Ramadhan Tanpa Masjid

Oleh: Desi Wulan Sari
(Revowriter Bogor)

Penamabda.com - Siapa yang menyangka Ramadhan akan segera tiba. Ditengah-tengah wabah yang sedang merebak hanya kecemasan dan kekhawatiran masyarakat ketika dihadapi kondisi ini. Seakan tidak merasakan waktu yang begitu cepat berlalu. 

Sukacita dan meriahnya Ramadhan dinanti seluruh umat muslim dunia. Begitupun yang dirasakan umat muslim Indonesia saat ini. Namun dengan kondisi pandemi yang ada membuat Ramadhan akan terasa berbeda. Adanya kebijakan terbaru terkait pencegahan penyebaran wabah Covid-19 ini, diberlakukan aturan PSBB  (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Aturan PSBB tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. 

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi dalam keterangan tertulisnya mengatakan PSBB melingkupi pembatasan sejumlah kegiatan penduduk tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi COVID-19. “Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan." (Tirto.id, 13/4/2020).

Aturan ini juga salah satunya membuat umat muslim tidak dapat pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat berjama'ah. Tentunya di bulan Ramadhan ibadah sholat bertambah aktifitasnya, selain sholat wajib ada tambahan  sholat tarawih, kajian subuh,  juga kajian-kajian Islam yang di syi'arkan dalam bulan penuh keberkahan tersebut.

Apakah Ramadhan kali ini akan berlalu tanpa ke masjid? Pilihan yang diambil tentu membuat rakyat bingung. Dari segi hukum tentu warga negara harus mematuhi aturan tersebut. Sedang dari segi syariat harus dilihat kembali bagaimana Islam mengatur kondisi seperti ini. 

Jika Ramadhan datang tanpa ke masjid, tentu kesedihan umat saat menatap masjid dalam kesunyian tanpa jamaah di dalamnya. Sebagai seorang muslim jalan kesabaran merupakan keharusan. Jika kita bersabar dan ikhlas nenghadapi ketetapan Allah ini, maka  berbahagialah umat muslim di manapun. Semoga hal ini tidak membuat patah semangat umat muslim. Memupuk semangat dengan memantapkan diri beribadah dan berjamaah bersama keluarga juga menjadi jalan mendulang pahala. Berdakwah di masa pandemi pun bisa tetap dilakukan dengan cara online. Melalui fasilitas internet, media sosial dan yang semisalnya tetap membuat hangat Ramadhan dan meraih pahala sebanyak-banyaknya. 

Allah swt berfirman: 
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ

“Dan sesungguhnya, Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu…” (QS. Muhammad: 31)
Rasulullah saw bersabda, dalam hadis dibawah ini mengatakan bahwa sabar adalah sifat utama seorang muslim:

hadits tentang sabar.
وعن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الطهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان وسبحان الله والحمد لله تملآن أو تملأ ما بين السموات والأرض والصلاة نور والصدقة برهان والصبر ضياء والقرآن حجة لك أو عليك كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها رواه مسلم

Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman, dan kalimat alhamdulillah memenuhi timbangan. Kalimat subhanallah dan alhamdulillah memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, sabar itu cerminan, Al-Qur’an itu hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap manusia bekerja. Ada yang menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang menghancurkan dirinya.” (HR. Muslim).

Saat Islam hadir ditengah-tengah umat dengan Daulah Islamnya yaitu khilafah pasti akan mengatur momentum Ramadham dengan berbagai aktifitas yang mengandung pahala besar walau dihadapi dengan kondisi apapun. Ketika Ramadhan hadir pada masa Daulah Islam,  para khalifah melakukan berbagai aktifitas berpahala besar seperti pembebasan negeri-negeri terjajah, antara lain: 

* Perang Badar Al-Kubra (17 Ramadhan 2 H / 13 Maret 623 M).

* Pembebasan Kota Makkah (21 Ramadhan 8 H / 11 Januari 630 M).

* Bebasnya Mesir dan masuknya dakwah Islam di bawah pimpinan Amru bin Al-Ash (1 Ramadhan tahun 2 H / 26 Pebruari 624 M).

* Perang Tabuk (8 Ramadhan 9 H / 18 Desember 630 M).

* Bebasnya Baitul Maqdis, Al-Aqsha dan Palestina, dan  Yerusalem masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (13 Ramadhan 15 H / 18 Oktober 636 M).

* Kemenangan umat Islam atas dinasti Sasanid, penguasa Persia yang menandai berakhirnya kemaharajan Persia (23 Ramadhan 31 H / 625 M).

* Kesepakatan damai antara kelompok Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan (3 Ramadhan 37 H / 11 Pebruari 658 M).

* Bebasnya negeri Sind dari pasukan India di bawah pimpinan Muhammad bin Al-Qashim (6 Ramadhan 63 H / 14 Mei 682 M).

* Awal bebasnya negeri Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Tarif bin Malik Al-Barbari (1 Ramadhan 91 H / 710 M).

* Berdirinya Daulah Abbasiyah, Khilafah Mulkan kedua setelah Daulah Umayah (2 Ramadhan 132 H / 13 April 750 M).

* Bebasnya Byzantium dalam perang Amoria di bawah pimpinan langsung Khalifah Al-Mu’tashim billah (6 Ramadhan 223 H / 31 Juli 838 M).

* Berdirinya Daulah Abbasiyah II di Spanyol (12 Ramadhan 331 H / 9 Mei 943 M).

* Peletakan Batu Pertama Universitas Al-Azhar Mesir sebagai masjid dan  universitas (14 Ramadhan 359 H / 20 Juli 970 M)

Jika Daulah belum hadir di tengah umat, maka sebagai umat muslim tetap melakukan amalan, dakwah, dan mengharapkan ridho Allah di bulan Ramadhan dengan melalukam aktifitas  tambah mendekatkan diri pada AlQuran, berdoa di sepuluh hari malam lailatul qadar, merajut pembinaan terbaik pada keluarga, juga i'tikaf bersama keluarga walau tanpa ke masjid. 

Bagaimanapun kondisi umat muslin tak ada kata menyerah atau kecewa saat berhadapan dengan  kesulitan dan kesesangan. Karena ada masjid atau tanpa masjid Ramadhan akan tetap hadir bagi umat muslim. Mari sambut dengan suka cita berharap keridhoan Allah senantiasa diberikan pada kita. 

Wallahu a'lam bishawab.[]
banner zoom