-->

Kesyirikan Berbalut Cerita Rakyat

Oleh : Novianti (Praktisi Pendidikan) 

Penamabda.com - Sejak penayangannya tanggal 13 April 2020, program Belajar dari Rumah yang ditayangkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) kerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendapatkan kritikan dari umat islam terkait adanya dugaan kristenisasi. 

Kali ini, TVRI mendapat sorotan kembali terkait dengan tayangan cerita rakyat.  Salah satunya adalah cerita Putri Mandalika dari Propinsi Nusa Tengara Barat. 

Cerita ini  mengisahkan seorang putri cantik yang menarik banyak pangeran untuk meminangnya. Putri kebingungan menentukan pilihan karena para pangeran merasa paling berhak menjadi suami sang putri. Mereka akan menyerang jika salah satu dari mereka tidak dipilih sang putri. Singkat cerita sang putri memutuskan melebur ke lautan,  menghindari peperangan agar rakyat selamat. Lalu  muncullah cacing laut yang dipercaya perwujudan dari Putri Mandalika.

Hingga kini cerita tersebut masih melekat di kalangan masyarakat Lombok. Bahkan setiap bulan Februari digelar Festival Bau Nyali untuk mengingatkan masyarakat pada cerita Putri Mandalika.

Sekilas kelihatannya cerita ini biasa saja namun jika ditelisik terdapat nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam.

Pertama, cerita rakyat Putri Mandalika dapat menggerogoti keimanan karena memunculkan keyakinan bahwa cacing laut adalah jelmaan seorang putri.  Keyakinan yang  bisa menggelincirkan seorang muslim pada kesyirikan. Bahkan rakyat memiliki tradisi untuk merayakanya ketika cacing-cacing laut ini muncul.    

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar." (QS. Luqman ; 13).

Kedua, adanya adegan bunuh diri sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah.  Padahal Islam jelas mengkategorikan bunuh diri sebagai dosa besar.

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Rasulullah bersabda: 
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).

Maka cerita rakyat Putri Mandalika ini sangat berbahaya disampaikan pada  anak-anak terutama di tengah situasi pandemik sekarang.   

Jangan menganggap sepele pengaruh tayangan terhadap perkembangan anak.  Kejadian pembunuhan anak 5 th oleh pelajar SMP 15 tahun terinspirasi dari media visual yang ia lihat.

Dalam suasana yang penuh keprihatinan ini, seharusnya TVRI sebagai Lembaga  Penyiaran Publik milik pemerintah, menjalankan peranannya menguatkan ketahanan keluarga. Menyiarkan tayangan yang memahamkan konsep takdir, rizki, dan ajal. Menguatkan keyakinan Allah tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuan manusia. Bukan sebaliknya, menayangkan hal-hal yang justru bisa merusak  kekokohan iman.

Cerita Putri Mandalika hanyalah salah satu yang masih dilestarikan. Padahal cerita-cerita rakyat hanya legenda, sejarah kolektif yang tidak jelas dari mana sumbernya.

Perlu dikaji apakah ada manfaat bagi anak mengetahui aneka cerita rakyat terlebih jika di dalamnya mengandung kesyirikan.  Sebagai negara dengan mayoritas muslim, kita bisa mengambil dari Islam yang memiliki literatur kisah sebagai bahan cerita pada anak. Sepertiga kandungan Al Qur'an adalah kisah. Sirah Nabawiyyah tak pernah ada habisnya dilihat dari berbagai sisi. Kehidupan para shahabat dan shahabiyah yang luar biasa. Semuanya sumber bagi anak untuk mengambil teladan, motivasi, dan inspirasi. 

Sementara cerita rakyat penuh dengan khayal tak lebih sebagai bentuk pembodohan. Seringkali ia dihubungkan dengan tempat atau peristiwa yang kemudian menjadi tradisi.  

Ada indikasi bahwa dipeliharanya cerita rakyat  berhubungan dengan kepentingan tertentu. Cerita rakyat sering dihubungkan dengan suatu tempat untuk menjadi daya tarik  pariwisata. 

Pariwisata adalah andalan pemasukan devisa. Kekayaan alam Indonesia yang bagaikan zamrud khatulistiwa dijual jor-joran. Di tahun 2019, sektor ini menjadi penyumbang devisa terbesar senilai 20 miliar dollar AS dan meningkat dari tahun 2018 sebesar 19.29 miliar dollar AS.

Karena itu negara begitu ambisius menggarap sektor ini. Kementerian pariwisata merancang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata  yang mengelola obyek wisata terintegrasi antara wisata alam, wisata budaya hingga wisata MICE (Meeting, Incentives, Convention, and Exhibitions).

Cerita-cerita rakyat dijadikan nilai jual dengan membangkitkan tradisi-tradisi untuk menarik wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Sebagai negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalis, kesyirikan dikapitalisasi demi meraup keuntungan adalah sah-sah saja. Tak ada timbang halal-haram karena  memprioritaskan keuntungan.

Masyarakat diajak percaya dengan majunya pariwisata, rakyat akan sejahtera karena muncul pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai obyek wisata.

Tapi dengan datangnya musibah pandemik, sektor pariwisatalah yang paling pertama terkena dampak akibat penutupan akses ke berbagai tujuan.

Negara ini seharusnya tidak perlu mengandalkan sektor pariwisata untuk bisa menyejahterakan rakyatnya. Allah telah melimpahkan sumber daya alam yang cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan kita.  

Yang menjadi akar keterpurukan negara ini adalah karena pilihan salah terhadap sistem ekonomi untuk mengatur pengelolaan sumber daya alam maupun sumber daya lain. Sistem ekonomi kapitalistik dan liberal yang menjadi rujukan mengelola sektor ekonomi menyebabkan buruknya kondisi ekonomi bangsa.

Sektor pariwisata bukanlah "jualan" yang bisa diandalkan untuk menopang perekonomian negara. Tidak hanya itu,  budaya lokal yang membalut  kesyirikan bisa mengundang adzab Allah.

Bencana yang terjadi di Lombok, Palu, Pangandaran, semestinya menjadi bahan evaluasi terkait kebijakan pariwisata. Karenanya, pelestarian cerita-cerita rakyat  perlu dikaji. 

Masih perlukah anak-anak kita dijejali dengan cerita-cerita khayalan, penuh fantasi dan kebohongan yang merusak aqidah? 

Dalam ketidakberdayaan menghadapi Covid-19, seyogyanya kita menghiba pada Allah untuk segera mengangkat wabah ini dari Indonesia bahkan dari bumi Allah ini. Tapi mungkinkah Allah akan mengabulkan doa-doa kita sementara praktek-praktek kesyirikan masih dipelihara.

Dalam rangka taqarrub pada Allah,  hendaknya cerita-cerita rakyat yang mengandung kesyirikan sudah tidak diberikan ruang demi penjagaan dan pemurnian aqidah di tengah-tengah umat.