Emansipasi Wanita Dalam Balutan Islam

Oleh : Ummu Athifa 
(Ibu Rumah Tangga)

Penamabda.com - Hari Kartini telah berlalu, tetapi semangatnya masih menggema di Indonesia. Hampir setiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai momentum peringatan Hari Kartini. Banyak sekolah atau perusahaan akan mengenakan kebaya saat hari tersebut. Hanya saja tidak terjadi tahun ini, karena adanya pandemi yang belum berkunjung pergi. Iya Kartini, sosok wanita inspiratif untuk wanita di Indonesia. Idenya menyemangati kaum wanita untuk berani melakukan emansipasi. 

Emansipasi yang digaungkan Kartini diyakini dapat mengubah status kehidupan para wanita. Wanita dianggap terbelakang dari kaum pria. Makanya orang-orang feminisme sangat mendukung gerakan emansipasi wanita. Menurut KBBI, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. Maka dari itu, banyaknya gerakan feminisme bertujuan untuk mengeluarkan wanita dari jeratan kemiskinan, keterbelakangan dalam pendidikan, pekerjaan yang sulit didapat, dsb. Semuanya dilakukan agar mendapatkan posisi yang sama dengan kaum pria. 

Emansipasi merupakan tindak lanjut dari gagasan kesetaraan gender dalam bentuk tindakan nyata seorang wanita dalam kehidupannya. Alangkah lebih bijaksananya jika mengartikan dan memaknai emansipasi wanita sebagai salah satu bentuk kerjasama antara laki-laki dan wanita dalam menjalankan kehidupan. (kemenpppa.go.id/31Mar2019). 

RA Kartini sendiri menyadari untuk mengawali langkahnya melalui pendidikan. Ia bertekad untuk membangun sekolah wanita pertama di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang kala itu. Ia sadar bahwa latar belakang pendidikan yang kuat mampu mempelopori tercapainya emansipasi wanita Indonesia di masa depan. 
Hal yang dilakukan Kartini kala itu membuahkan hasil. Banyak wanita Indonesia yang memimpin perusahaan besar, menjadi atlet, ilmuan, hingga seorang diplomat handal. Makna ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tidak berhenti hanya sekedar kata-kata. (its.ac.id/21Apr2019). 

Tapi pada faktanya saat ini sebanyak 740 juta perempuan bekerja dalam bidang ekonomi informal dan kurang mendapatkan hak-hak dasar dan perlindungan, bahkan dibayar 16% lebih sedikit daripada pekerja pria. Sementara itu, perempuan yang berhasil mengenyam bangku pendidikan masih menghadapi berbagai penghalang untuk mendapatkan kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki.

Ternyata emansipasi yang digaungkan oleh Kartini bukanlah seperti itu. Karena yang terjadi adalah distorsi sejarah tentang Kartini. Memang pada awalnya Kartini begitu memuja Barat dengan menulis, “Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; Orang baik-baik meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi; dan mereka meniru yang tertinggi lagi yaitu orang Eropa.” (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899).

Atau pujiannya pada Belanda, “Bolehlah negeri Belanda merasa bahagia memiliki tenaga-tenaga ahli yang amat bersungguh-sungguh mencurahkan akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran bagi remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini, anak-anak Belanda lebih beruntung daripada anak-anak Jawa yang telah memiliki buku selain buku pelajaran sekolah.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902).

Memang, Kartini begitu gigihnya ingin mengubah paradigma para wanita dengan pendidikan. Tapi bukan berarti mengartikan untuk mendapatkan kedudukan yang sama dengan kaum pria. Porsi antara wanita dan pria tentu akan jauh berbeda. Karena sejatinya emansipasi hanyalah ide yang dibawakan Barat kepada wanita Muslim. 

Salah satunya, ide emansipasi yang dibawa oleh kaum feminisme bahwa perempuan tidak benar-benar membutuhkan laki-laki. Mereka dapat memenuhi semua kebutuhan anak-anak dan keluarga mereka tanpa seorang suami. Gagasan tentang tugas-tugas domestik perempuan dan membesarkan anak adalah menyia-nyiakan bakat mereka dan menahan perempuan dari pencapaian potensi di dalam masyarakat dan aspirasi sejati dalam kehidupan. 

Pandangan feminis pula menyatakan bahwasannya pekerjaan dan karier adalah hal yang memberi perempuan nilai, kesuksesan, dan pemberdayaan. Perannya sebagai pencari nafkah di atas peran sebagai ibu dan pengurus rumah tangga itu lebih berharga nilainya. Sungguh ironis ide tersebut, karena hingga detik ini banyak wanita yang berpikir bekerja lebih baik daripada mengurus anak dan rumah tangga. Inilah Kartini zaman sekarang yang dianggap berhasil mendedikasikan dirinya untuk negeri Indonesia. 

Berbeda dalam Islam, wanita dibolehkan bekerja sesuai dengan porsinya. Tugas utamanya seorang wanita tetap untuk mendidik anak-anaknya untuk mencetak generasi gemilang. Ini sesuai dengan keinginan RA Kartini diakhir hayatnya, saat Islam mulai lebih jauh dikenalnya. Kartini menulis kepada sahabatnya, “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal-hal indah dalam masyarakat Ibu terdapat banyak hal yang tidak bisa disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini Kepada Ny Abendanon, 27 Oktober 1902).

“Moga-moga kami mendapat rahmat dapat bekerja membuat umat agama lain memandang Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902). Kartini menegaskan apa yang sebenarnya menjadi cita-citanya dan justru disembunyikan, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidup. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap dalam melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri dalam tangannya; Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
(www.muslimahnews.com/21April2020). 

Emansipasi wanita dalam Islam artinya mendudukkan wanita setara sebagaimana laki-laki, namun tidak bertentangan dengan fitrah atau kodrat wanita. Adanya tujuan penciptaan manusia, proses penciptaan manusia, hakikat penciptaan manusia perlu dipahami oleh wanita saat ini. Allah SWT menciptakan wanita dan pria tentu memiliki tujuannya masing-masing. Ada beberapa hal yang sama berkaitan dengan beribadah, tetapi ada perbedaan dari sisi tanggung jawab. Hanya saja semuanya tentu semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT dengan taat terhadap hukum-hukumNya. Tidak ada yang unggul dan tidak ada yang lebih rendah. 

Wallahu’alam bi shawab 
banner zoom