berhijab, dengan pemberitaan negatif yang melekatkan stigma sebagai perebut suami orang. Fenomena ini berdampak pada tercoreng dan lunturnya citra Muslimah di mata masyarakat. Wanita berhijab yang sebelumnya dipandang sebagai sosok yang taat kepada Allah SWT, kini tak jarang justru dicurigai. Hijab seolah kehilangan makna substansialnya dan dalam sebagian kasus dijadikan tameng untuk memperoleh label alim di hadapan manusia, bukan sebagai wujud ketaatan kepada syariat.
Salah satu kasus yang masih bergulir adalah pengakuan seorang konten kreator inisial WM, yang membongkar dugaan perselingkuhan suaminya, IF, dengan seorang influencer berinisial IR. Dugaan tersebut disertai bukti rekaman CCTV yang kemudian dijadikan dasar pelaporan kepada pihak berwajib atas dugaan perzinaan yang dilakukan keduanya. Namun, IF berdalih hubungan tersebut telah dilandasi dengan pernikahan siri (Tribunsumsel, 23/11/25).
Kabar serupa juga datang dari seorang TikToker asal negeri jiran yang membongkar kasus perselingkuhan kekasihnya dengan kawan dekatnya sendiri yang berinisial JP. JP, yang selama ini dikenal sebagai teman dekat mereka, justru dengan tega melakukan pengkhianatan tersebut. Kasus yang mencuat saat ini bukanlah yang pertama menimpa JP. Sebelumnya, ia juga pernah tersandung kasus perselingkuhan yang berujung pada perceraian dengan suaminya, seorang warga negara Korea (Liputan6, 15/12/25).
Dari karut marutnya kabar ini, khalayak umum berspekulasi, wanita yang berhijab belum tentu baik secara keimananya karena walaupun sudah berhijab mereka belum patuh terhadap ketentuan syara karena melakukan perbuatan yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang dianutnya dengan dalih nikah sirih.
Sejauh ini hijab dipandang sebagai simbol Muslimah yang taat pada perintah Allah SWT namun seseorang bisa dikatakan taat bukan hanya sudah melaksanakan perintah saja tentu juga harus sepaket dengan menjauhi segala laranganya itu lah takwa, seperti yang tertera pada QS. An-NUR : 31 yang berbunyi ‘’Dan katakan lah kepada perempuan yang beriman ,agar mereka menjaga pandanganya , dan memelihara kemaluanya ,dan janganlah menampakkan perhiasanya(auratnya),kecuali yang biasa terlihat dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.’’
Sejauh ini, hijab kerap dipandang sebagai simbol ketaatan seorang Muslimah terhadap perintah Allah SWT. Namun, ketaatan sejati tidak cukup hanya dengan menjalankan perintah, melainkan harus disertai dengan menjauhi seluruh larangan-Nya. Inilah hakikat takwa. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah an-Nur ayat 31 yang artinya, “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.”
Masyarakat pada umumnya menilai takwa hanya dari penampilan dan perilaku individu yang nampak sebatas penglihatan. Fakta yang terjadi saat ini banyaknya wanita berhijab bukan karena perintah Allah namun karena mengikuti tren saja sehingga tidak maksimal menerapkan apa yang Allah perintahkan.
Menilai keimanan seseorang dari penampilanya saja belum cukup. Pasalnya, dalam Islam, seorang Muslimah haruslah memiliki syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam. Syakhsiyah Islamiyah terbentuk dari pola pikir dan pola sikap islami. Ketika seorang Muslimah paham dalil menutup aurat secara sempurna berdasarkan syariah (pola pikir islami), maka ia buktikan dengan bersegera memakai pakaian syar'i. (pola sikap islami).
Begitu pula apabila seorang Muslimah apalagi lulusan pondok pesantren yang kaya ilmu khazanah keislaman, paham dalil-dalil atau fiqih seorang istri dan fiqih ibu, maka ia akan buktikan dengan pola sikap yang sesuai dengan pemahamannya. Akhirnya dalam Islam, seorang Muslimah yang baik tentu akan memiliki syakhsiyah Islamiyah. Dan buah dari akidahnya, taat syariah, dan ber syakhsiyah islamiyah, lahirlah akhlak yang baik. Maka, menilai Muslimah itu 'baik' hanya dari memakai pakaian syari saja masihlah belum cukup.
Dalam kondisi sekuler saat ini, kita dijauhkan dari memahami Islam yang kaffah. Persepsi tentang kehidupan dibuat sedemikian rupa berganti, yang harusnya tujuan hidup kita meraih ridha Allah, kini tujuan hidupnya mendapat kebahagiaan sebanyak-banyaknya. Banyak harta, cantik dipandang, menyenangkan manusia. Sehingga sosok Muslimah yang seharusnya menjaga izzah dan iffah, fokus mendidik anak dan melayani suami sudah jarang ditemukan kecuali hanya sedikit.
Influencer-influencer yang memiliki banyak pengikut, tidak mengangkat konten-konten yang mendidik kepada calon pendidik peradaban. Mereka hanya berfokus pada konten mode pakaian, kosmetik, kuliner, travelling dan akhirnya mencuat isu perselingkuhan yang semakin asyik 'digoreng' dan dinikmati netizen.
Berbanding terbalik dengan sistem sekuler kapitalis, sistem Islam mengarahkan setiap individu untuk dapat berakidah dengan benar melalui proses berpikir untuk menyadarkan tujuan utama hidup hanya untuk meraih ridha Allah SWT. Saat kita paham, dunia hanya sementara maka penting bagi kita untuk menyiapkan kehidupan yang kita akan kekal di dalamnya, dengan berbekal ilmu agama sehingga bisa paham halal haram, baik buruk, terpuji dan tercela. Kita juga butuh lingkungan yang senantiasa mengingatkan kita kepada kebaikan yang bernilai pahala.[]

Posting Komentar