Corona, Musibah atau Berkah?




Oleh : Novianti (Praktisi dan Pengamat Pendidikan) 

Penamabda.com- Gelombang disrupsi hebat yang mengguncang ketahanan negara sedang terjadi. Virus Corona telah meluluhlantakkan sendi-sendi negara yang tidak hanya mengakibatkan kematian tetapi ambruknya perekonomian.

Corona telah membuat perekonomian terhenti. Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyebut pandemi virus corona (COVID-19) menciptakan krisis ekonomi yang parah. Bahkan lebih buruk daripada krisis keuangan global 2008. (CNBC Indonesia, 4/4/2020)

Covid-19 telah menjadikan ekonomi dunia  takluk. Pertumbuhan ekonomi bisa turun menjadi yang terburuk sejak 2009.  Diperkirakan  pertumbuhan dunia di tahun 2020 ini akan berkisar pada angka 2,4%, turun dari angka 2,9% pada bulan November. Namun bila wabah ini menjadi lebih intensif lagi, pertumbuhan bisa hanya tinggal 1,5%, hampir separuh dari tahun lalu. 

Banyak negara sudah limbung dan sudah ada kurang lebih 90 negara telah mengajukan bantuan keuangan ke IMF.  Bantuan diprioritaskan untuk negara-negara berkembang padahal negara-negara maju pun terpukul. Dan apesmya, negara Indonesia baru naik level menjadi negara maju. 

Sebagai negara maju, salah satu konsekuensinya akan kehilangan fasilitas pembiayaan dari eksternal dengan bunga rendah. Padahal dengan cadangan devisa yang minim, Indonesia akan mengajukan kembali pinjaman untuk mengatasi corona.

Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia makin menurun karena turunnya daya beli masyarakat. Pemasukan sektor pariwisata yang selama ini jadi unggulan tak bisa diharapkan. PHK besar-besaran karena banyak perusahaan bangkrut. Indonesia  menghadapi risiko peningkatan kemiskinan. 

Tapi mengkambinghitamkan corona sebagai penyebab keterpurukan hanyalah menutupi sengkarutnya kekuasaan. Justru corona telah membukakan wajah asli negara kita. Corona adalah wabah yang memperburuk keadaan yang sudah buruk..

Tata kelola negara dibangun di atas fondasi yang rapuh. Hutang menumpuk untuk membiayai pembangunan  sudah mencapai Rp. 5.569 Triliun,  pangan tergantung pada import, kekayaan alam  dieksploitasi untuk pariwisata, keuangan berbasis riba, investasi diserahkan ke asing dalam pengelolaan kekayaan alam dan pembangunan infratruktur.

Padahal selama ini para pejabat mengatakan Indonesia dalam keadaan baik-baik saja. Rskyat diyakinkan dengan  data jumlah orang miskin, tingkat pertumbuhan, nilai rupiah, nilai indeks saham, nilai investasi yang masuk, jumlah wisatawan manca negara. Padahal itu semua permainan angka  yang merupakan.fakta semu atau kenyataan fatamorgana.

Pemerintah seharusnya melakukan evaluasi terhadap pengelolaan negara selama ini. Mengadopsi sistem kapitalis  benar-benar membuat negara dalam posisi yang sangat rentan oleh goyangan. Negara memiliki ketergantungan besar pada negara asing. Negara tidak mandiri. Sehingga dalam situasi genting seperti sekarang, negara betul-betul sempoyongan.

Kekayaan milik negara sudah dikuasai asing. Cicilan hutang terus berjalan. Dan rakyat menjerit minta pertolongan.

Siaga Bencana Negara Dalam Islam

Dalam Islam, negara harus independen, tidak tergantung pada asing. Penguasa harus mengamalkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla yang melarang memberikan jalan apa pun bagi negara asing untuk menguasai orang-orang beriman dalam firman-Nya:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 141)

Negara harus memiliki kekuatan ekonomi yang  independen untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Negara harus  berswasembada penuh. Pada barang yang bersifat pelengkap (bukan vital), boleh impor, namun tetap dijaga untuk tidak  tergantung pada negara lain.

Pengembangan industri, pertanian, perdagangan dan jasa sebagai penopang ekonomi. Sektor pariwisata seperti keindahan alam tidak diperhitungkan sebagai pemasukan negara melainkan layanan yang bisa dinikmati warganya dan dalam rangka taqarrub pada Allah.  Dengan cara ini, saat terjadi penurunan kunjungan di tempat wisata, tidak akan mengganggu roda perekonomian.

Dengan kemandirian, dalam menghadapi musibah yang pastinya akan ada masanya pada sebuah negara, negara akan sigap melakukan kebijakan untuk menghadapinya.

1) Agar penyakit tidak meluas, wilayah yang menjadi pusat penyakit harus diisolasi. Suplai kebutuhan makanan, minuman, alat kesehatan pribadi (masker, hand sanitizer, dll), bahan untuk memperkuat imunitas tubuh (baik herbal maupun kimiawi), layanan kesehatan (rumah sakit, tenaga medis, obat, alat kesehatan, dll), layanan pengurusan jenazah dll menjadi kewajiban negara dan harus  tersedia secara cukup. 

2. Diluar wilayah pusat wabah, negara mengedukasi masyarakat terkait wabah dan pencegahannya. Tempat-tempat umum seperti playground, halte, stasiun, terminal, bandara, sekolah, toilet umum, dll disterilisasi. Pendeksian suhu tubuh di semua titik akses masuk wilayah untuk mencegah keluar masuk orang yang berpotensi terkena wabah 

Semua aktivitas ini dibiayai negara dari kas baitulmal. Jika dana tidak mencukupi,  maka kebutuhannya dibiayai dari harta sumbangan kaum muslim (sumbangan sukarela atau pajak).

3) Menindaktegas pelaku penimbunan  pada barang apa pun. Baik sembako, masker, hand sanitizer, dll. Jika terbukti melanggar, pelaku akan diberi sanksi.

4) Membiayai riset untuk menemukan obat dari wabah yang sedang melanda. Negara membuka kesempatan bagi warga negara yang kaya untuk sedekah dan wakaf bagi penelitian ini.

Demikianlah gambaran kebijakan dalam Islam jika negara menghadapi wabah. Dengan kebijakan seperti ini, rantai penyebaran virus diputus dan  mengoptimalkan upaya penyembuhan pasien. Sehingga wabah seperti penyakit corona sekarang ini, bisa diatasi sebelum menyebar ke seluruh negara bahkan dunia.

Kebijakan tersebut dilandaskan pada petunjuk dari Dzat Maha Pencipta yaitu Syariah Islam. Aturan yang Allah sudah jamin bisa menyelesaikan seluruh persoalan.

Jadi, akar komplikasi negara sekarang bukanlah corona, sejatinya pada penerapan hukum kapitalis buatan manusia. Selama ini negara menutup telinga dari nasehat atau kritikan akan dzalimnya penerapan sistem kapitalis. Malah yang menyerukan Syariah Islam dianggap sebagai ancaman.  

Di tengah wabah corona yang belum juga kunjung usai. Kaum muslimin dan para penguasa seharusnya tidak hanya melihat wabah sebagai musibah tapi akan bisa jadi berkah. Saatnya Syariah Islam dikembalikan pada posisi yang mulia, sumber aturan pengelolaan negara.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41) [PM] 
banner zoom