Memaafkan, Kunci Terhapusnya Dosa Kita
Oleh : Siti Aisyah S.Sos, Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Wahai saudaraku, ada dosa yang kita ingat. Ada pula dosa yang kita lupakan, namun tercatat rapi di hadapan Allah. Kita sering memohon ampun dengan lisan, menundukkan kepala dalam doa, berharap rahmat-Nya menghapus kesalahan kita. Namun sering kali, ada satu kunci ampunan yang justru berat kita lakukan, yakni memaafkan orang lain.
Memang, secara fitrahnya hati manusia mudah terluka. Kata-kata yang menyakitkan, pengkhianatan, sikap meremehkan, semuanya akan membekas. Luka itu lalu kita peluk erat, kita simpan, kita rawat dengan ingatan dan air mata. Padahal, luka yang dipelihara berubah menjadi penghalang ampunan.
Rasulullah SAW bersabda, "Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka Allah mengampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang di antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan (dan kebencian). Maka dikatakan: Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai" (HR Muslim no. 2565).
Betapa sering kita berharap dosa kita dihapus, sementara kita menutup pintu ampunan itu sendiri dengan enggan memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman. Bukan pula melupakan rasa sakit seketika. Memaafkan adalah keputusan hati untuk menyerahkan urusan balas dendam kepada Allah, Sang Maha Adil. Saat kita memilih memaafkan, sesungguhnya kita sedang berkata, “Ya Allah, aku lebih membutuhkan ampunan-Mu daripada kepuasan egoku.”
Al-Qur’an mengingatkan, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?” (QS an-Nur: 22). Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan cermin. Jika kita ingin Allah memaafkan dosa-dosa kita, yang jumlah dan besarnya tak terhitung, mengapa kita begitu kikir memberi maaf atas kesalahan manusia yang terbatas?
Memaafkan adalah sedekah hati. Ia membersihkan jiwa, melapangkan dada, dan menenangkan pikiran. Lebih dari itu, ia menjadi sebab dosa-dosa luruh tanpa kita sadari. Setiap kali kita menahan amarah dan memilih memaafkan, ada dosa yang gugur, ada derajat yang terangkat.
Mungkin hari ini kita belum sanggup memaafkan sepenuhnya, tidak mengapa. Mulailah dengan doa, “Ya Allah, lembutkan hatiku agar mampu memaafkan.” Sebab hati yang mau memaafkan adalah hati yang hidup, dan hati yang hidup lebih dekat dengan ampunan Allah.
Pada akhirnya, saat kita berdiri di hadapan-Nya, kita tak membawa daftar kesalahan orang lain. Kita hanya membawa dosa kita sendiri dan harapan agar Allah berkenan menghapusnya. Maka, ringankanlah langkah menuju ampunan itu, dengan memaafkan.
Oleh karena itu, ada beberapa tips agar hati ini dimudahkan memaafkan orang lain, yakni: Pertama, sadarilah kita juga banyak salah. Tidak ada manusia yang bersih dari dosa. Setiap hari kita berharap Allah memaafkan kesalahan kita baik yang disengaja maupun tidak. Saat mengingat ini, hati akan lebih lunak untuk memberi maaf. “Jika aku ingin diampuni Allah, maka aku pun harus belajar memaafkan.” Ingatlah itu!
Kedua, bedakan memaafkan dengan melupakan. Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan. Luka boleh ada, batas boleh dibuat. Yang dilepas adalah dendam dan keinginan membalas. Ini penting agar kita tidak merasa terpaksa atau merasa dirugikan lagi.
Ketiga, serahkan urusan balasan kepada Allah. Menyimpan marah hanya melelahkan hati. Percayalah, tidak ada satu pun kezaliman yang luput dari keadilan Allah. Saat kita memilih memaafkan, kita sedang memindahkan beban dari hati ke tangan Allah Yang Maha Adil.
Keempat, mulai dari doa, bukan perasaan. Jangan menunggu hati terasa ringan dulu. Justru hati menjadi ringan setelah berdoa. Doa sederhana sudah cukup, “Ya Allah, aku belum ikhlas, tapi aku ingin ikhlas. Tolong lembutkan hatiku.”
Kelima, ingat pahala dan ampunan yang dijanjikan Allah. Setiap menahan amarah dan memaafkan, ada dosa yang dihapus dan derajat yang diangkat. Mungkin kita tidak melihat hasilnya di dunia, tapi kelak di akhirat, itulah yang paling kita butuhkan.
Keenam, lepaskan luka sedikit demi sedikit. Tidak harus langsung sempurna. Hari ini mungkin masih sakit, besok sudah berkurang. Memaafkan adalah proses, bukan perlombaan. Allah menilai usaha hati, bukan hasil instan.
Ketujuh, fokus pada ketenangan diri, bukan kesalahan orang. Memaafkan bukan hadiah untuk orang lain, tapi hadiah untuk diri sendiri. Hati lebih tenang, tidur lebih nyenyak, ibadah lebih khusyuk dan kita pantas mendapatkan ketenangan itu.
Kedelapan, ingat, hati yang lapang lebih dekat dengan surga. Rasulullah SAW menyebutkan orang yang tidak menyimpan dendam sebagai ahli surga. Bukan karena ibadahnya paling banyak, tapi karena hatinya bersih. Sabda Nabi SAW, “Seseorang yang hatinya bersih, jujur, dan tidak menyimpan kebencian kepada siapa pun, itulah penghuni surga” (HR Ibnu Majah).
Oleh karena itu, memaafkan memang berat, tapi menyimpan dendam jauh lebih melelahkan. Lepaskanlah, dan maafkan orang yang menyakiti kita karena kita ingin Allah menghapus dosa dan memberi ketenangan.[]

Posting Komentar